Dalam sebuah langkah mengejutkan yang mengguncang jagat maya kuliner Indonesia, kreator konten kontroversial Bobon Santoso mengumumkan niatnya untuk pensiun dari platform YouTube dan melepas kanal utamanya yang memiliki basis pengikut masif. Pengumuman ini, yang disampaikan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @bobonsantoso pada Kamis, 5 Februari 2026, menyoroti sebuah babak baru dalam karier sang kreator yang telah lama dikenal dengan konten-kontennya yang unik dan seringkali di luar kebiasaan. Bobon tidak hanya mengumumkan pensiun, tetapi juga secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk menjual kanal YouTube-nya yang kini telah mengumpulkan 17,7 juta pelanggan, dengan banderol harga fantastis Rp 20 miliar, sebuah angka yang mencerminkan nilai dan jangkauan audiens yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
Keputusan Bobon untuk mundur dari panggung YouTube, platform yang telah menjadi rumahnya dan sumber popularitasnya, timbul dari rasa lelah yang mendalam dalam proses berkarya. Ia secara eksplisit menyatakan bahwa “Tahun ini gw memutuskan untuk pensiun di platfrom Youtube.” Lebih lanjut, ia mengungkapkan harapannya agar kanal dengan hampir 18 juta pelanggan tersebut segera menemukan pembeli, dengan pernyataan, “Akun hampir 18 juta pelanggan mau gw jual Rp 20 miliar. Semoga laku segera ya.” Namun, Bobon juga menyisakan ruang negosiasi dan pertimbangan ulang, menambahkan, “Kalo belum laku gw tar pertimbangkan lagi gimana, Makasih.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun ia telah mencapai titik kelelahan, kemungkinan untuk kembali ke platform tersebut masih terbuka jika tawaran yang diajukan belum memenuhi ekspektasinya atau jika ia belum menemukan titik terang untuk langkah selanjutnya.
Evolusi Konten: Dari Sensasi Ekstrem ke Empati Sosial
Perjalanan Bobon Santoso di dunia konten kreator dimulai pada 29 Januari 2019, sebuah tanggal yang menandai awal dari sebuah fenomena di YouTube Indonesia. Sejak awal kemunculannya, Bobon secara sengaja membangun identitasnya melalui pendekatan yang berani, kontroversial, dan seringkali dianggap melampaui batas kewajaran oleh banyak penonton. Pendekatan “ekstrem” ini, yang secara sadar mengabaikan norma-norma konvensional dalam pembuatan konten kuliner, menjadi kunci utama yang mendongkrak popularitasnya dengan kecepatan luar biasa. Ia tidak ragu untuk menyajikan aksi-aksi yang nyeleneh dan tak terduga, yang kemudian menjadi viral dan perbincangan hangat di kalangan warganet.
Beberapa konten awal Bobon yang paling banyak dibicarakan dan menuai kritik tajam meliputi demonstrasi memasak anak tikus, pengolahan daging biawak dalam skala besar yang mencengangkan, pembuatan nugget dalam wadah seperti bak mandi, serta serangkaian eksperimen kuliner aneh lainnya yang menantang selera dan keberanian penonton. Meskipun aksi-aksi ini berhasil menarik perhatian jutaan pasang mata dan membangun basis penggemar yang loyal, mereka juga kerapkali dibanjiri kritik pedas. Kritik tersebut umumnya berfokus pada isu-isu krusial seperti keamanan pangan, potensi risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh bahan-bahan yang digunakan, serta perlakuan terhadap hewan yang terkadang dianggap tidak etis. Namun, alih-alih surut oleh badai kritik, Bobon tampaknya memanfaatkan kontroversi tersebut sebagai bahan bakar untuk terus bereksperimen dan memperluas jangkauannya.
