| Jenis Kegempaan | Jumlah Kejadian (1-15 Januari 2026) | Keterangan Teknis |
|---|---|---|
| Gempa Erupsi | 2.713 | Manifestasi pelepasan material ke permukaan |
| Gempa Embusan | 4.391 | Pelepasan gas vulkanik dari kawah |
| Gempa Tremor Non-Harmonik | 834 | Indikasi aliran fluida magmatik |
| Gempa Vulkanik Dalam (VA) | 25 | Proses peretakan batuan akibat tekanan magma |
| Gempa Vulkanik Dangkal (VB) | 13 | Aktivitas magma di dekat permukaan |
| Gempa Hybrid/Fase Banyak | 7 | Kombinasi proses peretakan dan aliran fluida |
| Gempa Guguran | 5 | Instabilitas material di bibir kawah |
| Gempa Tektonik Lokal/Jauh | 16 | Pengaruh aktivitas tektonik regional |
Observasi Visual: Manifestasi Lava dan Kolom Abu
Secara visual, aktivitas Gunung Ile Lewotolok terpantau sangat dinamis dengan kemunculan asap kawah yang bervariasi antara warna putih hingga kelabu. Intensitas kepulan asap dilaporkan berada pada level tipis hingga sedang, dengan ketinggian yang fluktuatif antara 20 hingga 299 meter di atas puncak. Namun, yang lebih krusial adalah tinggi kolom abu letusan yang kini terpantau mencapai ketinggian 200 hingga 500 meter dari puncak gunung. Abu vulkanik ini membawa material halus yang dapat berdampak pada kesehatan pernapasan warga serta mengganggu aktivitas penerbangan di sekitar wilayah Nusa Tenggara Timur. Lana Saria juga mengungkapkan bahwa erupsi ini seringkali disertai dengan suara gemuruh dengan intensitas lemah hingga sedang, yang dapat terdengar hingga ke pemukiman warga di kaki gunung, menambah suasana mencekam di tengah peningkatan status Siaga ini.
Ancaman fisik nyata juga terlihat dari lontaran material erupsi yang dilaporkan menjangkau jarak sekitar 300 meter dari pusat kawah, mengarah secara dominan ke sektor tenggara. Lebih lanjut, pengamatan lapangan menunjukkan adanya aliran lava yang mulai keluar dari bibir kawah menuju sektor barat dengan jarak jangkauan mencapai 100 meter. Meskipun guguran material tidak selalu teramati secara visual secara jelas mengenai arah dan jarak pastinya karena terkendala faktor cuaca dan kabut, namun data instrumental memastikan bahwa proses guguran lava pijar terus terjadi. Aliran lava ini merupakan ancaman serius karena suhu panas ekstrem yang dibawanya dapat menghanguskan vegetasi dan infrastruktur apa pun yang berada di jalurnya, terutama jika terjadi peningkatan volume magma yang keluar secara mendadak.
Menanggapi eskalasi bahaya ini, Badan Geologi mengeluarkan serangkaian imbauan tegas bagi masyarakat setempat, wisatawan, maupun pendaki. Seluruh pihak dilarang keras memasuki dan melakukan aktivitas apa pun dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok. Radius zona bahaya ini ditetapkan berdasarkan perhitungan jangkauan lontaran material pijar dan potensi aliran lava. Selain itu, masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman bahaya sekunder berupa guguran longsoran lava dan awan panas yang dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama pada sektor-sektor yang telah dipetakan sebagai wilayah rawan, yakni sektor selatan, tenggara, barat, serta sektor timur laut. Sektor-sektor ini memiliki bukaan kawah atau kemiringan lereng yang memfasilitasi pergerakan material vulkanik secara cepat menuju dataran yang lebih rendah.
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata diharapkan segera melakukan koordinasi intensif dengan pos pengamatan gunung api untuk memperbarui peta kawasan rawan bencana (KRB). Masyarakat juga diingatkan untuk selalu menyiapkan masker pelindung guna menghindari dampak buruk abu vulkanik terhadap sistem pernapasan serta menjaga sumber air bersih dari kontaminasi debu belerang. Mengingat karakteristik Gunung Ile Lewotolok yang sering mengalami perubahan aktivitas secara mendadak, kepatuhan terhadap rekomendasi teknis dari Badan Geologi menjadi kunci utama dalam upaya mitigasi guna mencegah terjadinya tragedi kemanusiaan di tengah fenomena alam yang luar biasa ini.


















