Kota Surabaya berduka mendalam menyusul kabar berpulangnya Dominikus Adi Sutarwijono, Ketua DPRD Kota Surabaya dua periode sekaligus tokoh sentral PDI Perjuangan, yang menghembuskan napas terakhirnya di RS MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, pada Selasa malam, 10 Februari 2026, sekitar pukul 20.36 WIB akibat sakit yang dideritanya. Kepergian pria yang akrab disapa Cak Awi ini meninggalkan kekosongan besar di panggung politik Jawa Timur, mengingat peran vitalnya sebagai nakhoda legislatif yang baru saja kembali dipercaya memimpin periode 2024–2029. Kabar duka ini pertama kali terkonfirmasi melalui pesan berantai yang kemudian divalidasi oleh jajaran elit partai dan kolega terdekatnya di parlemen, menandai berakhirnya pengabdian panjang seorang politisi yang dikenal santun dan komunikatif dalam menjembatani aspirasi warga Kota Pahlawan.
Kondisi kesehatan Dominikus Adi Sutarwijono dikabarkan menurun dalam beberapa waktu terakhir, yang mengharuskannya menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit spesialis kanker dan penyakit dalam ternama di ibu kota, RS MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. Meskipun telah mendapatkan penanganan medis terbaik, takdir berkata lain bagi sosok kelahiran Blitar ini. Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono, memberikan pernyataan resmi yang penuh haru terkait berpulangnya sang kolega. Deni menyebutkan bahwa almarhum meninggal dalam kedamaian spiritual, seraya memohon doa dari seluruh lapisan masyarakat agar arwah beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. Kehilangan ini tidak hanya dirasakan oleh keluarga besar PDI Perjuangan, tetapi juga oleh seluruh elemen pemerintahan di Kota Surabaya yang selama ini bersinergi erat dengan almarhum dalam merumuskan berbagai kebijakan publik.
Jejak Karier dan Dedikasi Dominikus Adi Sutarwijono di Kota Pahlawan
Lahir di Blitar pada 4 Agustus 1968, Dominikus Adi Sutarwijono membawa semangat intelektualitas yang kuat dalam setiap langkah politiknya. Ia merupakan alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, sebuah kawah candradimuka yang membentuk karakter kritis dan kepemimpinannya. Sebelum terjun sepenuhnya ke dunia politik praktis, Cak Awi memiliki latar belakang sebagai jurnalis, sebuah profesi yang mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi dan memahami dinamika sosial masyarakat secara mendalam. Bekal inilah yang kemudian membuatnya menjadi salah satu negosiator ulung di lingkungan DPRD Kota Surabaya, mampu merangkul berbagai faksi politik demi kepentingan pembangunan kota yang lebih luas.
Perjalanan politik formalnya dimulai secara resmi pada tahun 2003 saat ia memutuskan bergabung dengan PDI Perjuangan. Di bawah panji partai berlambang banteng moncong putih tersebut, karier Adi Sutarwijono melesat berkat loyalitas dan kecakapannya dalam berorganisasi. Ia mulai mencicipi kursi parlemen pada tahun 2012 melalui mekanisme Pergantian Antarwaktu (PAW), menggantikan rekan separtainya. Momentum ini menjadi titik awal bagi Adi untuk membuktikan kapasitasnya sebagai wakil rakyat yang progresif. Kepercayaan masyarakat Surabaya terhadapnya terbukti konsisten, di mana ia berhasil terpilih kembali secara berturut-turut pada Pemilu Legislatif 2014, 2019, hingga puncaknya pada Pemilu 2024, di mana ia kembali didapuk sebagai Ketua DPRD Kota Surabaya untuk periode kedua.
Selama menjabat sebagai Ketua DPRD, Adi Sutarwijono dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga harmoni antara eksekutif dan legislatif. Di bawah kepemimpinannya, DPRD Kota Surabaya berhasil mengesahkan berbagai Peraturan Daerah (Perda) strategis yang berfokus pada kesejahteraan sosial, pendidikan, dan kesehatan gratis bagi warga Surabaya. Ia bukan sekadar politisi yang duduk di belakang meja; Cak Awi seringkali turun langsung ke kampung-kampung untuk menyerap aspirasi “wong cilik”, memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Kota Surabaya selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan. Gaya kepemimpinannya yang inklusif membuatnya dihormati tidak hanya oleh kawan separtai, tetapi juga oleh lawan politiknya di parlemen.
Kepergian Sang Nakhoda: Duka Mendalam bagi PDI Perjuangan dan Surabaya
Meninggalnya Adi Sutarwijono menciptakan gelombang duka yang masif di kalangan kader PDI Perjuangan. Sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, ia dianggap sebagai arsitek di balik kemenangan-kemenangan elektoral partai di wilayah tersebut. Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, turut mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. Fathoni mengenang almarhum sebagai sosok kakak sekaligus mentor yang selalu memberikan arahan dengan kepala dingin. Ia mengonfirmasi bahwa setelah proses administrasi dan pemulasaraan di Jakarta selesai, jenazah almarhum akan segera diterbangkan menuju Surabaya untuk disemayamkan di Rumah Duka Grand Heaven. Rencana ini dilakukan agar keluarga, kerabat, serta warga Surabaya yang ingin memberikan penghormatan terakhir memiliki kesempatan untuk melepas kepergian sang tokoh.
Proses pemulangan jenazah dari Jakarta ke Surabaya dikoordinasikan secara ketat oleh jajaran DPD PDI Perjuangan Jawa Timur dan Sekretariat DPRD Surabaya. Kehadiran jenazah di Rumah Duka Grand Heaven diprediksi akan disambut oleh ribuan pelayat, mengingat jejaring sosial dan politik almarhum yang sangat luas. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, bendera setengah tiang direncanakan akan dikibarkan di lingkungan kantor pemerintahan Kota Surabaya. Almarhum meninggalkan warisan berupa tata kelola legislatif yang transparan dan akuntabel, serta semangat pengabdian tanpa pamrih yang selalu ia tekankan kepada para kader muda partai dalam setiap kesempatan konsolidasi organisasi.
Kehilangan Dominikus Adi Sutarwijono adalah kehilangan salah satu putra terbaik yang dimiliki oleh Jawa Timur. Di tengah dinamika politik yang seringkali memanas, ia hadir sebagai penyejuk dan pemberi solusi. Dedikasinya selama dua dekade di dunia politik telah mewarnai transformasi Surabaya menjadi kota metropolitan yang tetap memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan. Kini, tugas berat menanti para penerusnya di DPRD Surabaya untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan yang telah ia rintis. Selamat jalan Cak Awi, dedikasi dan pengabdianmu akan selalu terukir dalam sejarah pembangunan Kota Surabaya dan diingat abadi oleh warga yang pernah kau bela aspirasinya.

















