Insiden memilukan yang mencederai sportivitas sepak bola Italia terjadi saat penjaga gawang andalan Cremonese keturunan Indonesia, Emil Audero, menjadi sasaran pelemparan flare oleh oknum suporter Inter Milan dalam lanjutan kompetisi Serie A musim 2025/2026. Kejadian eksplosif yang berlangsung di tengah pertandingan sengit tersebut tidak hanya membuat Audero tersungkur di lapangan akibat ledakan material piroteknik, tetapi juga memicu gelombang kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk petinggi klub dan rekan sejawat, serta mengancam Inter Milan dengan sanksi disiplin yang sangat berat. Peristiwa yang terjadi di Stadion Giovanni Zini ini bermula dari tribun utara yang ditempati oleh pendukung tim tamu, yang secara ceroboh melemparkan benda berbahaya ke arah area gawang, hingga memaksa wasit menghentikan jalannya pertandingan demi keselamatan pemain.
Kronologi Mencekam di Menit ke-48 dan Dampak Psikologis bagi Emil Audero
Pertandingan yang awalnya berjalan dengan intensitas tinggi antara Cremonese melawan Inter Milan seketika berubah menjadi suasana mencekam tepat pada menit ke-48. Saat itu, fokus para pemain dan penonton teralihkan ketika sebuah flare atau suar menyala dilemparkan dari arah tribun utara, lokasi yang secara tradisional ditempati oleh kelompok suporter fanatik Inter Milan, Curva Nord. Benda tersebut mendarat sangat dekat dengan posisi berdiri Emil Audero, kiper berusia 29 tahun yang juga merupakan mantan pemain Inter Milan. Tak lama setelah mendarat, flare tersebut meledak dengan suara yang cukup keras, melepaskan asap tebal dan kilatan cahaya yang menyilaukan mata.
Efek dari ledakan tersebut membuat Emil Audero seketika jatuh tersungkur di atas rumput lapangan. Tim medis segera berhamburan masuk ke dalam lapangan untuk memberikan pertolongan pertama dan memastikan tidak ada luka bakar serius atau gangguan pendengaran permanen akibat ledakan tersebut. Pertandingan terpaksa dihentikan selama beberapa menit untuk menstabilkan kondisi Audero dan membersihkan sisa-sisa material berbahaya dari area kotak penalti. Meskipun pada akhirnya Audero mampu bangkit dan menunjukkan profesionalisme luar biasa dengan melanjutkan pertandingan hingga usai, dampak psikologis dari serangan tersebut menjadi perhatian utama. Sebagai pemain yang pernah berseragam Nerazzurri, tindakan oknum pendukung bekas klubnya sendiri tentu memberikan luka emosional yang mendalam bagi sang penjaga gawang.
Reaksi Keras Lautaro Martinez dan Komitmen Manajemen Inter Milan
Kejadian memalukan ini tidak luput dari perhatian kapten sekaligus ikon Inter Milan, Lautaro Martinez. Penyerang asal Argentina tersebut secara terbuka menyatakan kemarahannya atas perilaku oknum suporter yang dianggap telah melampaui batas kewajaran dalam mendukung tim. Lautaro menegaskan bahwa keselamatan pemain di atas lapangan adalah prioritas yang tidak bisa ditawar oleh alasan apa pun. Menurutnya, tindakan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai sportivitas yang dijunjung tinggi oleh klub sebesar Inter Milan.
“Hal-hal seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi di dalam stadion mana pun. Kita semua di sini adalah pemain sepak bola, dan si pelaku telah secara nyata membahayakan keselamatan nyawa seseorang. Permintaan maaf yang tulus harus diberikan kepada Audero, seorang pemain pemberani yang tetap berdiri tegak, serta kepada seluruh pendukung Cremonese yang hadir,” tegas Lautaro Martinez dalam sesi wawancara pascapertandingan sebagaimana dikutip dari CBS Sport. Pernyataan sang kapten ini menjadi sinyal kuat bahwa internal tim Inter Milan sendiri merasa sangat terganggu dengan perilaku negatif oknum Interisti tersebut.
Senada dengan Lautaro, Presiden Inter Milan, Giuseppe Marotta, juga memberikan pernyataan resmi yang sangat keras. Marotta menekankan bahwa manajemen klub tidak akan mentoleransi tindakan anarkis yang merusak citra sepak bola Italia dan klub secara khusus. Ia memastikan bahwa pihak klub akan bekerja sama sepenuhnya dengan kepolisian dan otoritas keamanan stadion untuk mengidentifikasi pelaku melalui rekaman CCTV. Marotta secara tegas mengutuk tindakan tersebut dan memuji ketegaran Emil Audero dalam menghadapi situasi yang sangat tidak kondusif tersebut.
“Sepak bola harus sepenuhnya terlepas dari insiden semacam ini. Kami mengutuknya sekeras-kerasnya, dan kami juga berterima kasih kepada Audero atas profesionalismenya yang luar biasa. Pihak berwenang akan mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab; kecaman dari pihak Inter atas apa yang terjadi adalah tegas dan tanpa kompromi!” ujar Marotta dengan nada penuh penekanan.
Ancaman Sanksi Berat dan Nasib Pelaku Pelemparan
Dampak dari insiden ini diperkirakan akan sangat merugikan Inter Milan dari sisi regulasi kompetisi. Berdasarkan laporan mendalam dari La Gazzetta dello Sport, otoritas Liga Italia (Lega Serie A) tengah mengkaji berbagai potensi sanksi yang bisa dijatuhkan kepada klub asuhan Simone Inzaghi tersebut. Beberapa kemungkinan hukuman yang menghantui Nerazzurri meliputi:
- Denda Finansial yang Besar: Inter Milan terancam sanksi denda ratusan ribu Euro sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kegagalan mengontrol perilaku suporternya.
- Penutupan Tribun Curva Nord: Ada kemungkinan besar tribun utara di Stadion Giuseppe Meazza akan ditutup atau dilarang untuk diisi penonton dalam beberapa pertandingan kandang mendatang.
- Larangan Laga Tandang: Suporter Inter Milan mungkin akan dilarang menghadiri beberapa pertandingan tandang sebagai bentuk hukuman disiplin.
Di sisi lain, perkembangan terbaru mengenai identitas pelaku menunjukkan langkah tegas dari komunitas suporter. Pelaku pelemparan flare tersebut dikabarkan telah berhasil diidentifikasi dan secara resmi dikeluarkan dari keanggotaan kelompok suporter resmi Inter Milan. Tindakan ini diambil sebagai bentuk pembersihan internal agar kejadian serupa tidak terulang kembali dan tidak merusak reputasi ribuan pendukung lainnya yang selalu bertindak tertib. Langkah tegas ini diharapkan menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang mencoba membawa tindakan berbahaya ke dalam arena olahraga.
Bagi Emil Audero, kejadian ini menjadi ujian mental di tengah performa gemilangnya bersama Cremonese. Sebagai pemain yang kini menjadi andalan dan terus dipantau perkembangannya oleh publik sepak bola Indonesia untuk potensi naturalisasi, ketenangan Audero dalam menghadapi teror flare ini membuktikan kematangan mentalnya sebagai pemain level elit. Meskipun laga berakhir dengan kemenangan 2-0 untuk Inter Milan, noda hitam akibat insiden flare ini tetap menjadi catatan kelam yang menutupi hasil pertandingan tersebut di mata publik internasional.

















