Jakarta, sebuah megapolitan yang tak pernah tidur, kembali dihadapkan pada tantangan klasik: genangan air dan banjir. Pada Ahad dini hari, 18 Januari 2026, hujan lebat yang mengguyur ibu kota tanpa henti telah memicu serangkaian insiden banjir di berbagai wilayah krusial. Kondisi ini secara langsung mengganggu urat nadi mobilitas kota, memaksa PT Transportasi Jakarta atau Transjakarta, sebagai penyedia layanan transportasi publik utama, untuk menerapkan penyesuaian operasional rute bus secara signifikan. Hujan yang dimulai sejak dini hari tersebut tidak hanya menciptakan genangan di jalan-jalan arteri dan permukiman, tetapi juga mengancam keselamatan dan kenyamanan jutaan warga Jakarta yang bergantung pada transportasi umum untuk aktivitas harian mereka.
Menyikapi situasi darurat ini, Kepala Departemen Humas & CSR Transjakarta, Ayu Wardhani, menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Dalam keterangan tertulisnya pada Ahad, Ayu Wardhani menegaskan bahwa langkah-langkah penyesuaian operasional ini merupakan respons proaktif terhadap “cuaca ekstrem dan genangan di beberapa titik” yang membahayakan. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen Transjakarta terhadap keselamatan penumpang dan kru, serta upaya mitigasi risiko di tengah kondisi alam yang tidak menentu. Cuaca ekstrem yang dimaksud merujuk pada intensitas curah hujan yang melampaui kapasitas drainase kota, sebuah fenomena yang kerap terjadi di musim penghujan Jakarta, mengakibatkan genangan yang dapat mencapai ketinggian membahayakan bagi kendaraan dan pejalan kaki.
Data terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, yang dirilis hingga pukul 07.00 WIB pada hari yang sama, melukiskan gambaran yang lebih detail mengenai skala dampak banjir. Tercatat, sebanyak 16 rukun tetangga (RT) dan 10 ruas jalan strategis di Jakarta telah terdampak genangan. Angka ini menunjukkan bahwa dampak banjir tidak hanya sporadis, melainkan menyebar di berbagai titik vital yang mempengaruhi aksesibilitas dan konektivitas antar wilayah. Ke-16 RT yang terdampak ini kemungkinan besar berada di area-area langganan banjir atau di lokasi yang memiliki sistem drainase yang kurang memadai, sementara 10 ruas jalan yang terendam merupakan jalur-jalur utama yang sangat penting bagi pergerakan lalu lintas dan transportasi umum di ibu kota.
Transjakarta secara proaktif mengimbau seluruh pelanggannya untuk senantiasa menyesuaikan kembali jadwal dan rute perjalanan mereka. Imbauan ini bukan sekadar saran, melainkan sebuah kebutuhan mendesak mengingat dinamika perubahan kondisi di lapangan. Untuk memastikan masyarakat tetap terinformasi, Transjakarta menyediakan pemantauan kondisi layanan secara real-time melalui aplikasi resmi “TJ: Transjakarta” serta akun-akun media sosial resmi mereka. Platform-platform ini menjadi kanal vital bagi penumpang untuk mendapatkan pembaruan terkini mengenai rute yang beroperasi, rute yang dialihkan, atau rute yang dihentikan sementara. Ayu Wardhani menambahkan bahwa penyesuaian rute ini bersifat sementara dan akan terus berlaku “hingga kondisi lintasan memungkinkan untuk dilalui kembali secara normal,” menekankan prinsip kehati-hatian dan prioritas keselamatan sebagai landasan utama setiap keputusan operasional.
Strategi Adaptasi Layanan Transjakarta di Tengah Bencana
Dampak genangan air yang meluas telah memaksa Transjakarta untuk menerapkan tiga kategori utama penyesuaian layanan: penghentian operasional, perpendekan rute, dan pengalihan rute. Setiap kategori ini memiliki implikasi yang berbeda bagi jutaan penumpang yang mengandalkan Transjakarta setiap hari. Penyesuaian ini merupakan langkah taktis untuk meminimalisir risiko kecelakaan, kerusakan armada, dan memastikan keselamatan seluruh pengguna jalan. Detail penyesuaian ini mencerminkan kompleksitas upaya manajemen transportasi di tengah krisis hidrometeorologi yang kerap melanda Jakarta.
