Dunia sepak bola Indonesia, khususnya di Jawa Timur, diselimuti duka mendalam atas berpulangnya salah satu figur legendarisnya, Kuncoro. Asisten Pelatih Arema FC tersebut menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu, 18 Januari, setelah mengalami kolaps saat sedang aktif bermain sepak bola di Stadion Gajayana, Kota Malang. Insiden tragis ini terjadi ketika Kuncoro, yang dikenal dengan panggilan akrab Cak Kun, tengah berpartisipasi dalam sebuah pertandingan persahabatan yang sarat nostalgia, berkumpul bersama sejumlah ikon sepak bola Malang lainnya. Di antara mereka yang turut hadir dan bermain adalah nama-nama besar seperti Siswantoro, Hermawan, dan Doni Suherman, menciptakan suasana kebersamaan dan kegembiraan sebelum musibah tak terduga itu datang.
Pertandingan yang menjadi saksi bisu kepergian Kuncoro ini merupakan bagian dari acara Trofeo Menuju 100 Tahun Stadion Gajayana, sebuah perayaan bersejarah untuk salah satu stadion tertua di Indonesia. Laga persahabatan tersebut berjalan dengan normal dan penuh semangat sepanjang babak pertama. Para legenda lapangan hijau Malang menunjukkan sisa-sisa kehebatan mereka, berinteraksi dengan bola dan sesama rekan setim dalam suasana yang hangat dan penuh persahabatan. Namun, saat jeda babak pertama tiba, ketika para pemain beristirahat sejenak di bangku cadangan untuk memulihkan tenaga dan mendengarkan instruksi, Kuncoro secara tiba-tiba kolaps. Kejadian mendadak ini sontak memicu kepanikan dan kekhawatiran di antara para pemain, ofisial, dan penonton yang hadir. Tim medis yang bertugas di lapangan segera dipanggil dan bergegas memberikan pertolongan pertama, berupaya keras untuk menstabilkan kondisi Kuncoro yang memburuk.
Meskipun upaya pertolongan pertama telah dilakukan dengan sigap di lapangan, kondisi Kuncoro yang kritis mengharuskan dirinya segera dilarikan ke fasilitas medis yang lebih lengkap. Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, sebuah rumah sakit rujukan utama di wilayah tersebut, dengan harapan mendapatkan penanganan medis intensif. Namun, takdir berkata lain. Setelah serangkaian upaya penyelamatan yang dilakukan oleh tim dokter di RSSA Malang, nyawa Kuncoro tidak dapat tertolong. Kabar duka pun menyelimuti seantero rumah sakit dan komunitas sepak bola. Kuncoro dinyatakan meninggal dunia pada usia 53 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan-rekan, serta seluruh insan sepak bola yang mengenalnya.
Stadion Gajayana: Saksi Bisu Awal dan Akhir Perjalanan
Kepergian Kuncoro di Stadion Gajayana memiliki resonansi emosional yang sangat kuat, mengingat tempat tersebut merupakan titik awal dan kini menjadi titik akhir perjalanan karier sepak bolanya. Muhammad Yusrinal Fitriandi, General Manager Arema FC, mengungkapkan betapa signifikan tempat itu bagi mendiang Kuncoro. Yusrinal menjelaskan bahwa karier Kuncoro sebagai seorang pesepakbola profesional memang berawal dari Stadion Gajayana, Kota Malang. Pada masa mudanya, Kuncoro muda bergabung dengan klub kebanggaan Arema Malang, yang saat itu menjadikan stadion bersejarah peninggalan era Jepang ini sebagai markas utamanya. Di sinilah ia merajut impian, mengasah bakat, dan membangun fondasi kariernya yang gemilang.
Dalam pernyataannya yang penuh haru, Yusrinal Fitriandi, yang akrab disapa Inal, menyampaikan, “Cak Kun memulai karier profesionalnya di Stadion Gajayana, tempat dia merajut mimpi masa mudanya, dan hari ini, Allah memanggilnya pulang di stadion yang sama, tepat di momen 100 tahun stadion ini.” Pernyataan ini menyoroti kebetulan yang mengharukan sekaligus tragis; Kuncoro kembali ke pangkuan Sang Pencipta di tempat yang sama di mana ia memulai segalanya, dan ironisnya, pada momen perayaan seabad keberadaan stadion tersebut. “Beliau ‘pulang’ saat sedang bahagia berkumpul dengan sahabat-sahabat lamanya di lapangan. Kami semua sangat shock dan terpukul,” tambah Yusrinal, menggambarkan suasana hati yang campur aduk antara kebahagiaan melihat Kuncoro bermain dengan teman-teman lamanya dan kesedihan mendalam atas kepergiannya yang mendadak. Pernyataan ini disampaikan Yusrinal saat ditemui di RSSA Malang pada Minggu petang, beberapa saat setelah kabar duka itu dikonfirmasi.
Menanggapi kabar duka tersebut, Yusrinal juga menginformasikan mengenai rencana pemakaman. Jenazah Kuncoro segera dibawa dari RSSA Malang menuju rumah duka yang beralamat di Jalan Turi RT 5 RW 2 Desa Putat Kidul, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Prosesi pemakaman direncanakan akan dilangsungkan pada malam yang sama setelah jenazah tiba di rumah duka. Keputusan untuk segera memakamkan jenazah pada malam hari merupakan praktik umum dalam tradisi masyarakat setempat, menunjukkan penghormatan terakhir yang cepat dan khidmat kepada almarhum.
Jejak Karier Sang Legenda: Dari Pemain Hingga Pelatih
Sepanjang hidupnya, Kuncoro yang lahir di Singosari, Kabupaten Malang, mendedikasikan dirinya sepenuhnya untuk dunia sepak bola. Karier profesionalnya sebagai pemain dimulai dengan gemilang di klub tanah kelahirannya, Arema Malang


















