Tragedi kemanusiaan kembali mengguncang jantung pemerintahan Pakistan ketika sebuah serangan bom bunuh diri yang dahsyat meluluhlantakkan sebuah masjid Syiah di Islamabad pada Jumat (6/2/2026), mengakibatkan sedikitnya 31 orang tewas dan lebih dari 170 lainnya luka-luka dalam kondisi kritis. Insiden berdarah ini terjadi tepat saat ratusan jemaah sedang melaksanakan ibadah salat Jumat yang khusyuk di Masjid Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra, yang terletak di kawasan Tarlai, pinggiran ibu kota. Kelompok militan transnasional ISIS segera mengklaim bertanggung jawab atas aksi terorisme ini, yang kini tercatat secara resmi sebagai serangan paling mematikan di Islamabad dalam lebih dari satu dekade terakhir. Peristiwa ini tidak hanya merobek rasa aman di pusat kekuasaan Pakistan, tetapi juga memicu gelombang kepanikan massal serta eskalasi ketegangan diplomatik yang memanas di kawasan Asia Selatan, mengingat lokasi serangan yang seharusnya mendapatkan pengamanan ketat sebagai wilayah administratif utama negara tersebut.
Kronologi Serangan dan Eskalasi Kekerasan Sektarian di Ibu Kota
Berdasarkan laporan mendalam dari otoritas keamanan setempat dan saksi mata di lokasi kejadian, serangan ini dimulai dengan aksi penembakan brutal yang dilakukan oleh pelaku sebelum ia berhasil menembus barisan jemaah. Pelaku dilaporkan sempat melepaskan serangkaian tembakan secara membabi buta ke arah petugas keamanan dan jemaah yang berada di pintu masuk guna menciptakan kekacauan, sebelum akhirnya merangsek masuk ke dalam ruang utama masjid. Di tengah kepulan asap dan teriakan histeris, pelaku kemudian memposisikan dirinya di saf terakhir para jemaah yang sedang bersujud, lalu meledakkan rompi berbahan peledak high-explosive yang melekat di tubuhnya. Ledakan tersebut begitu kuat hingga menghancurkan sebagian struktur bangunan masjid, merontokkan plafon, dan memecahkan kaca-kaca jendela dalam radius ratusan meter, meninggalkan pemandangan mengerikan berupa puing-puing yang bercampur dengan darah di lantai tempat ibadah tersebut.
Klaim tanggung jawab atas aksi keji ini disampaikan oleh kelompok ISIS melalui saluran komunikasi resmi mereka di platform Telegram hanya beberapa jam setelah ledakan terjadi. Dalam pernyataan tertulisnya, kelompok tersebut menegaskan bahwa serangan ini secara khusus menargetkan komunitas Syiah, yang seringkali menjadi sasaran kekerasan sektarian oleh kelompok ekstremis di wilayah tersebut. Untuk memperkuat klaim mereka, ISIS juga merilis sebuah foto yang memperlihatkan sosok pelaku serangan; dalam foto tersebut, sang pengebom bunuh diri tampak berpose dengan memegang senjata api otomatis dengan latar belakang bendera kelompok, meskipun bagian wajahnya sengaja diburamkan oleh pihak mereka. Publikasi ini dianggap sebagai upaya propaganda untuk menunjukkan eksistensi dan kemampuan operasional ISIS yang masih sangat aktif di wilayah Pakistan, meskipun pemerintah telah berulang kali melakukan operasi militer untuk memberangus sel-sel tidur kelompok radikal tersebut.
Dampak Kemanusiaan dan Rekam Jejak Terorisme di Islamabad
Data terbaru dari fasilitas kesehatan di Islamabad menunjukkan angka korban yang sangat memprihatinkan, dengan 31 nyawa melayang seketika di lokasi kejadian dan di meja operasi. Sementara itu, lebih dari 170 jemaah lainnya menderita berbagai tingkat cedera, mulai dari luka bakar serius, trauma akibat serpihan ledakan, hingga kehilangan anggota tubuh. Rumah sakit-rumah sakit utama di ibu kota, termasuk Pakistan Institute of Medical Sciences (PIMS), segera memberlakukan status darurat nasional untuk menangani arus pasien yang datang bertubi-tubi. Keluarga korban tampak memenuhi lorong-lorong rumah sakit dengan isak tangis, menunggu kabar mengenai kerabat mereka yang menjadi korban dalam serangan saat ibadah mingguan tersebut. Skala kerusakan dan jumlah korban jiwa ini membawa memori kelam warga Islamabad kembali pada peristiwa pengeboman Hotel Marriott tahun 2008, sebuah titik balik sejarah terorisme di Pakistan yang hingga kini masih menyisakan trauma mendalam bagi publik.