Dampak Mendalam: Rincian Penyesuaian Rute yang Krusial
Berikut adalah rincian penyesuaian layanan Transjakarta sebagai dampak langsung dari rute yang terdampak genangan air:
- Berhenti beroperasi atau belum beroperasi:
Kategori ini menunjukkan bahwa rute-rute berikut sama sekali tidak dapat dilalui karena genangan yang terlalu tinggi atau kondisi jalan yang sangat berbahaya. Penghentian operasional ini berdampak signifikan pada konektivitas di area-area yang dilayani oleh rute-rute tersebut, memaksa penumpang untuk mencari alternatif transportasi lain yang mungkin tidak selalu tersedia atau lebih mahal.
- Bus Rapid Transit (BRT): Koridor 2 (Pulogadung – Harmoni), 2A (Pulogadung – Rawa Buaya), 7F (Kampung Rambutan – Harmoni), 12 (Penjaringan – Sunter Kelapa Gading), dan 14 (Senen – JIS). Penghentian koridor-koridor utama ini mengindikasikan bahwa jalur-jalur khusus BRT pun tidak luput dari dampak banjir, mengganggu mobilitas di jantung kota dan area penyangga.
- Mikrotrans: Sebanyak 33 rute Mikrotrans dihentikan operasionalnya, meliputi JAK.01, JAK.05, JAK.10, JAK.110A, JAK.112, JAK.113, JAK.115, JAK.117, JAK.118, JAK.120, JAK.13, JAK.15, JAK.24, JAK.27, JAK.29, JAK.33, JAK.52, JAK.59, JAK.60, JAK.61, JAK.76, JAK.77, JAK.78A, JAK.78B, JAK.79, JAK.80, JAK.87. Penghentian layanan Mikrotrans ini sangat krusial karena layanan ini berfungsi sebagai feeder atau penghubung terakhir ke permukiman warga, sehingga dampaknya langsung terasa pada aksesibilitas warga di tingkat komunitas.
- Non-BRT/Rusun: Rute 12A, 12B, 12C, 12P, 14A, 14B, 1A, 1W, 2B, 3B, 3C, 3D, 3E, 9F juga dihentikan. Rute-rute ini melayani area residensial dan non-jalur BRT, menunjukkan bahwa masalah genangan tersebar luas di berbagai jenis jalan.
- Perpendekan Rute:
Perpendekan rute dilakukan ketika sebagian jalur tidak dapat dilalui, namun sisa rute masih memungkinkan untuk beroperasi. Ini adalah upaya untuk tetap memberikan layanan semaksimal mungkin meskipun dengan keterbatasan. Penumpang yang terdampak perlu mencari alternatif untuk melanjutkan perjalanan dari titik pemberhentian terakhir yang baru.
- BRT:
- Koridor 10 (Tanjung Priok – PGC arah Cempaka Putih): Rute ini dipersingkat, menandakan adanya genangan di sepanjang sebagian jalur yang menghubungkan Jakarta Utara dan Jakarta Timur.
- Koridor 5 (Kampung Melayu – Jembatan Merah): Perpendekan rute ini mengindikasikan masalah di area sentral Jakarta, membatasi akses ke pusat-pusat kegiatan.
- Koridor 9: Perpendekan rute ini secara spesifik disebutkan “Karena genangan di Kali Grogol & Jembatan Tiga”. Ini menyoroti titik-titik rawan banjir yang menjadi hambatan utama, memaksa bus untuk berputar balik sebelum mencapai tujuan akhir. Genangan di sekitar Kali Grogol, khususnya, seringkali menjadi momok bagi lalu lintas di Jakarta Barat.
- Non-BRT/Rusun: Rute 2H (Sampai Bus Stop Honda Letjen Suprapto) juga mengalami perpendekan, yang berarti sebagian rute tidak dapat dilayani.
- BRT:
- Pengalihan Rute:
Pengalihan rute dilakukan ketika jalur utama tidak dapat dilalui, namun ada alternatif jalan lain yang memungkinkan bus untuk tetap mencapai tujuan, meskipun dengan rute yang lebih panjang atau berbeda. Ini meminimalkan penghentian total tetapi dapat menyebabkan waktu tempuh yang lebih lama dan potensi kebingungan bagi penumpang.
- Mikrotrans:
- Mikrotrans:


















