Dalam suasana duka yang mendalam, keluarga besar Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan para tokoh bangsa berduka atas berpulangnya Meriyati Roeslani, yang akrab disapa Eyang Meri, istri dari almarhum Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso, mantan Kapolri yang dikenal dengan integritasnya. Eyang Meri menghembuskan napas terakhirnya pada usia senja yang monumental, 100 tahun, pada Selasa, 3 Februari 2026, pukul 13.24 WIB di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, setelah berjuang melawan sakit. Kepergian sosok yang dihormati ini tidak hanya menyisakan kesedihan bagi keluarga, tetapi juga meninggalkan jejak inspirasi dan teladan bagi institusi Polri dan masyarakat luas. Pernyataan resmi dari keluarga memohonkan maaf atas segala khilaf almarhumah semasa hidupnya, sembari mendoakan agar amal ibadahnya diterima dan ditempatkan di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Perjalanan Hidup Meriyati Hoegeng: Dari Jogja Hingga Pelita Kehidupan
Meriyati Roeslani, yang lahir di Yogyakarta dan kemudian dikenal sebagai Eyang Meri, telah menjalani kehidupan yang panjang dan penuh makna, mencapai usia 100 tahun sebelum berpulang. Kepergiannya pada Selasa, 3 Februari 2026, pukul 13.25 WIB di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, menandai akhir dari perjalanan seorang perempuan tangguh yang mendampingi salah satu tokoh kepolisian paling dihormati di Indonesia. Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Brigjen Pol Prima Heru Yulihartono, mengonfirmasi bahwa Eyang Meri meninggal dunia karena sakit, sebuah kondisi yang umum dialami di usia senja, namun tidak mengurangi kedalaman duka yang dirasakan.
Bagi institusi Polri, Meriyati Hoegeng bukan sekadar istri seorang mantan Kapolri, melainkan sebuah figur yang memiliki peran penting dalam sejarah. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dalam pernyataannya, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam, menyebut Eyang Meri sebagai “pelita keteladanan” bagi generasi penerus Polri. Beliau tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan institusi, tetapi juga memberikan inspirasi nyata bagi para anggota Polri dan Bhayangkari untuk terus menjaga marwah dan integritas. Kehadirannya, bahkan setelah Jenderal Hoegeng Iman Santoso tiada, tetap memberikan panduan moral dan etika yang tak ternilai.
Duka Cita dari Tokoh Bangsa: Megawati, Tito, dan Lingkaran Integritas
Berita wafatnya Eyang Meri segera menyebar dan memicu gelombang duka cita dari berbagai kalangan, termasuk tokoh-tokoh penting di pemerintahan dan politik. Presiden ke-5 RI, yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan kesedihan yang mendalam dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Megawati memiliki ikatan emosional yang kuat dengan keluarga Hoegeng, bahkan menyapa almarhumah dengan panggilan “Tante Meri”. Kedekatan ini terjalin sejak lama, bahkan melalui putri almarhumah, Reni, yang merupakan teman sekolah Megawati di Perguruan Cikini, Jakarta. Megawati mengenang Eyang Meri sebagai sosok istri dan ibu yang sangat baik, hangat, dan memiliki jiwa seni yang tinggi, terbukti dari keaktifannya bersama Jenderal Hoegeng dalam grup band Hawaiian Senior. Kenangan akan kunjungan ke rumah keluarga Hoegeng saat mereka berlatih musik, menurut Megawati, menunjukkan sisi sederhana dan membumi dari keluarga tersebut.
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, yang juga merupakan purnawirawan Polri, turut berduka cita dan melayat langsung ke rumah duka di Pesona Khayangan State, Depok, Jawa Barat. Bersama Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, Tito menyampaikan rasa belasungkawa atas nama pribadi, keluarga, dan institusi Kementerian Dalam Negeri. Tito mengenang Jenderal Hoegeng sebagai tokoh panutan yang selalu menginspirasi generasi muda, dan Eyang Meri pun dianggapnya sebagai sosok panutan, tidak hanya bagi para anggota Polri, tetapi juga bagi para ibu Bhayangkari. Kehadiran para purnawirawan Polri di rumah duka menegaskan betapa besar pengaruh dan penghormatan yang diberikan kepada keluarga Jenderal Hoegeng.
Cinta Abadi Hingga Akhir Hayat: Pesan Pemakaman Berdampingan
Salah satu aspek yang paling menyentuh dari kisah Meriyati Hoegeng adalah pesan terakhir dari suaminya, Jenderal Hoegeng Iman Santoso, mengenai peristirahatan terakhir mereka. Meskipun Jenderal Hoegeng layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan atas jasa-jasanya yang luar biasa kepada bangsa dan negara, ia memiliki keinginan yang berbeda. Anak kedua mereka, Aditya S. Hoegeng, mengungkapkan bahwa pesan ayahnya adalah ingin dimakamkan berdampingan dengan sang istri. “Kalau saya dimakamkan di Makam Pahlawan, Ibumu tidak ada di sebelah saya,” ujar Aditya menirukan ucapan ayahnya. Keinginan ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan cinta dan kebersamaan antara Jenderal Hoegeng dan Meriyati, bahkan setelah kematian.
Karena jatah makam di Taman Makam Pahlawan hanya untuk satu orang, Jenderal Hoegeng memilih untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giri Tama, Kabupaten Bogor, agar bisa selalu berdampingan dengan Meriyati. Keputusan ini mencerminkan nilai-nilai kekeluargaan dan kesetiaan yang dipegang teguh oleh Jenderal Hoegeng. Meriyati Hoegeng sendiri, yang wafat di usia 100 tahun, telah menderita sakit sejak tahun 2020 dan harus menghabiskan enam tahun terakhir hidupnya di tempat tidur. Sebelum berpulang, beliau sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit sebanyak dua kali. Jenazah almarhumah disemayamkan di rumah duka Pesona Khayangan State, Depok, sebelum akhirnya dimakamkan pada hari Rabu, 4 Februari 2026, di TPU Giri Tama, berdampingan dengan sang suami tercinta, sebuah bukti cinta abadi yang melampaui batas kehidupan.

















