Dalam sebuah pencapaian bersejarah bagi sistem pertahanan nasional, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) berhasil mentransformasi infrastruktur sipil menjadi aset strategis militer melalui uji coba pendaratan pesawat tempur di Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Peristiwa monumental ini berlangsung di ruas Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung (Terpeka), tepatnya di wilayah Kabupaten Mesuji, Lampung, pada Rabu, 11 Februari 2026. Operasi taktis ini melibatkan dua jenis alutsista kebanggaan Indonesia, yakni jet tempur F-16 Fighting Falcon dan pesawat taktis Super Tucano, yang menggunakan badan jalan tol sebagai landasan pacu darurat (emergency runway). Keberhasilan simulasi ini menandai kali pertama dalam sejarah Indonesia di mana jalan tol secara resmi diuji coba dan difungsikan sebagai landasan pacu pesawat tempur, membuktikan bahwa konektivitas infrastruktur nasional kini memiliki nilai ganda sebagai pilar kedaulatan negara dalam situasi darurat.
Pelaksanaan uji coba yang sangat teknis dan berisiko tinggi ini memerlukan koordinasi lintas sektoral yang sangat ketat, terutama antara Kementerian Pertahanan, TNI AU, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta PT Hutama Karya (Persero) selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT). Penutupan sementara ruas jalan tol tersebut telah dimulai sejak tanggal 9 Februari 2026 pukul 15.00 WIB dan berlangsung hingga 11 Februari 2026 pukul 14.00 WIB. Fokus utama penutupan dilakukan pada segmen strategis yang membentang dari Gerbang Tol Lambu Kibang di KM 202+036 hingga Gerbang Tol Simpang Pematang di KM 239+907. Selama periode tiga hari tersebut, area tersebut disterilkan dari kendaraan sipil untuk memberikan ruang bagi tim teknis dalam mempersiapkan kondisi aspal, memastikan kebersihan landasan dari benda asing (Foreign Object Debris), serta mengatur sistem navigasi udara sementara guna menjamin keselamatan pendaratan pesawat tempur yang memiliki kecepatan tinggi.
Transformasi Infrastruktur Sipil Menjadi Landasan Pacu Strategis
Detail operasional di lapangan menunjukkan betapa presisinya latihan ini dilakukan. Pesawat Super Tucano, yang dikenal sebagai pesawat serang ringan berkemampuan kontra-insurgensi, harus melakukan prosedur persiapan pendaratan yang sangat teliti. Dilaporkan bahwa pesawat tersebut melakukan dua kali percobaan pendekatan (low pass) untuk memastikan kondisi angin dan visual landasan benar-benar aman sebelum akhirnya, pada kesempatan ketiga, roda pesawat menyentuh aspal Tol Terpeka dengan sempurna. Keberhasilan ini disusul oleh pendaratan jet tempur F-16, yang memiliki spesifikasi teknis lebih berat dan membutuhkan jarak pengereman yang lebih panjang. Keduanya berhasil melakukan manuver touch-and-go serta pendaratan penuh dengan mulus, membuktikan bahwa kualitas konstruksi Jalan Tol Trans Sumatera yang dikelola oleh Hutama Karya telah memenuhi standar kekuatan beban (California Bearing Ratio) yang mampu menahan impak pendaratan pesawat militer.
Wakil Menteri Pertahanan, Marsekal Madya TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto, yang memantau langsung jalannya uji coba, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar latihan rutin, melainkan implementasi nyata dari konsep Pertahanan Semesta. Menurutnya, pemanfaatan infrastruktur sipil seperti jalan tol sebagai landasan alternatif adalah langkah antisipatif yang krusial. Dalam skenario konflik atau bencana di mana pangkalan udara utama mungkin mengalami kerusakan atau tidak dapat digunakan, kemampuan militer untuk menyebar (disperse) kekuatan udara ke berbagai titik jalan nasional menjadi kunci keberlangsungan operasi pertahanan. Donny menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti sinergi antara pembangunan ekonomi melalui infrastruktur dan penguatan kedaulatan melalui pemanfaatan aset tersebut untuk kepentingan bela negara.
Ke depan, Kementerian Pertahanan berencana memperluas kolaborasi ini dengan merancang sejumlah ruas tol baru dan jalan nasional agar memiliki spesifikasi teknis yang sesuai dengan kebutuhan runway darurat sejak tahap perencanaan. Hal ini mencakup aspek ketebalan perkerasan aspal, ketiadaan hambatan udara (obstacle) di sekitar jalan, hingga penyediaan area parkir pesawat (apron) darurat di sisi jalan tol. Langkah ini sejalan dengan praktik global di negara-negara maju yang telah lama mengintegrasikan desain jalan raya mereka dengan kepentingan pertahanan udara. Dengan demikian, setiap kilometer jalan tol yang dibangun tidak hanya berfungsi untuk memperlancar arus logistik dan mobilitas penduduk, tetapi juga berfungsi sebagai benteng pertahanan yang siap digunakan kapan saja dalam kondisi darurat nasional.
Manajemen Arus Lalu Lintas dan Komitmen Hutama Karya
Dari sisi operasional jalan tol, PT Hutama Karya (Persero) memastikan bahwa selama masa penutupan, kenyamanan dan keamanan pengguna jalan tetap menjadi prioritas utama melalui rekayasa lalu lintas yang terukur. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menjelaskan bahwa manajemen telah melakukan sosialisasi masif sebelum penutupan dilakukan. Selama periode 9 hingga 11 Februari tersebut, Gerbang Tol Lambu Kibang hanya dioperasikan untuk kendaraan yang mengarah ke Lampung atau Bakauheni. Sebaliknya, Gerbang Tol Simpang Pematang hanya melayani kendaraan yang menuju ke arah Palembang. Pengalihan arus ini dilakukan untuk memastikan bahwa mobilitas masyarakat tetap berjalan meskipun terdapat kegiatan vital kenegaraan di tengah ruas tol tersebut.
Pihak Hutama Karya juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh para pengguna jalan selama proses pemeliharaan dan latihan militer ini berlangsung. Mardiansyah menekankan bahwa kerja sama dari seluruh pengguna jalan sangat membantu kelancaran agenda besar ini. Selain untuk uji coba pendaratan pesawat, periode penutupan ini juga dimanfaatkan oleh Hutama Karya untuk melakukan pemeliharaan rutin pada segmen tersebut, guna memastikan kualitas jalan tetap prima setelah menerima beban ekstrem dari pesawat tempur. Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi terkini melalui kanal komunikasi resmi perusahaan dan menyesuaikan waktu perjalanan agar terhindar dari potensi kepadatan di jalur alternatif yang telah disediakan.
Sebagai penutup, keberhasilan pendaratan F-16 dan Super Tucano di Tol Terpeka ini memberikan pesan kuat kepada dunia internasional mengenai kesiapan dan fleksibilitas pertahanan udara Indonesia. Integrasi antara kementerian teknis, operator jalan tol, dan TNI AU menunjukkan bahwa komponen bangsa telah bersatu padu dalam mendukung sistem pertahanan semesta. Dengan adanya landasan darurat di jalur-jalur strategis seperti Trans Sumatera, jangkauan operasi TNI AU menjadi lebih luas dan responsif. Keberhasilan ini diharapkan menjadi cetak biru bagi pembangunan infrastruktur masa depan yang lebih adaptif, tangguh, dan multifungsi demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

