Memasuki awal tahun 2022, terjadi sebuah pergeseran paradigma yang signifikan dalam strategi konten Bobon Santoso. Ia secara drastis mengubah arah fokusnya, beralih dari sensasi ekstrem menuju narasi yang lebih mendalam dan bermuatan sosial. Perubahan ini terwujud melalui peluncuran program yang diberi nama “Kuali Merah Putih”. Dalam program ini, Bobon tidak lagi berfokus pada keunikan resep atau tantangan kuliner yang menguji batas, melainkan menjelajahi berbagai pelosok daerah di Indonesia, mulai dari dataran tinggi Papua yang eksotis hingga kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kaya budaya. Misi utamanya adalah memasak dalam skala besar dan membagikan makanan tersebut kepada masyarakat setempat yang membutuhkan. Inisiatif ini tidak hanya menunjukkan sisi kemanusiaan Bobon, tetapi juga memberikan dimensi baru pada kontennya, menjauhkannya dari citra kreator yang hanya mencari sensasi. Untuk melindungi karya dan idenya dari peniruan yang marak terjadi di dunia maya, Bobon bahkan telah mengambil langkah proaktif dengan mematenkan hak cipta konten “Masak Besar Bobon Santoso”, sebuah tindakan yang menegaskan keseriusannya dalam mengembangkan segmen konten sosial ini.
Kontroversi dan Persepsi Publik: Antara Ketulusan dan Tuduhan Pengaruh
Perubahan haluan konten Bobon Santoso menjadi aksi sosial yang berfokus pada pemberdayaan dan berbagi, meskipun disambut positif oleh sebagian besar publik, tidak serta merta terlepas dari sorotan dan kontroversi. Keterlibatan Bobon dalam sejumlah aksi sosial yang berkolaborasi dengan lembaga pemerintah, termasuk institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI), menimbulkan beragam pandangan di kalangan warganet. Sebagian dari mereka mulai melihat bahwa aksi-aksi sosial ini, meskipun terlihat mulia, berpotensi disalahartikan sebagai bentuk pencitraan politik atau bahkan sebagai “buzzer” yang dibayar untuk mempromosikan agenda tertentu. Pandangan skeptis ini muncul karena adanya persepsi bahwa kolaborasi dengan pihak-pihak tersebut dapat mengaburkan garis antara kegiatan sosial murni dan kepentingan yang lebih luas.
Pembelahan opini publik ini menjadi semakin tajam, terutama ketika menyoroti aksi berbagi makanan yang dilakukan Bobon di wilayah Papua. Beberapa warganet secara khusus mempermasalahkan narasi yang dibangun dalam konten tersebut, serta mempertanyakan ketulusan di balik aksi sosial yang dilakukan di tengah isu-isu politis yang kompleks di wilayah tersebut. Kritik ini menunjukkan bahwa di era digital saat ini, setiap tindakan, sekecil apapun, dapat dianalisis dan diperdebatkan dari berbagai sudut pandang. Menanggapi gelombang kritik dan pertanyaan yang muncul, Bobon memberikan respons yang cenderung lugas, menyiratkan bahwa fokus seharusnya pada tindakan itu sendiri, bukan pada spekulasi yang berlebihan. Ia menyatakan, “Gak usah terlalu banyak mikir, jalanin aja. Jangan banyak komplain.” Pernyataan ini mencerminkan filosofi Bobon untuk tetap bergerak maju dan berbuat baik tanpa terlalu terbebani oleh persepsi negatif atau analisis yang terlalu mendalam dari pihak luar.
Kontroversi lain yang sempat menggegerkan jagat maya adalah ketika Bobon mengunggah sebuah foto dirinya yang mengenakan baju tahanan berwarna oranye terang, lengkap dengan borgol yang terpasang di pergelangan tangannya. Momen yang sekilas tampak dramatis ini ternyata memiliki konteks yang berbeda. Kostum tersebut merupakan bagian integral dari sebuah kampanye yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI). Bobon berpartisipasi dalam kampanye ini bersama dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNN Provinsi) Bali. Tindakan ini, meskipun bertujuan baik untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai bahaya narkoba, sempat menimbulkan kebingungan dan spekulasi di kalangan penggemarnya sebelum penjelasan resmi diberikan. Hal ini menunjukkan bagaimana citra visual yang kuat, tanpa narasi yang memadai, dapat memicu interpretasi yang beragam dan terkadang keliru di kalangan audiens.

















