Lonjakan inflasi mengintai Bangka Belitung di awal tahun 2026, sebuah fenomena yang dipicu oleh cuaca ekstrem yang melanda perairan setempat. Kondisi ini tidak hanya menghambat aktivitas para nelayan, tetapi juga berdampak signifikan pada pasokan komoditas pangan laut, mendorong kenaikan harga yang tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan angka inflasi nasional. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy Sariu Tamawiwy, merinci bagaimana cuaca buruk yang ditandai dengan angin kencang dan gelombang tinggi memaksa para nelayan untuk menunda atau bahkan membatalkan pelayaran mereka. Akibatnya, ketersediaan ikan dan cumi-cumi di pasar mengalami penurunan drastis, sementara permintaan tetap stabil, menciptakan tekanan harga yang tak terhindarkan. Fenomena ini menjadi kontras tajam dengan pencapaian inflasi Bangka Belitung di akhir tahun 2025 yang berhasil menembus target nasional dengan angka 0,55 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Dampak Cuaca Ekstrem: Dari Laut ke Meja Makan
Cuaca ekstrem yang melanda Kepulauan Bangka Belitung pada Januari 2026 telah menjadi biang keladi utama di balik lonjakan inflasi di wilayah tersebut. Menurut catatan resmi dari Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, fenomena alam ini secara langsung mengganggu rantai pasok beberapa komoditas penting, terutama yang berasal dari sektor perikanan. Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Rommy Sariu Tamawiwy, secara gamblang menjelaskan bahwa angin kencang yang disertai gelombang tinggi telah menciptakan kondisi yang sangat tidak kondusif bagi aktivitas melaut. Keputusan para nelayan untuk tetap berada di darat demi keselamatan mereka, meskipun merupakan langkah bijak, secara inheren memicu kelangkaan pasokan ikan dan cumi-cumi di pasar tradisional maupun modern. Keterbatasan pasokan inilah yang kemudian menjadi pemicu utama kenaikan harga, karena hukum permintaan dan penawaran bekerja secara efektif dalam kondisi tersebut. Situasi ini menjadi ironis mengingat pada periode sebelumnya, yakni akhir tahun 2025, Bangka Belitung berhasil menunjukkan performa inflasi yang mengesankan, bahkan melampaui target inflasi nasional dengan capaian inflasi bulanan sebesar 0,55 persen.
Lebih lanjut, Rommy Sariu Tamawiwy menguraikan bahwa inflasi yang terjadi di Bangka Belitung pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Meskipun angka ini secara nominal terlihat lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya (Desember 2025 yang mencapai 0,55 persen), namun perbandingan dengan kondisi inflasi nasional pada periode yang sama menunjukkan gambaran yang berbeda. Bangka Belitung justru mengalami inflasi, sementara skala nasional mencatat deflasi sebesar 0,15 persen (mtm). Hal ini menggarisbawahi betapa kuatnya dampak cuaca ekstrem terhadap perekonomian lokal di Bangka Belitung. Tekanan inflasi yang paling signifikan pada Januari 2026 di Bangka Belitung terutama bersumber dari kenaikan indeks harga pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Kelompok ini mencatat kenaikan sebesar 0,67 persen (mtm), dengan komoditas utama yang paling banyak memberikan kontribusi terhadap kenaikan tersebut adalah ikan tenggiri, ikan selar, dan cumi-cumi. Ketergantungan pada hasil laut sebagai sumber protein dan mata pencaharian di Bangka Belitung menjadikan sektor ini sangat rentan terhadap perubahan cuaca.
Analisis Tahunan dan Distribusi Spasial Inflasi
Tidak hanya dalam skala bulanan, dampak cuaca ekstrem dan faktor lainnya juga tercermin dalam angka inflasi tahunan di Bangka Belitung. Secara tahunan atau year-on-year (yoy), Bangka Belitung mencatatkan inflasi sebesar 3,95 persen. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan angka inflasi nasional yang berada di kisaran 3,55 persen (yoy). Namun, perlu dicatat bahwa tekanan inflasi tahunan yang lebih besar berhasil diredam oleh deflasi yang terjadi pada Kelompok Pendidikan. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 13,19 persen (yoy), yang secara signifikan membantu menahan laju inflasi keseluruhan di Bangka Belitung agar tidak melonjak lebih tinggi lagi. Keberadaan deflasi di sektor pendidikan ini menunjukkan adanya faktor-faktor spesifik yang bekerja di sektor tersebut, yang berlawanan arah dengan tren inflasi yang terjadi di sektor lain.
Lebih jauh, analisis spasial menunjukkan bahwa seluruh wilayah di Bangka Belitung yang menjadi objek survei mengalami inflasi pada periode Januari 2026. Kabupaten Bangka Barat tercatat sebagai wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi, mencapai 5,36 persen (yoy). Angka ini mengindikasikan bahwa dampak kenaikan harga barang dan jasa di wilayah tersebut lebih terasa dibandingkan daerah lainnya. Diikuti oleh Kota Pangkalpinang, ibu kota provinsi, yang mengalami inflasi sebesar 3,69 persen (yoy), dan Tanjungpandan, salah satu pusat pariwisata, dengan inflasi sebesar 3,29 persen (yoy). Sementara itu, Kabupaten Belitung Timur mencatat angka inflasi terendah di antara wilayah yang disurvei, yaitu sebesar 3,09 persen (yoy). Perbedaan tingkat inflasi antar wilayah ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk struktur ekonomi lokal, ketersediaan pasokan, serta tingkat permintaan di masing-masing daerah.
Sinergi Pengendalian Inflasi dan Prospek Ekonomi
Menghadapi dinamika inflasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk cuaca dan faktor musiman lainnya, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak. Rommy Sariu Tamawiwy menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk bekerja sama erat dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) serta mitra strategis lainnya. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa tingkat inflasi di Bangka Belitung tetap terjaga dalam rentang yang rendah dan stabil, sesuai dengan target inflasi nasional yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, yaitu sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Stabilitas harga merupakan prasyarat fundamental bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Dengan menjaga inflasi tetap terkendali, daya beli masyarakat dapat dipertahankan, iklim investasi menjadi lebih kondusif, dan pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan secara bertahap. Upaya pengendalian inflasi ini merupakan bagian integral dari kebijakan moneter yang lebih luas untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

