Keberhasilan pelaku menembus zona keamanan di Islamabad, yang dikenal sebagai salah satu kota paling terjaga di Pakistan, menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas intelijen dan protokol keamanan dalam negeri. Masjid Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra di daerah Tarlai seharusnya berada dalam pengawasan rutin, namun fakta bahwa pelaku mampu membawa senjata api dan bahan peledak ke dalam saf jemaah menunjukkan adanya celah keamanan yang fatal. Para analis keamanan berpendapat bahwa serangan ini menunjukkan pergeseran taktik kelompok militan yang kini lebih berani menyasar target-target di pusat kota guna mendapatkan atensi internasional yang lebih besar. Insiden ini juga mempertegas kerentanan kelompok minoritas di Pakistan yang terus-menerus berada di bawah bayang-bayang ancaman kekerasan ideologis yang ekstrem.
Ketegangan Diplomatik: Tudingan Terhadap India dan Penyangkalan Keras
Di tengah suasana duka yang menyelimuti negara, dinamika politik internal dan eksternal Pakistan langsung memanas. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, mengeluarkan pernyataan kontroversial yang memicu perdebatan luas di kancah internasional. Dalam keterangannya kepada media, termasuk yang dikutip oleh Reuters, Asif secara terbuka menuding India sebagai dalang di balik layar yang bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri tersebut. Meskipun ISIS telah secara resmi mengklaim serangan itu, Asif bersikeras bahwa ada keterlibatan aktor negara tetangga dalam mendanai atau memfasilitasi kelompok-kelompok militan untuk mengacaukan stabilitas dalam negeri Pakistan. Namun, tudingan serius ini dilontarkan tanpa disertai bukti-bukti fisik atau dokumen intelijen yang konkret, sehingga banyak pihak menilai pernyataan tersebut sebagai bagian dari retorika politik dalam perseteruan abadi antara kedua negara nuklir tersebut.
Menanggapi tuduhan tanpa dasar dari pihak Islamabad, Kementerian Luar Negeri India segera merilis pernyataan resmi yang membantah keras segala bentuk keterlibatan dalam insiden di masjid Tarlai tersebut. New Delhi menegaskan bahwa tuduhan Pakistan merupakan upaya pengalihan isu dari kegagalan domestik mereka dalam menangani terorisme yang tumbuh subur di dalam wilayahnya sendiri. India menyatakan bahwa tudingan tersebut sama sekali tidak memiliki dasar hukum maupun fakta, serta mendesak Pakistan untuk lebih fokus pada upaya pemberantasan kelompok teroris yang diakui secara internasional daripada melemparkan kesalahan kepada pihak luar. Saling lempar tuduhan ini dikhawatirkan akan semakin memperburuk hubungan bilateral yang sudah membeku, serta menghambat kerja sama regional dalam upaya penanggulangan terorisme lintas batas di Asia Selatan.
Kini, Pakistan menghadapi tantangan ganda: memulihkan stabilitas keamanan internal pasca-ledakan paling berdarah dalam satu dekade terakhir, sekaligus meredam gejolak sosial akibat serangan sektarian yang menyasar komunitas Syiah. Pemerintah Pakistan telah menjanjikan investigasi menyeluruh dan bersumpah akan menyeret semua pihak yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, ke hadapan hukum. Namun, bagi keluarga 31 korban yang tewas, janji pemerintah tersebut mungkin terdengar hambar di tengah duka yang mendalam. Dunia internasional kini menyoroti bagaimana Islamabad akan merespons ancaman ISIS yang semakin nyata di depan mata, sembari mengawasi apakah ketegangan dengan India akan berlanjut menjadi krisis diplomatik yang lebih luas ataukah kedua negara akan menemukan jalan untuk menurunkan tensi demi keamanan kawasan secara keseluruhan.

















