Puncak Mahameru, julukan kebanggaan Gunung Semeru di Jawa Timur, kembali menunjukkan keganasannya pada Jumat pagi, 6 Februari 2026, dengan serangkaian erupsi eksplosif yang mengguncang wilayah Lumajang dan sekitarnya. Dalam rentang waktu yang sangat singkat, kurang dari dua jam, Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru yang berlokasi di Lumajang, Jawa Timur, mencatat setidaknya empat letusan signifikan, memicu kewaspadaan tinggi di antara masyarakat dan otoritas setempat. Peristiwa ini menggarisbawahi sifat Gunung Semeru yang sangat aktif dan menuntut pemantauan tanpa henti, dengan potensi bahaya yang selalu mengintai kapan saja.
Mukdas Sofian, seorang petugas yang berdedikasi di Pos PGA Semeru yang terletak di Gunung Sawur, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, secara rinci melaporkan kronologi empat letusan tersebut. Erupsi pertama tercatat pada pukul 05.33 WIB, diikuti oleh letusan kedua pada pukul 05.55 WIB, letusan ketiga pada pukul 06.30 WIB, dan puncaknya dengan letusan keempat pada pukul 06.49 WIB. Frekuensi erupsi yang begitu cepat ini, dengan jeda waktu hanya puluhan menit, mengindikasikan tekanan magma dan gas yang signifikan di dalam perut gunung. Pola aktivitas yang intens ini bukanlah hal baru bagi Semeru; beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada Rabu pagi, 4 Februari 2026, gunung yang sama juga dilaporkan mengalami erupsi hingga tujuh kali dalam kurun waktu tiga jam, dengan tinggi letusan yang mencapai 300 meter hingga 800 meter di atas puncak. Bahkan, pada erupsi lain di malam hari pukul 20.48 WIB di hari yang berbeda, kolom letusan tercatat mencapai 800 meter di atas puncak atau setara dengan 4.476 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan pola kolom abu berwarna putih hingga kelabu berintensitas sedang yang bergerak ke arah utara. Data-data ini secara konsisten menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Semeru berada pada tingkat yang sangat tinggi dan dinamis, menuntut analisis mendalam terhadap setiap pergerakan.
Mengurai Sinyal Seismik: Jendela ke Perut Mahameru
Di balik letusan yang terlihat di permukaan, aktivitas seismik di dalam gunung memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kondisi internal Semeru. Data pengamatan kegempaan yang dikumpulkan sejak Jumat dini hari hingga pukul 06.00 WIB oleh Pos PGA Semeru mengungkapkan pola yang mengkhawatirkan. Tercatat sebanyak 25 kali gempa letusan atau erupsi, yang merupakan indikator langsung dari pelepasan energi akibat tekanan gas dan magma yang mendorong material vulkanik ke permukaan. Gempa-gempa ini memiliki amplitudo antara 12 hingga 22 milimeter dan durasi yang bervariasi antara 90 hingga 126 detik, menunjukkan kekuatan dan keberlanjutan proses erupsi. Amplitudo yang relatif tinggi mengindikasikan energi yang dilepaskan cukup besar, sementara durasi yang panjang menunjukkan proses internal yang berkelanjutan. Selain itu, sistem pemantauan juga mendeteksi tiga kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 12 hingga 40 milimeter, selisih waktu gelombang S dan P (S-P) sebesar 13 detik, serta durasi gempa antara 50 hingga 478 detik. Gempa tektonik jauh ini, meskipun tidak secara langsung terkait dengan pergerakan magma, dapat mengindikasikan adanya pergerakan lempeng atau sesar di wilayah regional yang berpotensi memengaruhi stabilitas gunung api atau setidaknya menunjukkan aktivitas tektonik di sekitar Jawa Timur. Pemantauan gabungan dari gempa vulkanik dan tektonik menjadi esensial untuk memahami dinamika kompleks yang terjadi di bawah permukaan Gunung Semeru.
Level Siaga (III): Kewaspadaan Maksimal dan Zona Bahaya
Berdasarkan data aktivitas vulkanik dan seismik yang terus-menerus terdeteksi, Pos PGA Gunung Semeru telah menetapkan tingkat aktivitas Gunung Semeru pada Level III atau Siaga. Penetapan level ini oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bukanlah tanpa alasan; ini adalah tingkat kewaspadaan serius yang mengindikasikan bahwa gunung tersebut berada dalam kondisi aktif dan berpotensi tinggi untuk erupsi yang lebih besar atau berkelanjutan. Sebagai perbandingan, dalam sejarahnya, Gunung Semeru pernah mengalami peningkatan aktivitas yang sangat cepat dari Level Siaga (III) menjadi Level Awas (IV) hanya dalam hitungan jam, seperti yang terjadi pada November 2022, yang memicu evakuasi massal dan menyebabkan gangguan kesehatan bagi para pengungsi. Kondisi ini menekankan urgensi untuk selalu mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh PVMBG.
Dalam Level III (Siaga) ini, PVMBG mengeluarkan beberapa rekomendasi krusial yang harus dipatuhi oleh masyarakat untuk meminimalkan risiko bahaya:
- Zona Larangan Aktivitas Sektor Tenggara: Masyarakat dan penambang dilarang keras melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, khususnya di sepanjang aliran Besuk Kobokan, hingga jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Area ini merupakan jalur utama aliran material vulkanik seperti awan panas dan lahar.
- Batas Aman Tepi Sungai: Di luar jarak 13 kilometer tersebut, masyarakat tetap dilarang beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini karena wilayah tersebut berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak, mengingat material vulkanik dapat mengalir jauh mengikuti kontur lembah sungai.
- Radius Bahaya Lontaran Batu Pijar: Selain itu, masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Zona ini sangat rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar) yang panas dan berdaya rusak tinggi, yang dapat terlontar secara balistik saat terjadi erupsi eksplosif.
Rekomendasi ini disusun berdasarkan analisis mendalam terhadap karakteristik erupsi Semeru di masa lalu dan simulasi potensi bahaya di masa depan, menjadikannya panduan vital untuk keselamatan jiwa.
Mewaspadai Ancaman Awan Panas, Guguran Lava, dan Lahar
Ancaman utama dari Gunung Semeru tidak hanya terbatas pada letusan eksplosif, tetapi juga potensi bahaya sekunder yang sangat destruktif. Masyarakat diimbau untuk senantiasa mewaspadai potensi terjadinya awan panas

















