Fenomena alam yang ekstrem dan tantangan geografis di wilayah pesisir utara Jawa Tengah kembali mencatatkan sebuah kisah keteguhan hati yang luar biasa. Di tengah kepungan banjir yang merendam sebagian besar wilayah Kabupaten Pekalongan, sebuah momen sakral pernikahan tetap dilangsungkan dengan penuh khidmat di Desa Pacar, Kecamatan Tirto, pada Minggu (18/1). Peristiwa ini bukan sekadar seremoni formalitas belaka, melainkan sebuah manifestasi dari resiliensi masyarakat lokal dalam menghadapi bencana tahunan yang kerap melumpuhkan aktivitas ekonomi dan sosial. Pasangan pengantin yang menjadi sorotan publik ini memilih untuk tidak menyerah pada keadaan, meskipun lokasi resepsi yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan indah, bertransformasi menjadi area genangan air kecokelatan yang cukup dalam. Keputusan ini diambil setelah melalui pertimbangan matang dan koordinasi keluarga yang intens, mengingat seluruh persiapan teknis dan logistik telah mencapai tahap final jauh sebelum bencana hidrometeorologi tersebut melanda kawasan pemukiman mereka.
Kronologi bencana ini bermula sejak Jumat (16/1) malam, ketika intensitas curah hujan yang tinggi mulai mengguyur wilayah Tirto dan sekitarnya tanpa henti. Debit air yang meluap dari saluran drainase yang tidak lagi mampu menampung volume air, ditambah dengan fenomena penurunan muka tanah yang cukup signifikan di wilayah Pekalongan, menyebabkan air mulai merangsek masuk ke area pemukiman warga Desa Pacar. Hanya dalam hitungan jam, jalanan desa yang semula kering berubah menjadi aliran sungai kecil, dan pada Sabtu pagi, air sudah mulai melewati ambang pintu rumah-rumah warga, termasuk kediaman mempelai wanita yang telah didekorasi sedemikian rupa untuk menyambut hari bahagia tersebut. Ketegangan sempat menyelimuti pihak keluarga, namun semangat untuk menuntaskan janji suci di hadapan penghulu dan tamu undangan menjadi motor penggerak utama untuk tetap melanjutkan acara sesuai jadwal yang telah ditetapkan sejak berbulan-bulan sebelumnya.
Resiliensi di Balik Dekorasi: Tantangan Logistik dan Teknis
Menyelenggarakan pesta pernikahan di tengah banjir setinggi lutut orang dewasa, atau berkisar antara 50 hingga 60 sentimeter, menghadirkan tantangan logistik yang sangat kompleks dan belum pernah terbayangkan sebelumnya. Tenda-tenda hajatan yang biasanya berdiri kokoh di atas tanah kering, kini harus berdiri di tengah genangan air yang merendam kaki-kaki besi penyangganya. Karpet merah yang seharusnya menjadi jalur elegan bagi tamu undangan pun terpaksa dibiarkan terendam, menciptakan pemandangan kontras antara kemewahan dekorasi pelaminan dengan realitas alam yang sedang bergejolak. Pihak katering dan kru dekorasi harus bekerja ekstra keras untuk memastikan peralatan elektronik, kabel-kabel listrik, serta hidangan makanan tetap aman dari jangkauan air guna menghindari risiko korsleting listrik maupun kontaminasi air banjir yang kotor. Meja-meja prasmanan ditinggikan menggunakan penyangga tambahan agar tetap bisa dinikmati oleh para tamu yang datang dengan menerjang genangan air menggunakan sepatu bot atau bahkan bertelanjang kaki.
Keanggunan mempelai wanita menjadi elemen yang paling memukau dalam peristiwa ini. Meskipun lingkungan di sekitarnya dipenuhi air yang membawa material lumpur, ia tetap tampil paripurna dengan busana pengantin yang sarat akan detail payet dan bordir halus. Riasan wajah atau make-up yang diaplikasikan oleh penata rias profesional tampak tetap segar dan tidak luntur, memberikan kontras visual yang dramatis terhadap latar belakang air banjir yang keruh. Sang mempelai wanita harus ekstra hati-hati saat melangkah menuju kursi pelaminan, mengangkat sedikit gaun panjangnya agar tidak basah kuyup terkena air. Ketegaran yang terpancar dari wajah kedua mempelai seolah memberikan pesan bahwa cinta dan komitmen mereka jauh lebih kuat daripada rintangan alam yang sedang mereka hadapi. Para tamu undangan pun, yang sebagian besar merupakan warga sekitar yang juga terdampak banjir, menunjukkan solidaritas yang tinggi dengan tetap hadir memberikan doa restu, meskipun mereka harus basah-basahan untuk mencapai lokasi acara.
Dampak Geografis dan Refleksi Sosial Masyarakat Pekalongan
Secara jurnalistik, peristiwa di Desa Pacar ini mencerminkan masalah yang lebih besar terkait kerentanan wilayah Pekalongan terhadap banjir rob dan banjir hujan. Kecamatan Tirto merupakan salah satu titik terparah yang sering mengalami genangan air dalam durasi yang lama akibat topografi wilayah yang rendah. Bagi warga setempat, beradaptasi dengan air sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang terpaksa dijalani. Pernikahan di tengah banjir ini bukan lagi sekadar anomali, melainkan sebuah bentuk adaptasi sosial di mana kehidupan harus terus berjalan (the show must go on) meskipun infrastruktur pendukung tidak lagi memadai. Hal ini juga menunjukkan betapa pentingnya nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong di pedesaan Jawa, di mana tetangga dan kerabat bahu-membahu membantu jalannya acara, mulai dari mengamankan barang-barang berharga hingga membantu mobilitas tamu di tengah genangan air.
Selain aspek sosial, aspek ekonomi dari penyelenggaraan acara ini juga patut diperhatikan. Pembatalan acara secara mendadak akan menimbulkan kerugian finansial yang sangat besar bagi keluarga, mengingat uang muka untuk vendor katering, dekorasi, dokumentasi, hingga sewa tenda biasanya tidak dapat dikembalikan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, melanjutkan acara di tengah banjir seringkali dianggap sebagai pilihan paling rasional secara ekonomi, meskipun harus mengorbankan kenyamanan. Fenomena ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah daerah mengenai mendesaknya perbaikan infrastruktur pengendali banjir di wilayah Tirto, agar momen-momen sakral dan penting dalam kehidupan masyarakat tidak lagi harus terganggu oleh bencana yang sebenarnya bisa dimitigasi dengan perencanaan tata ruang dan sistem drainase yang lebih baik.
Sebagai penutup, resepsi pernikahan di Desa Pacar ini akan dikenang bukan karena kemewahannya, melainkan karena narasi perjuangan dan ketabahannya. Foto-foto dan video yang beredar luas di media sosial mengenai pernikahan ini memicu simpati sekaligus kekaguman dari netizen di seluruh Indonesia. Keberhasilan pasangan ini dalam melaksanakan prosesi hingga selesai membuktikan bahwa semangat manusia untuk merayakan kehidupan dan cinta tidak dapat dipadamkan oleh air bah sekalipun. Momen ini menjadi simbol bahwa di tengah kesulitan yang paling dalam, kebahagiaan tetap bisa ditemukan dan dirayakan, memberikan inspirasi bagi banyak orang yang mungkin sedang menghadapi badai dalam hidup mereka masing-masing, baik secara harfiah maupun kiasan.

















