Sebuah tragedi memilukan mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, di mana seorang siswa Sekolah Dasar ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri. Peristiwa tragis ini memicu penyelidikan mendalam oleh pihak kepolisian untuk mengungkap segala aspek yang mengarah pada tindakan fatal tersebut. Sejak penemuan jasad sang anak, aparat penegak hukum terus bekerja keras mengumpulkan bukti dan keterangan, termasuk mewawancarai pihak sekolah dan guru yang mengenal korban. Fokus utama penyelidikan adalah untuk memastikan apakah ada indikasi perundungan atau bullying yang mungkin menjadi pemicu kesedihan mendalam pada anak tersebut. Meskipun penyelidikan masih berlangsung, temuan awal mengindikasikan bahwa sang anak mungkin mengakhiri hidupnya karena rasa putus asa, tanpa adanya tanda-tanda kekerasan fisik yang terlihat pada tubuhnya. Motif bunuh diri ini diduga murni berasal dari niat pribadi sang anak, diperkuat dengan fakta bahwa ia tidak memiliki akses ke telepon genggam.
Penyelidikan Mendalam Mengungkap Potensi Perundungan
Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Ngada, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Andrey Valentino, secara tegas menyatakan bahwa tim penyidik tengah berupaya keras untuk mengurai benang kusut di balik kematian tragis siswa Sekolah Dasar di wilayahnya. Salah satu prioritas utama dalam investigasi ini adalah melakukan pemeriksaan mendalam terhadap lingkungan sekolah tempat korban menimba ilmu. Hal ini mencakup wawancara ekstensif dengan para guru yang memiliki kedekatan dan interaksi langsung dengan sang anak. Tujuan dari pemeriksaan ini sangat krusial: untuk menggali informasi seputar kemungkinan adanya praktik perundungan atau bullying yang mungkin dialami oleh korban. “Penyidik juga memeriksa pihak sekolah, termasuk guru korban. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah korban juga jadi korban bullying atau tidak. Ini yang masih diselidiki,” ujar AKBP Andrey Valentino, menekankan keseriusan timnya dalam mengungkap setiap detail yang relevan. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa semua kemungkinan penyebab, termasuk faktor eksternal seperti perundungan, telah ditelisik secara tuntas. Keberadaan bullying, sekecil apapun dampaknya, dapat menjadi faktor signifikan yang memengaruhi kondisi psikologis seorang anak, terutama di usia sekolah dasar yang masih rentan terhadap tekanan sosial.
Di sisi lain, hasil pemeriksaan fisik terhadap jenazah korban sejauh ini belum menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan fisik. Temuan awal ini mengarahkan polisi pada hipotesis bahwa tindakan bunuh diri tersebut mungkin merupakan respons dari rasa putus asa yang mendalam. “Motif sementara karena putus asa lalu bunuh diri. Ini murni niatan anak,” ungkap Kapolres Ngada. Fakta bahwa korban tidak memiliki telepon genggam juga menjadi salah satu pertimbangan dalam analisis motif. Ketiadaan alat komunikasi ini dapat mengindikasikan keterbatasan akses korban terhadap informasi atau dukungan dari luar, yang mungkin memperparah rasa isolasi atau kesepiannya. Meskipun demikian, polisi tidak menutup kemungkinan adanya faktor-faktor lain yang belum terungkap dan terus mendalami setiap celah informasi yang ada.
Kisah Pilu di Balik Kehidupan Korban
Nasihat Ibu dan Permintaan yang Tak Terpenuhi
Penelusuran lebih lanjut oleh pihak kepolisian juga mencakup pemeriksaan terhadap ibu kandung korban, yang diidentifikasi dengan inisial MGT (47 tahun). Dari keterangan yang diperoleh dari MGT, terungkap sebuah gambaran yang lebih kompleks mengenai kondisi kehidupan korban. Diketahui bahwa pada malam sebelum kejadian tragis, korban tidur bersama ibunya di rumah. Dalam momen kebersamaan tersebut, sang ibu sempat memberikan nasihat kepada anaknya. Nasihat ini diberikan sebagai respons atas beberapa hari terakhir di mana korban tidak masuk sekolah. Alasan yang diberikan korban untuk tidak bersekolah adalah karena sakit akibat mandi hujan. “Korban tidak sekolah dengan alasan sakit karena mandi hujan. Ibunya lalu penasihat supaya harus ke sekolah dan jangan mandi hujan,” jelas MGT, menceritakan percakapannya dengan sang anak. Nasihat dari seorang ibu ini, meskipun mungkin dimaksudkan untuk kebaikan, kini menjadi salah satu poin yang disorot dalam konteks tragedi yang terjadi.
Lebih dalam lagi, kesaksian dari Gregorius Kodo, seorang saksi mata yang mengenal keluarga korban, membuka tabir mengenai tantangan hidup yang dihadapi keluarga tersebut. Menurut Gregorius, kondisi keluarga anak ini memang penuh dengan kesulitan, yang bahkan mendorong sang anak untuk memilih tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana. Nenek korban, yang berusia sekitar 80 tahun, saat kejadian berlangsung, sedang berada di rumah tetangga, meninggalkan sang anak sendirian di pondok. Situasi ini menambah dimensi kesepian dan kurangnya pengawasan yang mungkin dirasakan oleh korban. Gregorius juga menyoroti kurangnya kasih sayang orang tua yang dialami oleh anak tersebut. Ayah korban telah meninggal dunia bahkan sebelum korban dilahirkan, sementara ibunya harus berjuang menafkahi lima orang anak, termasuk korban, yang menunjukkan beban berat yang dipikul oleh sang ibu.
Puncak dari rangkaian kesulitan ini terungkap melalui permintaan terakhir korban kepada ibunya. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, anak tersebut sempat meminta uang kepada ibunya dengan alasan untuk membeli buku dan pena. Namun, permohonan sederhana ini tidak dapat dikabulkan karena ibunya tidak memiliki uang. Ketiadaan dana untuk memenuhi kebutuhan dasar belajar anak ini, sekecil apapun itu, tampaknya menjadi titik kritis yang memperberat beban emosional korban. Situasi ini menggambarkan lingkaran kemiskinan dan kesulitan yang mungkin telah menekan mental anak tersebut hingga mencapai titik terendah. Peristiwa ini menjadi pengingat tragis akan pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis anak-anak, terutama yang berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi yang rentan, dan perlunya dukungan sosial yang lebih luas.

















