Dalam sebuah laga yang seharusnya menjadi perayaan penuh dominasi, Arsenal berhasil mengukuhkan posisinya di puncak klasemen Premier League setelah menundukkan Sunderland dengan skor meyakinkan 3-0 di Emirates Stadium pada Sabtu malam, 7 Februari 2026. Kemenangan pada pekan ke-25 Liga Inggris musim 2025/2026 ini dipersembahkan melalui gol pembuka dari Martin Zubimendi dan dwigol cemerlang dari pemain pengganti, Viktor Gyokeres. Namun, di balik raihan tiga poin krusial yang memperlebar jarak Arsenal di puncak, terselip nada kekecewaan dari sebagian suporter yang hadir, menyiratkan bahwa manajer Mikel Arteta “gagal menjawab ekspektasi” mereka untuk sebuah pesta gol yang lebih besar, meskipun hasil akhir sudah sangat memuaskan secara matematis.
Pertandingan ini menjadi etape penting bagi Arsenal dalam perburuan gelar juara Premier League. Sejak peluit kick-off dibunyikan, intensitas permainan sudah terasa, namun gol pertama baru tercipta menjelang jeda. Adalah Martin Zubimendi yang memecah kebuntuan pada menit ke-42, memanfaatkan umpan terukur dari Leandro Trossard, memberikan keunggulan tipis bagi The Gunners saat turun minum. Memasuki babak kedua, Mikel Arteta menunjukkan kepiawaian taktisnya dengan melakukan pergantian pemain yang terbukti sangat efektif. Ia menarik keluar Kai Havertz dan memasukkan striker timnas Swedia, Viktor Gyokeres. Keputusan ini langsung membuahkan hasil manis ketika Gyokeres tidak butuh waktu lama untuk mencatatkan namanya di papan skor, mencetak gol pada menit ke-66 dan kemudian melengkapi dwigolnya di masa tambahan waktu, tepatnya menit ke-90+1. Kemenangan 3-0 ini secara signifikan memperkuat posisi Arsenal di puncak klasemen, mengumpulkan 56 poin dan unggul sembilan angka dari pesaing terdekat mereka, Manchester City, yang berada di urutan kedua. Sementara itu, Sunderland, sebagai tim promosi, menunjukkan performa yang cukup menjanjikan sepanjang musim, menempati urutan kesembilan dengan 36 poin, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi.
Namun, sorotan menarik muncul dari reaksi para suporter di Emirates. Meskipun tim kesayangan mereka meraih kemenangan telak dan mengamankan posisi teratas, terdengar “teriakan kekecewaan” yang mengindikasikan ketidakpuasan. Mantan kiper timnas Inggris dan pundit BBC, Rob Green, menyoroti fenomena ini. Ia mengakui bahwa raihan tiga poin bagi Meriam London di kandang adalah hasil yang sempurna, namun ia juga menangkap adanya gelombang kekecewaan di balik euforia kemenangan tersebut. Menurut Green, para penggemar Arsenal secara jelas menginginkan lebih banyak gol dari tim mereka. “Para penggemar Arsenal mendesak mereka untuk mencetak gol lebih banyak, tetapi para pemain Arsenal merasa cukup puas hanya dengan mempertahankannya dengan jumlah gol itu hingga laga usai,” terang Rob Green, seperti dikutip dari laman BBC. Pernyataan ini menyoroti diskrepansi antara ekspektasi suporter yang haus akan hiburan dan gol melimpah, dengan pragmatisme tim yang mungkin merasa tiga gol sudah cukup untuk mengamankan kemenangan penting dalam perburuan gelar.
Analisis Taktis dan Performa Tim
Secara statistik, pertandingan ini menyajikan dinamika yang menarik. Meskipun Arsenal berhasil mencetak tiga gol tanpa balas, penguasaan bola justru menjadi milik tim tamu. Sunderland berhasil menguasai 51 persen bola, menunjukkan keberanian mereka untuk tidak bermain bertahan total sebagai tim promosi yang bertandang ke markas pemuncak klasemen. Ini adalah pendekatan yang tidak pragmatis, melainkan tampil terbuka, sebuah strategi yang diakui oleh mantan pemain Chelsea dan timnas Inggris, Chris Sutton. “Sunderland benar-benar memberi mereka tekanan sore ini, tetapi mereka selalu menemukan cara untuk menang,” tegas Sutton, menggarisbawahi bagaimana Arsenal, bahkan ketika tidak dalam performa terbaiknya, memiliki mentalitas juara untuk mengamankan hasil. Dari segi efektivitas serangan, Meriam London membukukan empat tembakan tepat sasaran dari total 13 percobaan, sementara Sunderland hanya mampu menciptakan empat percobaan tembakan tanpa satupun yang mengancam gawang David Raya. Efisiensi Arsenal dalam memanfaatkan peluang, terutama setelah masuknya Gyokeres, menjadi kunci kemenangan ini, meskipun jumlah percobaan tembakan tidak mencerminkan dominasi mutlak yang diharapkan sebagian suporter.

Narasi seputar “kekecewaan suporter” dan “Arteta gagal menjawab ekspektasi” perlu dilihat dari beberapa perspektif. Di satu sisi, sebagai tim yang memimpin liga dan bermain di kandang, wajar jika penggemar mengharapkan lebih dari sekadar kemenangan 3-0, terutama jika lawan adalah tim promosi. Mereka mungkin mendambakan dominasi total, gol-gol indah, dan performa yang benar-benar menghancurkan lawan. Namun, dari sudut pandang manajerial, Mikel Arteta kemungkinan besar sangat puas dengan hasil ini. Kemenangan tiga gol tanpa kebobolan adalah hasil yang ideal dalam perburuan gelar yang ketat. Referensi tambahan dari BolaSport.com bahkan menyebutkan “Bahagianya Mikel Arteta usai Arsenal Menang Tiga Gol Tanpa Kebobolan…”, yang mengindikasikan bahwa secara profesional, manajer asal Spanyol itu sangat senang dengan performa timnya. Ini menunjukkan adanya perbedaan antara ekspektasi fans terhadap “hiburan” dan fokus Arteta pada “hasil” yang krusial. Dalam kompetisi sekelas Premier League, tiga poin dan clean sheet adalah pencapaian berharga, terlepas dari jumlah gol yang dicetak.
Detail Formasi dan Kunci Pertandingan

















