Industri perfilman Tanah Air kembali disuguhi sebuah karya drama keluarga yang sarat akan makna mendalam melalui film terbaru berjudul Rumah Tanpa Cahaya. Dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung emosional di kawasan Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, pada Senin, 9 Februari 2026, aktor senior Ira Wibowo secara resmi memperkenalkan karakter Nurul, seorang ibu yang menjadi simbol kehangatan sekaligus pilar utama dalam sebuah rumah tangga. Film yang disutradarai oleh Ody C. Harahap ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 12 Februari 2026, membawa pesan krusial mengenai betapa seringnya peran seorang ibu dianggap sebagai rutinitas biasa hingga akhirnya cahaya tersebut meredup dan meninggalkan kekosongan yang tak tergantikan bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.
Ira Wibowo, yang kini menginjak usia 58 tahun, memerankan karakter Nurul dengan pendekatan yang sangat humanis dan penuh penghayatan. Nurul digambarkan sebagai sosok ibu yang sederhana, penuh perhatian, dan menjadi jantung yang memompa kehidupan serta keceriaan di dalam keluarga Qomar. Bagi Ira, kesempatan untuk menghidupkan karakter ini bukan sekadar menjalankan tugas profesional sebagai aktris, melainkan sebuah kehormatan luar biasa karena Nurul merupakan representasi dari sosok ibu ideal yang diidamkan oleh setiap anak. Namun, narasi film ini sengaja menyoroti sisi pahit dari realitas sosial, di mana dedikasi seorang ibu sering kali dipandang sebelah mata atau dianggap sebagai kewajiban yang sudah semestinya ada (taken for granted) oleh suami maupun anak-anaknya.
Refleksi Mendalam Ira Wibowo dan Esensi Kehadiran Ibu
Selama proses pendalaman karakter dan syuting, Ira mengaku banyak melakukan refleksi diri yang menyentuh ranah personalnya. Ia mengungkapkan betapa peran ini membuatnya merinding saat menyadari betapa vitalnya sentuhan seorang ibu dalam detail terkecil kehidupan sehari-hari yang sering luput dari apresiasi. Isak tangis sempat pecah dalam ruang konferensi pers saat para pemain, termasuk Ira, mengenang sosok orang tua mereka masing-masing. Dengan suara yang bergetar, Ira menceritakan bagaimana ia masih memiliki seorang ibu namun telah kehilangan sang ayah yang telah berpulang, sebuah pengalaman kehilangan yang membantunya menyelami emosi karakter Nurul dan dampak kepergiannya terhadap keluarga.
Alur cerita dalam Rumah Tanpa Cahaya secara dramatis menggambarkan kehancuran sebuah struktur keluarga ketika sang ibu tiba-tiba tiada. Tanpa kehadiran Nurul, rumah yang tadinya penuh dengan tawa, kehangatan, dan keteraturan berubah menjadi tempat yang dingin, sunyi, dan berantakan. Kehilangan figur pemersatu ini memaksa anggota keluarga lainnya untuk menghadapi realitas dunia yang keras tanpa sistem pendukung emosional yang selama ini mereka nikmati secara cuma-cuma. Film ini secara tajam memotret bagaimana sebuah rumah benar-benar kehilangan “cahayanya” ketika sosok yang paling banyak berkorban namun paling sedikit mengeluh itu pergi meninggalkan mereka dalam kegelapan emosional yang mendalam.
Poster film Rumah Tanpa Cahaya. Dok. Citra Sinema
Meskipun premis utamanya berangkat dari sebuah duka mendalam, Ira Wibowo menegaskan bahwa film ini bukanlah sebuah karya yang hanya bertujuan untuk mengeksploitasi kesedihan penonton. Fokus utama dari narasi yang dibangun oleh Ody C. Harahap adalah proses pemulihan atau healing sebuah keluarga pasca-tragedi. Ceritanya menitikberatkan pada bagaimana anggota keluarga yang ditinggalkan berupaya keras untuk menghadirkan kembali esensi cahaya, cinta kasih, dan kelembutan yang sempat hilang bersama kepergian sang ibu. Proses transformasi ini menunjukkan bahwa meskipun secara fisik sosok ibu telah tiada, nilai-nilai, didikan, dan kasih sayang yang telah ia tanamkan tetap bisa menjadi kompas bagi keluarga untuk menemukan kembali jalan pulang menuju kebahagiaan.
Sinergi Profesionalisme dan Kedekatan Emosional di Balik Layar
Keberhasilan Ira Wibowo dalam memerankan Nurul juga tidak lepas dari tantangan teknis dalam berakting. Karakter Nurul didesain sebagai sosok yang minim ekspresi dan tidak meledak-ledak, namun harus mampu memancarkan kekuatan cinta yang luar biasa melalui gestur-gestur sederhana. Ira harus mampu menyampaikan pesan kasih sayang hanya melalui tatapan mata, senyuman tipis, atau cara ia menyajikan makanan di meja makan untuk keluarganya. Profesionalisme Ira diuji untuk tetap menjaga konsistensi karakter yang tenang namun memiliki kedalaman emosi yang bisa dirasakan langsung oleh penonton. Ia menyebutkan bahwa tantangan terbesar adalah bagaimana tetap menjadi “ada” dan “terasa” dalam kesederhanaan akting yang tidak menonjolkan teknik vokal yang dramatis.
Chemistry yang kuat di antara para pemain menjadi salah satu kunci utama mengapa dinamika keluarga dalam film ini terasa begitu hidup dan organik. Ira Wibowo merasa sangat terbantu karena ia sudah sering bekerja sama dengan lawan mainnya dalam berbagai proyek film sebelumnya. Keakraban yang sudah terjalin dengan Donny Damara, yang memerankan sosok suami, serta Ridwan Ghany, Lavicky Nicholas, dan Dea Annisa sebagai anak-anak, memudahkan mereka untuk menciptakan interaksi yang tulus di depan kamera. Tidak ada kecanggungan yang berarti di antara mereka, sehingga energi yang dialirkan dalam setiap adegan, baik saat bahagia maupun saat berduka, terasa sangat nyata. Ira menekankan bahwa seluruh tim produksi bekerja dengan hati dan profesionalisme tinggi untuk memberikan sajian drama keluarga yang berkualitas.
Rumah Tanpa Cahaya

















