Di tengah lanskap geopolitik global yang semakin bergejolak, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping kembali memperkuat ikatan strategis mereka melalui panggilan video yang intens pada Rabu (4/2). Percakapan mendalam yang berlangsung selama 1 jam 25 menit ini, sebagaimana diungkapkan oleh Ajudan Kremlin Yuri Ushakov, menjadi sorotan utama menjelang peringatan empat tahun invasi Rusia ke Ukraina. Kedua pemimpin tidak hanya saling melontarkan pujian atas soliditas hubungan bilateral, tetapi juga merumuskan langkah-langkah konkret untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor krusial, terutama energi dan perdagangan. Panggilan ini menandai penguatan kemitraan ‘tanpa batas’ yang telah dideklarasikan kedua negara, sekaligus menegaskan posisi mereka yang semakin terintegrasi dalam menghadapi tantangan internasional, termasuk diskusi mengenai situasi di Kuba, Iran, dan Venezuela.
Soliditas Hubungan Bilateral di Tengah Gejolak Global
Dalam dialog virtual yang penuh makna, Presiden Vladimir Putin menyoroti signifikansi kemitraan strategis antara Moskow dan Beijing sebagai jangkar stabilitas di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Putin secara eksplisit menyatakan bahwa kolaborasi energi antara Rusia dan Tiongkok tidak hanya bersifat saling menguntungkan, tetapi juga merupakan pilar strategis yang kokoh. Pernyataan ini menggarisbawahi bagaimana kedua negara telah berhasil membangun sinergi yang kuat, terutama dalam sektor energi, yang menjadi tulang punggung perekonomian masing-masing. Ketergantungan Tiongkok pada pasokan energi Rusia kian meningkat pasca-sanksi Barat, sementara Rusia menemukan pasar yang stabil dan menguntungkan di Tiongkok. Hubungan ini, yang sering digambarkan sebagai kemitraan ‘tanpa batas’, telah teruji oleh berbagai tekanan internasional, namun justru semakin menguat.
Presiden Xi Jinping, yang berkomunikasi melalui penerjemah, turut menggemakan sentimen positif tersebut. Ia mendorong kedua negara untuk merumuskan ‘rencana besar’ yang ambisius guna memperdalam hubungan bilateral, yang dinilainya telah berada di jalur yang benar dan menunjukkan progres yang signifikan. Xi menekankan pentingnya memanfaatkan ‘kesempatan bersejarah’ yang ada, mempertahankan komunikasi tingkat tinggi yang erat, dan memperkuat kerja sama praktis di berbagai bidang. Pernyataan ini mengindikasikan adanya visi bersama untuk masa depan hubungan Tiongkok-Rusia, yang melampaui sekadar kerja sama ekonomi, tetapi juga mencakup koordinasi dalam isu-isu strategis dan keamanan global. Peningkatan volume perdagangan antara kedua negara, yang melonjak pasca-invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, menjadi bukti nyata dari kedalaman kerja sama praktis ini.
Perluasan Kerja Sama Perdagangan dan Energi Menjadi Fokus Utama
Ajudan Kremlin, Yuri Ushakov, memberikan rincian lebih lanjut mengenai isi pembicaraan, mengonfirmasi bahwa panggilan video tersebut berlangsung selama 1 jam 25 menit yang produktif. Salah satu poin penting dari pertemuan virtual ini adalah penerimaan undangan dari Presiden Xi Jinping kepada Presiden Putin untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok pada paruh pertama tahun 2026. Undangan ini menegaskan kembali intensitas hubungan pribadi dan diplomatik antara kedua pemimpin, yang sering digambarkan memiliki ikatan pribadi yang kuat, dengan Xi menyebut Putin sebagai ‘sahabat terbaiknya’ dan Putin membalas pujian serupa. Kunjungan ini diharapkan akan semakin mempererat hubungan bilateral dan membuka babak baru dalam kerja sama strategis.
Lebih lanjut, Ushakov mengungkapkan bahwa kedua pemimpin sepakat untuk memperluas kerja sama perdagangan, dengan sektor energi menjadi salah satu area prioritas utama. Kesepakatan ini mencakup potensi peningkatan volume ekspor energi Rusia ke Tiongkok, serta investasi bersama dalam proyek-proyek energi baru. Selain itu, posisi Rusia dan Tiongkok dalam sebagian besar isu internasional dilaporkan hampir sama atau bertepatan, menunjukkan adanya keselarasan pandangan yang kuat dalam menghadapi dinamika global. Hal ini terlihat dari diskusi yang juga mencakup situasi geopolitik di berbagai kawasan, termasuk Kuba, Iran, dan Venezuela, yang menunjukkan cakupan luas dari kerja sama diplomatik dan strategis kedua negara. Kemampuan untuk menyelaraskan pandangan dalam isu-isu sensitif seperti ini memperkuat posisi mereka di panggung internasional.
Pertemuan virtual ini juga menjadi momentum penting untuk meninjau kembali hubungan bilateral yang telah terjalin erat, terutama sejak Tiongkok dan Rusia mendeklarasikan kemitraan strategis ‘tanpa batas’ beberapa hari sebelum invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Sejak saat itu, Tiongkok telah menjadi jalur ekonomi vital bagi Rusia, menyerap sebagian besar ekspor Rusia dan menyediakan barang-barang yang dibutuhkan, di tengah sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat. Peningkatan volume perdagangan ini tidak hanya menguntungkan kedua negara secara ekonomi, tetapi juga memberikan Rusia dukungan yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi isolasi internasional.
Pertemuan tatap muka terakhir antara Xi dan Putin terjadi di Beijing pada September 2025, saat Tiongkok menjadi tuan rumah parade militer besar yang juga dihadiri oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Dalam pertemuan tersebut, Xi menegaskan bahwa hubungan Tiongkok-Rusia telah ‘bertahan dari gejolak internasional’ dan berkomitmen untuk memperkuat koordinasi terkait kepentingan inti kedua negara. Namun, di sisi lain, tudingan dari Uni Eropa dan Ukraina mengenai bantuan militer Tiongkok kepada Rusia terus mengemuka, meskipun Beijing secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menegaskan posisinya sebagai pihak yang netral dalam konflik Rusia-Ukraina. Penegasan kembali kemitraan strategis melalui panggilan video ini dapat diartikan sebagai upaya untuk memperkuat narasi bersama dan menepis keraguan internasional mengenai kedalaman hubungan mereka.

















