Dalam gelaran fiskal tahun 2025, PT Pertamina EP (PEP) Zona 4 secara gemilang mencatatkan pencapaian finansial yang patut diacungi jempol, melampaui ekspektasi yang telah ditetapkan. Perusahaan yang bergerak di sektor hulu minyak dan gas bumi ini berhasil membukukan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$887,44 juta, sebuah angka yang jika dikonversikan ke dalam Rupiah mencapai sekitar Rp 14,97 triliun, dengan asumsi kurs Rp 16.860,71 per dolar Amerika Serikat. Angka ini tidak hanya menunjukkan performa yang solid, tetapi juga melampaui target EBITDA yang sebelumnya dipatok sebesar US$865,96 juta. Keberhasilan ini merupakan buah dari kombinasi strategis antara peningkatan volume produksi migas dan penerapan manajemen biaya yang semakin efisien di seluruh lini operasional.
General Manager PEP Zona 4, Djudjuwanto, dalam sebuah pernyataan tertulis yang dirilis pada Senin, 9 Februari 2026, mengungkapkan bahwa capaian luar biasa ini merupakan manifestasi dari komitmen berkelanjutan perusahaan dalam menjaga keandalan operasional sekaligus mengoptimalkan efisiensi. “Dengan tetap mengedepankan efisiensi dan keandalan operasi, PEP Zona 4 terus menjaga kinerja keuangan agar tetap solid sekaligus mendukung pasokan energi nasional,” ujar Djudjuwanto. Pernyataan ini menegaskan bahwa kinerja keuangan yang kuat bukan sekadar angka semata, melainkan indikator langsung dari kontribusi PEP Zona 4 dalam memastikan ketersediaan energi yang stabil bagi kebutuhan bangsa.
Strategi Efisiensi Biaya dan Peningkatan Produksi Migas
Lebih jauh lagi, Djudjuwanto memaparkan detail mengenai keberhasilan PEP Zona 4 dalam menekan struktur biaya operasionalnya. Sepanjang tahun 2025, perusahaan berhasil menurunkan biaya produksi minyak dan gas bumi menjadi US$9,37 per barel setara minyak (BOE). Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu US$10,49 per BOE. Tidak hanya biaya produksi, efisiensi juga terlihat jelas pada biaya operasi secara keseluruhan, yang berhasil ditekan menjadi US$11,18 per BOE, berbanding dengan US$11,63 per BOE pada tahun 2024. Penurunan biaya ini menjadi salah satu pilar utama yang menopang profitabilitas perusahaan.
Kinerja keuangan yang impresif ini, menurut Djudjuwanto, berjalan seiring sejalan dengan peningkatan volume produksi migas yang berhasil dicapai. Produksi minyak mentah dari PEP Zona 4 pada tahun 2025 tercatat sebesar 27.642 barel per hari (BOPD), yang berarti mengalami kenaikan sebesar 6,6 persen jika dibandingkan dengan pencapaian tahun 2024. Sementara itu, produksi gas alam juga menunjukkan performa yang positif, dengan catatan sebesar 530,9 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). Pertumbuhan produksi ini menjadi fondasi krusial yang memungkinkan perusahaan untuk terus menjaga momentum positif dalam kinerja keuangannya.
Optimalisasi Lapangan dan Disiplin Pengelolaan Biaya
Djudjuwanto menekankan bahwa pertumbuhan produksi migas merupakan elemen fundamental yang menopang keberhasilan finansial perusahaan. Pendekatan optimalisasi lapangan yang dilakukan secara berkelanjutan, didukung oleh disiplin dalam pengelolaan biaya di setiap tingkatan, memungkinkan PEP Zona 4 untuk secara konsisten menjaga performa operasional dan finansialnya pada level yang sangat kuat. Strategi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan keandalan sumur produksi, penerapan teknologi yang lebih efisien, hingga manajemen rantai pasok yang optimal, semuanya berujung pada peningkatan volume produksi dan penurunan biaya per unit.
Sebagai bagian integral dari Subholding Upstream Pertamina, yaitu PHR Regional Sumatra, PEP Zona 4 memiliki cakupan operasional yang luas. Perusahaan ini mengelola tujuh wilayah kerja (WK) yang sebelumnya dioperasikan oleh PT Pertamina EP dan PT Pertamina Hulu Energi. Ketujuh wilayah kerja tersebut meliputi PEP Prabumulih Field, PEP Limau Field, PEP Adera Field, PEP Pendopo Field, PEP Ramba Field, PHE Ogan Komering, dan PHE Raja Tempirai. Keberagaman lokasi dan karakteristik reservoir di wilayah kerja ini menuntut strategi pengelolaan yang adaptif dan terintegrasi untuk memaksimalkan potensi produksi.
Secara geografis, operasi yang dijalankan oleh PEP Zona 4 membentang di wilayah administratif yang cukup luas di Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan operasionalnya terpusat di dua kota besar, yaitu Prabumulih dan Palembang, serta mencakup sembilan kabupaten. Kabupaten-kabupaten tersebut adalah Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Lahat, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ulu. Keberadaan di wilayah-wilayah ini menempatkan PEP Zona 4 sebagai salah satu pemain kunci dalam perekonomian daerah, baik melalui penyerapan tenaga kerja maupun kontribusi pendapatan daerah.

















