Di tengah ketegangan geopolitik yang mencapai titik didih di kawasan Timur Tengah, delegasi tingkat tinggi dari Amerika Serikat dan Iran secara resmi memulai babak baru negosiasi nuklir yang krusial di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2). Pertemuan diplomatik yang sangat dinantikan ini bertujuan untuk meredam ambisi nuklir Teheran sekaligus mencegah eskalasi militer lebih lanjut setelah serangkaian konfrontasi langsung yang melibatkan serangan udara strategis AS pada pertengahan tahun 2025. Dengan kehadiran tokoh-tokoh kunci seperti Utusan Khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner dari pihak Washington, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dari Teheran, perundingan ini menjadi pertaruhan besar bagi stabilitas global di bawah bayang-bayang ancaman militer Presiden Donald Trump yang menegaskan bahwa kegagalan diplomasi akan berujung pada konsekuensi yang menghancurkan bagi rezim Iran. Fokus utama dari dialog intensif ini adalah memastikan transparansi penuh atas program nuklir Iran guna menjawab kekhawatiran internasional mengenai potensi pengembangan senjata pemusnah massal, sementara di saat yang sama, kedua negara harus menavigasi tumpukan ketidakpercayaan yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun.
Perundingan di Oman ini tidak hanya sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah upaya diplomasi koersif yang melibatkan tokoh-tokoh paling berpengaruh dalam lingkaran kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Penunjukan Steve Witkoff sebagai Utusan Khusus untuk Timur Tengah, didampingi oleh Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump yang memiliki rekam jejak panjang dalam arsitektur perdamaian di kawasan tersebut, menandakan bahwa Washington memandang pertemuan ini dengan urgensi yang sangat tinggi. Di sisi lain, Iran mengutus diplomat senior mereka, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang dikenal memiliki pengalaman mendalam dalam negosiasi teknis nuklir. Kehadiran Kushner secara khusus menarik perhatian pengamat internasional, mengingat perannya di masa lalu dalam memfasilitasi normalisasi hubungan antara negara-negara Arab dan Israel, yang menunjukkan bahwa AS mungkin sedang mengupayakan kerangka kerja yang lebih luas daripada sekadar pembatasan nuklir. Washington ingin memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai kali ini memiliki mekanisme verifikasi yang jauh lebih ketat dibandingkan kesepakatan-kesepakatan sebelumnya yang dianggap gagal oleh pemerintahan Trump.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, telah memberikan instruksi tegas bahwa cakupan perundingan di Muscat harus melampaui isu pengayaan uranium semata. Rubio menekankan bahwa stabilitas regional tidak akan tercapai selama Iran terus memberikan dukungan logistik, finansial, dan militer kepada berbagai kelompok milisi di Timur Tengah yang dianggap AS sebagai proksi pengganggu keamanan. Selain itu, Rubio juga membawa isu domestik Iran ke meja perundingan, termasuk penanganan keras pemerintah Teheran terhadap aksi demonstrasi besar-besaran yang mengguncang negara itu dari Desember hingga Januari lalu. Bagi Washington, perilaku rezim terhadap rakyatnya sendiri dan aktivitas eksternalnya di kawasan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari kredibilitas mereka dalam mematuhi perjanjian nuklir. Pendekatan “tekanan maksimum” yang diperbarui ini memaksa Iran untuk menghadapi tuntutan yang sangat kompleks, di mana mereka harus memilih antara isolasi ekonomi yang lebih berat atau melakukan kompromi besar pada kedaulatan kebijakan luar negeri mereka.
Dinamika Diplomasi di Muscat: Antara Harapan dan Ketegangan Militer
Kementerian Luar Negeri Iran, melalui pernyataan resmi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, menyatakan kesiapan mereka untuk terlibat dalam diskusi teknis dan politik yang mendalam, namun dengan catatan kaki yang sangat tebal mengenai sejarah diplomasi masa lalu. Araghchi, melalui platform media sosial X, menegaskan bahwa Iran memasuki ruang perundingan dengan “mata terbuka” dan memori yang masih segar mengenai pengkhianatan komitmen yang mereka klaim dilakukan oleh pihak Barat di masa lalu. Bagi Teheran, prinsip kesetaraan dan saling menghormati bukanlah sekadar retorika diplomatik, melainkan pilar utama yang akan menentukan apakah sebuah kesepakatan dapat bertahan lama atau hanya akan menjadi dokumen tanpa arti. Araghchi menekankan bahwa meskipun Iran memiliki itikad baik untuk meredakan ketegangan, mereka tidak akan mengorbankan hak-hak dasar mereka dalam pengembangan teknologi nuklir untuk tujuan damai, dan setiap komitmen yang dibuat oleh AS harus dihormati secara konsisten tanpa adanya perubahan kebijakan yang mendadak di masa depan.
