PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) secara resmi mengukuhkan dominasinya di sektor perbankan syariah nasional dengan membukukan volume bisnis emas yang menembus angka fantastis sebesar Rp 22,9 triliun sepanjang tahun buku 2025. Pencapaian luar biasa ini dipicu oleh lonjakan minat investasi masyarakat terhadap aset aman (safe haven) yang dikelola secara prinsip syariah, di mana jumlah nasabah aktif untuk produk emas kini telah melampaui angka satu juta orang. Melalui integrasi layanan cicil emas, gadai emas, serta terobosan terbaru di sektor bullion banking, BSI tidak hanya memperkuat struktur permodalan tetapi juga berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 7,57 triliun. Pertumbuhan laba sebesar 8,02 persen secara tahunan (year on year/yoy) ini membuktikan bahwa ekosistem ekonomi syariah memiliki daya tahan dan potensi pertumbuhan yang sangat masif di tengah fluktuasi ekonomi global yang tidak menentu sepanjang tahun tersebut.
Direktur Penjualan dan Distribusi BSI, Anton Sukarna, memaparkan secara mendalam bahwa keberhasilan ini merupakan cerminan dari meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi emas yang difasilitasi oleh perbankan syariah. Berdasarkan data internal perusahaan, pertumbuhan ini terlihat sangat nyata baik dari sisi kuantitas nasabah maupun volume bisnis yang dikelola. Hingga akhir 2025, jumlah nasabah yang memanfaatkan produk emas non-bullion, yang mencakup layanan Cicil Emas dan Gadai Emas, telah mencapai angka signifikan yakni sekitar 640 ribu nasabah. Sementara itu, pada segmen bullion murni yang baru dikembangkan—mencakup layanan penitipan emas (gold depository) serta aktivitas jual beli emas—jumlah nasabahnya telah menyentuh angka 530 ribu orang. Jika kedua segmen ini dikombinasikan, BSI kini mengelola lebih dari 1,17 juta nasabah khusus di sektor emas, dan manajemen secara optimistis memproyeksikan angka ini akan terus meroket hingga mencapai target 2 juta nasabah atau bahkan lebih pada tahun-tahun mendatang.
Lonjakan Signifikan Produk Cicil dan Gadai Emas: Mesin Pertumbuhan Utama BSI
Melihat lebih jauh ke dalam rincian kinerja operasional, produk Cicil Emas dan Gadai Emas tetap menjadi tulang punggung utama dalam menyokong pendapatan berbasis komisi (fee-based income) perusahaan. Anton Sukarna mencatat bahwa gabungan kedua produk non-bullion ini mencatatkan pertumbuhan yang sangat agresif sebesar 78,60 persen secara tahunan (yoy). Dari total volume bisnis emas sebesar Rp 22,90 triliun, kontribusi terbesar berasal dari produk Cicil Emas yang mencapai nilai Rp 12,89 triliun. Angka ini merepresentasikan kenaikan yang sangat tajam, yakni sebesar 101,23 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin menyadari pentingnya memiliki aset emas sebagai pelindung nilai kekayaan (wealth protection) jangka panjang melalui skema pembiayaan yang terjangkau dan sesuai syariah.
Di sisi lain, layanan Gadai Emas juga menunjukkan performa yang tidak kalah impresif dengan total volume mencapai Rp 10,02 triliun, atau tumbuh sebesar 56,05 persen secara tahunan. Layanan ini menjadi solusi likuiditas yang sangat diminati oleh nasabah, terutama bagi mereka yang membutuhkan dana cepat tanpa harus kehilangan kepemilikan atas aset emasnya. Konsistensi pertumbuhan di kedua lini ini menjadi bukti nyata bahwa BSI berhasil mengoptimalkan potensi pasar ritel di Indonesia. Data tambahan menunjukkan bahwa hingga triwulan II tahun 2025 saja, outstanding layanan cicil emas sudah menyentuh Rp 9,1 triliun, yang kemudian terus terakselerasi hingga akhir tahun. Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, dalam kesempatan terpisah juga menegaskan bahwa kinerja kuat ini adalah buah dari fokus perseroan pada bisnis khas bank syariah yang terintegrasi dengan Islamic ecosystem, termasuk pemanfaatan emas sebagai sarana perencanaan keuangan untuk ibadah haji dan umrah.
Salah satu pencapaian paling monumental bagi BSI pada tahun 2025 adalah keberhasilan operasional bisnis bullion yang mencatatkan volume penjualan emas hingga mencapai 2,2 ton. Sebagai salah satu pelopor layanan bullion banking di Indonesia yang resmi dibuka pada Februari 2025, BSI berhasil menjawab kebutuhan pasar akan tempat penyimpanan dan transaksi emas skala besar yang aman dan terjamin. Penjualan sebesar 2,2 ton emas ini bukan sekadar angka, melainkan indikator bahwa BSI telah mampu masuk ke dalam rantai pasok emas nasional secara lebih mendalam. Anton Sukarna menekankan bahwa pertumbuhan ini akan terus dijaga melalui sosialisasi yang masif dan berkelanjutan agar masyarakat luas semakin memahami model investasi emas yang lebih modern, di mana emas tidak hanya disimpan secara fisik di rumah, tetapi dikelola secara profesional melalui sistem perbankan.
Transformasi Menuju Bullion Banking Global dan Ekspansi Segmen Wholesale
Menatap tahun 2026, BSI telah menyiapkan peta jalan strategis untuk memperluas cakupan bisnis emasnya. Perusahaan menargetkan peluncuran produk simpanan emas (gold savings) yang lebih komprehensif pada Februari tahun ini. Saat ini, BSI tengah merampungkan tahapan persiapan akhir yang sangat krusial, termasuk sistem pencatatan otomatis dan mekanisme pelaporan yang melibatkan pihak ketiga untuk menjamin transparansi dan keamanan aset nasabah. Anton menjelaskan bahwa jika hasil kajian kelayakan (feasibility study) menunjukkan hasil yang positif, terutama dari sisi mitigasi risiko dan kesiapan pasar, BSI akan segera mengajukan izin tambahan kepada regulator untuk memperluas cakupan pembiayaan berbasis emas. Hal ini diharapkan dapat memberikan fleksibilitas lebih bagi nasabah dalam mengelola portofolio investasi mereka.
Selain fokus pada pasar ritel, BSI juga mulai melirik potensi besar di segmen wholesale atau korporasi. Anton mengungkapkan adanya permintaan yang sangat tinggi dari pelaku pasar terhadap transaksi turunan dari produk bullion yang sudah ada. Untuk merespons dinamika ini, BSI tengah dalam proses pengajuan perizinan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait beberapa produk inovatif, seperti gadai emas dan cicil emas berbasis tabungan emas untuk segmen ritel yang lebih terjangkau. Sementara itu, untuk segmen wholesale, BSI berencana memperluas kegiatan penjualan langsung (direct sales) terkait izin jual beli emas serta mengembangkan produk tabungan emas khusus korporasi. Langkah ini diambil untuk memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan yang ingin melakukan lindung nilai (hedging) atau mengalokasikan dana cadangan mereka ke dalam instrumen emas.
Ringkasan Kinerja Bisnis Emas BSI Tahun 2025
| Indikator Kinerja | Pencapaian Tahun 2025 | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| Total Volume Bisnis Emas | Rp 22,90 Triliun | Signifikan |
| Volume Cicil Emas | Rp 12,89 Triliun |

















