Sebuah pencapaian historis Timnas Futsal Indonesia sebagai runner-up Piala Asia Futsal 2026 kini diselimuti ketidakpastian terkait apresiasi finansial. Para pahlawan olahraga yang telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional belum menerima bonus atas prestasi gemilang mereka. Federasi Futsal Indonesia (FFI), melalui Ketua Umumnya, Michael Sianipar, secara terbuka mengakui keterbatasan kapasitas federasi dalam menyediakan bonus tersebut dan sangat mengharapkan uluran tangan dari berbagai pihak, terutama pemerintah, untuk memberikan penghargaan yang layak bagi para atlet. Pertanyaan mengenai bonus ini pun telah dilontarkan langsung oleh para pemain, menambah urgensi penyelesaian masalah ini. Lantas, bagaimana nasib bonus para punggawa Timnas Futsal yang telah berjuang keras demi Merah Putih?
Perjuangan Tanpa Imbalan Finansial: Menanti Apresiasi Sang Runner-Up
Prestasi gemilang Timnas Futsal Indonesia di Piala Asia Futsal 2026 yang berhasil meraih predikat runner-up seharusnya menjadi momen kebanggaan nasional yang diiringi dengan apresiasi yang memadai. Namun, realitas yang dihadapi para pemain justru berbanding terbalik. Hingga kini, belum ada keputusan konkret mengenai pemberian bonus bagi tim yang telah berjuang mati-matian di kompetisi bergengsi tersebut. Situasi ini menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan di kalangan atlet yang telah memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Mereka, yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi meraih kemenangan, kini menanti sebuah bentuk penghargaan yang setimpal dengan jerih payah mereka.
Ketua Umum Federasi Futsal Indonesia (FFI), Michael Sianipar, tidak menutup mata terhadap kondisi ini. Dalam sebuah pernyataan kepada awak media di Jakarta pada Senin (9/2), Michael Sianipar secara blak-blakan mengakui bahwa FFI memiliki keterbatasan kapasitas dalam menyediakan bonus bagi para pemain. Ia menyatakan bahwa untuk merealisasikan pemberian bonus ini, federasi membutuhkan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Pengakuan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi FFI dalam mengelola aspek finansial, terutama ketika menyangkut apresiasi terhadap prestasi atlet di tingkat internasional.
“Ya, jadi kalau bicara soal bonus, ya saya juga bicara apa adanya. Saya juga ya harus jujur, saya mungkin kapasitasnya terbatas,” ujar Michael Sianipar, menekankan kejujurannya terkait kemampuan federasi. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa beban untuk memberikan bonus tidak sepenuhnya berada di pundak FFI, melainkan memerlukan kolaborasi yang lebih luas.
Seruan untuk Perhatian Pemerintah dan Sektor Swasta
Michael Sianipar secara tegas menyuarakan harapannya agar pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang serupa dengan yang diberikan pada ajang SEA Games. Ia membandingkan nilai prestasi Timnas Futsal di kancah Asia dengan medali emas yang diraih di SEA Games, menekankan bahwa pencapaian di Piala Asia Futsal 2026 tidak kalah hebatnya. Perbandingan ini bertujuan untuk menyoroti betapa pentingnya pengakuan dan apresiasi yang setara bagi setiap prestasi olahraga nasional, terlepas dari cabang olahraganya.
“Menurut saya prestasi kita di AFC ini tidak kalah hebat dari emas SEA Games. Tentu ini juga menjadi pertanyaan dari para pemain ya, ada juga yang sudah sampaikan ke saya bahwa mereka berharap ada apresiasi, begitu,” jelas Michael, mengindikasikan bahwa para pemain secara aktif telah menyampaikan aspirasi mereka mengenai bonus. Keterlibatan langsung para pemain dalam menanyakan bonus menunjukkan betapa pentingnya isu ini bagi mereka, baik dari segi motivasi maupun pengakuan atas kerja keras mereka.
Lebih lanjut, Michael Sianipar mengungkapkan harapannya untuk perbaikan manajemen FFI di masa mendatang. Ia menginginkan agar semua cabang olahraga, termasuk futsal, mendapatkan perhatian yang setara dalam hal apresiasi finansial. Ini mencerminkan visi Michael untuk menciptakan ekosistem olahraga yang lebih adil dan suportif, di mana setiap prestasi dihargai dengan layak.
“Dan harapan saya ke depan ini federasi memang dikelola secara profesional. Bukan hanya orang-orang yang mungkin punya modal besar jadi Ketua Umum gitu. Tapi kalau saya, ya keterbatasan saya, saya tidak sanggup memberikan bonus secara langsung. Tapi saya berharap dari swasta, dari sponsor-sponsor, dan tentunya perhatian dari pemerintah,” paparnya lebih lanjut. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Michael Sianipar tidak hanya berfokus pada solusi jangka pendek, tetapi juga pada reformasi struktural FFI agar lebih mandiri dan mampu memberikan apresiasi yang layak di masa depan. Ketergantungan pada bantuan pemerintah dan sponsor menjadi sebuah keniscayaan saat ini, namun visi profesionalisme federasi menjadi kunci keberlanjutan.
Michael Sianipar menutup pernyataannya dengan penegasan akan pentingnya apresiasi dan motivasi bagi Timnas Futsal, serta seluruh cabang olahraga di Indonesia. Ia berharap agar aspirasi ini dapat tersampaikan kepada para pemangku kepentingan yang memiliki kapasitas untuk memberikan bantuan dan dukungan. “Karena kita semua di sini mengakui kemarin itu sudah sangat luar biasa. Dan kita juga harus bisa terus memberikan apresiasi dan motivasi agar teman-teman Timnas Futsal, dan menurut saya semua cabang olahraga, bukannya bukan cuma futsal, juga mendapatkan apresiasi yang selayaknya. Jadi saya harap hal ini juga bisa sampai kepada para pemimpin yang punya kapasitas untuk bisa membantu memberikan apresiasi tersebut,” tandasnya. Seruan ini menjadi pengingat bahwa apresiasi bukan hanya sekadar imbalan finansial, tetapi juga merupakan bentuk pengakuan atas dedikasi dan pengorbanan para atlet yang telah berjuang membawa nama bangsa di kancah internasional.

















