Perlintasan darat Rafah, satu-satunya akses vital yang menghubungkan Jalur Gaza dengan dunia luar melalui Mesir, akhirnya membuka pintunya kembali pada hari Senin, menandai momen krusial setelah lebih dari satu setengah tahun penutupan total. Pembukaan kembali ini, yang berlangsung secara terbatas dan bersifat uji coba, terjadi di tengah harapan besar ribuan warga Palestina yang terjebak di wilayah yang hancur akibat konflik, baik yang membutuhkan evakuasi medis mendesak maupun yang ingin kembali ke rumah. Keputusan ini diambil pasca-gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, sebuah langkah yang diharapkan dapat meringankan penderitaan kemanusiaan yang kian memburuk.
Keputusan untuk membuka kembali perlintasan Rafah secara dua arah, meskipun dengan akses yang masih sangat terbatas, disambut dengan kelegaan oleh banyak pihak. Sumber keamanan di perlintasan tersebut mengonfirmasi adanya aktivitas awal, namun rincian spesifik mengenai jumlah warga Palestina yang diizinkan melintas dari Gaza ke Mesir maupun sebaliknya masih belum diungkapkan secara gamblang. Situasi ini menimbulkan pertanyaan krusial tentang kapasitas perlintasan untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang ada, terutama bagi ribuan pasien yang membutuhkan perawatan medis di luar Gaza.
Harapan Baru bagi Pasien yang Membutuhkan Perawatan Mendesak
Menurut data dari pejabat kesehatan Gaza, diperkirakan sekitar 20.000 anak-anak dan orang dewasa Palestina menghadapi kondisi kesehatan kritis dan sangat membutuhkan evakuasi medis segera dari wilayah yang porak-poranda tersebut. Mereka sangat berharap perlintasan Rafah dapat menjadi jalan keluar untuk mendapatkan perawatan yang tidak tersedia di Gaza. Rumah sakit-rumah sakit di Sinai Utara Mesir telah dipersiapkan sebagai tujuan utama untuk menerima pasien yang terluka dan sakit dari Jalur Gaza, sebagaimana dilaporkan oleh Al Qahera News TV yang memiliki afiliasi dengan Mesir. Dr. Mohammed Abu Salmiya, direktur Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza, menyuarakan keprihatinan mendalam mengenai keterbatasan jumlah pasien yang diizinkan keluar setiap harinya. “Pasien tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ratusan orang harus diizinkan untuk dievakuasi setiap hari,” tegas Dr. Abu Salmiya kepada juru kamera lepas CBC News, Mohamed El Saife, pada hari Senin. Ia menambahkan, “Beberapa pasien yang membutuhkan operasi jantung terbuka atau menderita kanker yang membutuhkan perawatan lebih mendesak… ada bahaya nyata jika menunggu.” Situasi ini menggarisbawahi urgensi untuk memperluas kapasitas evakuasi dan memastikan akses yang lebih luas bagi mereka yang berjuang melawan penyakit mematikan.
Tantangan Logistik dan Pemeriksaan Keamanan
Proses evakuasi pasien dari Gaza menuju Mesir melalui perlintasan Rafah tidaklah mudah. Pada hari Senin, lima pasien Palestina yang dijadwalkan untuk mendapatkan perawatan medis di luar Gaza, masing-masing didampingi oleh dua kerabat, diantar ke kompleks perlintasan dari sisi Gaza dengan kendaraan yang dikawal oleh personel Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, pejabat Palestina menyoroti adanya keterlambatan yang signifikan, yang mereka salahkan pada pemeriksaan keamanan yang diberlakukan oleh pihak Israel. Militer Israel sendiri belum memberikan komentar resmi terkait tudingan tersebut. “Israel melarang mereka pergi dan tidak mengizinkan peralatan medis yang diperlukan untuk merawat mereka masuk,” ujar Dr. Abu Salmiya, menyoroti hambatan birokrasi dan logistik yang mempersulit upaya penyelamatan nyawa. Kondisi ini semakin memperburuk situasi bagi pasien yang kondisinya semakin memburuk akibat penundaan. Randa Abu Mustafa, seorang ibu yang putranya yang berusia 17 tahun, Mohamed, menunggu evakuasi, mengungkapkan kecemasannya. Mohamed mengalami kebutaan akibat tembakan di mata tahun lalu saat bergabung dengan warga Palestina yang putus asa mencari makanan dari truk bantuan. “Kami telah menunggu penyeberangan dibuka,” ujarnya kepada CBC News, dengan nada penuh kekhawatiran. “Saya takut pergi dan tidak dapat kembali karena saya memiliki anak-anak kecil yang menunggu di sini,” tambahnya kepada El Saife.
