Pasar modal Indonesia menunjukkan performa yang sangat impresif pada perdagangan awal pekan, Senin (9/2/2026), di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus kembali level psikologis 8.000 pada penutupan sesi I. Kenaikan signifikan sebesar 0,98 persen atau setara dengan tambahan 77,559 poin membawa indeks ke posisi 8.012,819, sebuah pencapaian yang mencerminkan optimisme tinggi di kalangan investor domestik maupun asing. Momentum penguatan ini dipicu oleh kombinasi sentimen positif dari bursa regional Asia yang bergerak serempak di zona hijau serta derasnya aliran modal masuk (capital inflow) ke saham-saham berkapitalisasi besar. Pergerakan indeks hari ini dimulai dari level pembukaan di 7.935,26, sempat menyentuh level terendah di 7.863,01 pada awal perdagangan, sebelum akhirnya melonjak tajam hingga mencapai posisi tertinggi di 8.020,81, sebelum sedikit melandai di akhir sesi pertama.
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang paruh pertama hari ini berlangsung sangat dinamis dengan likuiditas yang cukup tebal. Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 9,595 triliun, sebuah angka yang menunjukkan partisipasi pasar yang aktif di tengah upaya indeks mempertahankan posisinya di atas level 8.000. Volume perdagangan juga mencatatkan angka yang masif, yakni sebesar 23,355 miliar saham yang berpindah tangan. Intensitas perdagangan ini tercermin dari frekuensi transaksi yang mencapai 1.416.480 kali, menandakan adanya rotasi sektor dan aksi beli yang tersebar merata di berbagai lapisan saham. Tingginya volume dan nilai transaksi ini menjadi indikator kuat bahwa reli IHSG kali ini didukung oleh fundamental pasar yang solid, bukan sekadar fluktuasi sesaat.
Kondisi pasar secara keseluruhan menunjukkan dominasi yang jelas dari kubu pembeli (bullish). Berdasarkan data perdagangan, terdapat 440 saham yang berhasil menguat, sementara 265 saham mengalami koreksi atau melemah, dan 253 saham lainnya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga dibandingkan penutupan sebelumnya. Keperkasaan IHSG pada sesi I ini juga berdampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar (market cap) Bursa Efek Indonesia yang kini berada di level fantastis, yakni Rp 14.527,575 triliun. Angka kapitalisasi ini mencerminkan pertumbuhan nilai aset perusahaan-perusahaan tercatat yang semakin besar, sekaligus memberikan daya tarik tambahan bagi investor institusi global untuk terus menempatkan dananya di pasar ekuitas Indonesia.
Analisis Sektoral dan Deretan Saham Top Gainers
Penguatan IHSG pada sesi ini tidak lepas dari kontribusi signifikan sejumlah emiten yang mencatatkan kenaikan harga cukup tajam. Di jajaran saham-saham unggulan atau blue chip, emiten seperti AMRT (Sumber Alfaria Trijaya Tbk.) dan DSSA (Dian Swastatika Sentosa Tbk.) menjadi motor penggerak utama dalam indeks LQ45, yang turut mendorong indeks komposit ke zona hijau. Namun, jika melihat persentase kenaikan tertinggi secara keseluruhan, pasar dikejutkan oleh performa impresif dari saham-saham lapis kedua dan ketiga. YELO (Yelooo Integra Datanet Tbk.) memimpin barisan top gainers dengan lonjakan drastis sebesar 22,06 persen, membawanya ke level harga 83 per saham. Kenaikan ini diikuti oleh BUVA (Bukit Uluwatu Villa Tbk.) yang menguat 18,38 persen ke level 1.095, menunjukkan adanya gairah kembali pada sektor pariwisata dan properti mewah.
Selain itu, sektor manufaktur dan infrastruktur pendukung juga memberikan sumbangsih positif melalui kenaikan harga saham PIPA (Multi Makmur Lemindo Tbk.) yang melonjak 14,50 persen ke posisi 150. Sektor industri logam pun tidak ketinggalan, di mana INAI (Indal Aluminium Industry Tbk.) mencatatkan apresiasi sebesar 13,89 persen ke level 246. Terakhir, di sektor properti dan real estat, TRUE (Triniti Dinamik Tbk.) berhasil naik 12,95 persen ke level 218. Diversifikasi sektor yang masuk dalam jajaran top gainers ini mengindikasikan bahwa minat investor tidak hanya terfokus pada sektor perbankan atau energi, tetapi juga mulai merambah ke sektor-sektor yang memiliki potensi pertumbuhan jangka menengah dengan valuasi yang masih menarik.
Korelasi Global: Pengaruh Lonjakan Bursa Asia terhadap IHSG
Sentimen positif yang menyelimuti IHSG pada perdagangan hari ini tidak dapat dipisahkan dari kondisi bursa saham di kawasan Asia yang bergerak sangat agresif. Indeks Nikkei 225 di Jepang menjadi sorotan utama setelah melonjak luar biasa sebesar 4,07 persen atau bertambah lebih dari 2.200 poin ke level 56.463,199. Lonjakan di Tokyo ini memberikan efek domino ke bursa-bursa tetangga, menciptakan atmosfer “risk-on” di mana investor cenderung lebih berani mengambil risiko di pasar berkembang seperti Indonesia. Di Hong Kong, Indeks Hang Seng (HSI) juga menunjukkan performa solid dengan kenaikan 1,35 persen ke posisi 26.918,429, sementara Indeks Shanghai Composite di China menguat 1,13 persen ke level 4.111,450, didorong oleh ekspektasi stimulus ekonomi lebih lanjut dari pemerintah setempat.
Di kawasan Asia Tenggara, Indeks Straits Times (STI) Singapura turut mengekor tren penguatan dengan kenaikan sebesar 0,66 persen ke level 4.966,779. Keselarasan pergerakan bursa regional ini menunjukkan bahwa faktor makroekonomi kawasan, termasuk stabilitas nilai tukar mata uang terhadap dolar AS dan prospek suku bunga global, sedang berada dalam kondisi yang menguntungkan bagi pasar ekuitas. Bagi IHSG, penguatan serentak di Asia ini memberikan landasan yang kuat bagi indeks untuk tidak hanya sekadar menyentuh level 8.000, tetapi juga berpotensi menjadikannya sebagai level dukungan (support) baru yang kokoh. Para analis memperkirakan bahwa jika momentum ini terjaga hingga penutupan sesi II, IHSG memiliki peluang besar untuk mencetak rekor penutupan harian tertinggi baru di tahun 2026.
Menutup perdagangan sesi pertama, para pelaku pasar kini menantikan rilis data ekonomi domestik serta perkembangan kebijakan moneter global yang akan menjadi katalis untuk sesi berikutnya. Meskipun IHSG berada di zona hijau yang cukup tebal, investor tetap diingatkan untuk waspada terhadap potensi aksi ambil untung (profit taking) di akhir perdagangan, mengingat kenaikan yang sudah cukup tinggi dalam waktu singkat. Namun, dengan nilai transaksi yang tetap terjaga di atas rata-rata harian dan dukungan dari bursa global yang membara, prospek IHSG untuk tetap bertahan di atas level 8.000 hingga akhir hari perdagangan Senin ini terlihat sangat terbuka lebar. Kepercayaan diri pasar saat ini mencerminkan resiliensi ekonomi Indonesia di mata investor global.

