Latar belakang perundingan ini sangat dipengaruhi oleh peristiwa traumatis pada Juni 2025, ketika militer Amerika Serikat melancarkan serangan presisi terhadap sejumlah target strategis yang terkait dengan fasilitas nuklir di Iran. Washington pada saat itu mengeklaim bahwa operasi militer tersebut merupakan langkah preventif yang berhasil menghentikan kemajuan signifikan Iran dalam memproduksi material nuklir tingkat senjata. Serangan tersebut tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, tetapi juga meruntuhkan sisa-sisa kepercayaan diplomatik yang ada, membawa kedua negara ke ambang perang terbuka. Sejak saat itu, hubungan bilateral kedua negara berada dalam fase paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Ketegangan semakin diperparah oleh ancaman langsung dari Presiden Donald Trump yang menyatakan kesiapannya untuk melakukan intervensi militer lebih lanjut jika Teheran terus menggunakan kekerasan mematikan untuk membungkam para demonstran di dalam negeri, menciptakan situasi di mana diplomasi di Oman ini benar-benar menjadi jalur terakhir sebelum konfrontasi bersenjata yang lebih luas pecah.
Eskalasi Ancaman dan Tuntutan Perluasan Agenda Perundingan
Menjelang pembukaan sesi negosiasi, atmosfer di Gedung Putih menunjukkan perpaduan antara keinginan untuk mencapai solusi diplomatik dan kesiapan untuk menggunakan kekuatan militer yang luar biasa. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan pesan yang sangat keras bahwa meskipun Presiden Trump menginginkan sebuah kesepakatan yang komprehensif dan adil, ia tidak akan ragu untuk mengambil tindakan drastis jika Iran menunjukkan tanda-tanda ketidaktulusan atau upaya untuk mengulur waktu. Leavitt secara eksplisit mengingatkan rezim Iran bahwa Trump bertindak sebagai panglima tertinggi dari militer paling kuat dalam sejarah dunia, yang memiliki berbagai opsi di luar jalur diplomasi. Pernyataan ini dipandang sebagai upaya untuk menekan delegasi Iran agar memberikan konsesi signifikan sejak awal pertemuan, sekaligus memberikan sinyal kepada sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk bahwa Washington tetap berkomitmen penuh untuk menjaga keamanan regional dari ancaman nuklir Iran.
Negara-negara tetangga di kawasan Teluk, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, mengamati dengan saksama perkembangan di Muscat dengan rasa cemas yang mendalam. Mereka khawatir bahwa kegagalan untuk mencapai kesepakatan akan memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan tersebut atau menyebabkan pecahnya konflik regional yang akan melumpuhkan ekonomi global, terutama terkait pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz. Trump sendiri telah melontarkan peringatan bahwa “hal-hal buruk” dapat terjadi jika Iran tidak memanfaatkan kesempatan di Oman ini untuk memperbaiki hubungan dengan komunitas internasional. Oleh karena itu, hasil dari perundingan ini akan sangat menentukan arsitektur keamanan Timur Tengah untuk dekade mendatang. Apakah Oman akan kembali berhasil menjadi jembatan perdamaian seperti yang mereka lakukan pada tahun 2015, ataukah pertemuan ini hanya akan menjadi catatan kaki sebelum terjadinya eskalasi militer yang tak terelakkan, semuanya kini bergantung pada fleksibilitas diplomatik yang ditunjukkan oleh kedua belah pihak di meja perundingan.
Secara keseluruhan, perundingan nuklir di Oman ini merupakan ujian bagi paradigma kebijakan luar negeri “America First” yang dipadukan dengan tuntutan Iran akan kedaulatan penuh. Dengan agenda yang mencakup pengawasan nuklir, aktivitas milisi regional, hingga hak asasi manusia, beban yang dipikul oleh Steve Witkoff dan Abbas Araghchi sangatlah berat. Dunia kini menunggu apakah retorika keras dari Washington dan sikap defensif dari Teheran dapat melunak demi mencapai stabilitas transnasional, ataukah perbedaan ideologis dan keamanan yang fundamental akan terus menjauhkan kedua negara dari perdamaian yang berkelanjutan. Di balik pintu tertutup di Muscat, masa depan keamanan nuklir dunia sedang dipertaruhkan dalam sebuah drama diplomasi tingkat tinggi yang hasilnya akan mengguncang tatanan global.

