Secara keseluruhan, sekitar 150 rumah sakit di seluruh Mesir telah menyatakan kesiapan mereka untuk menerima pasien Palestina yang dievakuasi dari Gaza melalui Rafah. Selain itu, Bulan Sabit Merah Mesir telah mendirikan “zona aman” di sisi Mesir dari perlintasan untuk memberikan dukungan bagi para pengungsi yang dievakuasi. Moustafa Abdel Hadi, seorang pria berusia 32 tahun yang menjalani dialisis ginjal di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Gaza tengah, menggambarkan perlintasan ini sebagai “jalur kehidupan bagi Gaza, jalur kehidupan bagi kami, para pasien.” Ia adalah salah satu dari ribuan pasien yang berharap dapat mendapatkan perawatan di luar negeri agar dapat “kembali menjalani kehidupan normal kami.”
Perlintasan Rafah: Sejarah dan Konteks Politik
Sejak Oktober 2023, Israel telah memberlakukan larangan ketat terhadap pengiriman pasien ke rumah sakit di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki Israel. Kebijakan ini secara efektif memutus jalur utama bagi warga Palestina yang membutuhkan perawatan medis yang tidak dapat diakses di Gaza. Israel menyatakan bahwa mereka dan Mesir akan melakukan pemeriksaan terhadap setiap individu yang keluar dan masuk melalui perlintasan Rafah. Proses pemeriksaan ini akan diawasi oleh agen patroli perbatasan Uni Eropa, dengan kehadiran terbatas dari personel Palestina. Diharapkan, jumlah pelancong akan meningkat seiring waktu jika sistem ini terbukti berjalan efektif. Namun, kekhawatiran tetap ada bahwa Israel dapat memanfaatkan perlintasan ini untuk mengusir warga Palestina dari wilayah tersebut. Mesir berulang kali menegaskan bahwa perlintasan tersebut harus dibuka untuk memungkinkan warga Palestina masuk dan keluar Gaza. Secara historis, Israel dan Mesir memang memiliki peran dalam memeriksa warga Palestina yang mengajukan permohonan untuk menyeberang.
Perlintasan Rafah sendiri memiliki sejarah yang kompleks. Pasukan Israel merebut kendali atas perlintasan ini pada Mei 2024, dengan alasan upaya memerangi penyelundupan senjata untuk kelompok militan Hamas. Perlintasan ini sempat dibuka untuk evakuasi pasien medis selama periode gencatan senjata pada awal tahun 2025. Israel sebelumnya menolak untuk membuka kembali perlintasan Rafah, namun penemuan jenazah sandera terakhir di Gaza tampaknya membuka jalan bagi kelanjutan proses negosiasi dan pembukaan kembali perlintasan ini.
Kekerasan Berlanjut dan Dampak Kemanusiaan
Di tengah berita pembukaan kembali perlintasan Rafah, kekerasan di wilayah pesisir Gaza dilaporkan terus berlanjut. Pejabat rumah sakit Gaza pada hari Senin melaporkan bahwa sebuah kapal angkatan laut Israel menembaki kamp tenda yang menampung para pengungsi di pantai kota Khan Younis di selatan Gaza. Insiden tragis ini dilaporkan menewaskan seorang anak laki-laki Palestina berusia tiga tahun. Militer Israel menyatakan bahwa mereka sedang melakukan investigasi terhadap insiden tersebut. Menurut Rumah Sakit Nasser, yang menerima jenazah anak tersebut, serangan itu terjadi di Muwasi, sebuah area yang dipenuhi tenda-tenda pengungsian di pesisir Jalur Gaza.
Data dari Kementerian Kesehatan Jalur Gaza menunjukkan angka korban jiwa yang mengerikan. Lebih dari 520 warga Palestina dilaporkan tewas akibat tembakan Israel sejak gencatan senjata 10 Oktober. Korban jiwa yang terjadi sejak gencatan senjata, yang menurut UNICEF termasuk lebih dari 100 anak-anak, merupakan bagian dari lebih dari 71.700 warga Palestina yang tewas sejak dimulainya serangan Israel pada Oktober 2023. Mayoritas korban tewas adalah perempuan dan anak-anak, sebuah fakta yang juga diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Situasi kemanusiaan yang memburuk ini semakin menegaskan pentingnya pembukaan perlintasan Rafah sebagai jalur penyelamat bagi banyak orang.
Fase Kedua Gencatan Senjata dan Tantangan Rekonstruksi
Pembukaan kembali perlintasan Rafah ini juga menjadi latar belakang bagi negosiasi yang lebih kompleks terkait fase kedua kesepakatan gencatan senjata. Kesepakatan ini secara garis besar menyerukan pembentukan komite Palestina baru untuk memerintah Gaza, penarikan mundur pasukan Israel dari wilayah tersebut, pengerahan pasukan keamanan internasional, pelucutan senjata Hamas, dan langkah-langkah konkret untuk memulai proses rekonstruksi. Namun, realisasi dari poin-poin tersebut masih menghadapi berbagai rintangan, baik dari sisi politik maupun keamanan. Keberhasilan pembukaan perlintasan Rafah, meskipun terbatas, dapat menjadi sinyal positif awal dalam upaya pemulihan dan pemenuhan kebutuhan kemanusiaan yang mendesak di Gaza.

















