Warga di sepanjang aliran Sungai Cileungsi, mulai dari Kabupaten Bogor hingga Kota Bekasi, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul status Siaga 1 yang ditetapkan untuk Tinggi Muka Air (TMA) hulu sungai pada Rabu (11/2/2026) malam. Kenaikan debit air yang signifikan, mencapai 410 sentimeter pada pukul 19.25 WIB, memicu peringatan dini potensi banjir dalam hitungan jam untuk belasan wilayah permukiman padat penduduk. Peringatan ini dikeluarkan oleh Ketua Komunitas Peduli Cileungsi – Cikeas (KP2C), Puarman, setelah curah hujan tinggi mengguyur kawasan hulu, mengubah warna air sungai menjadi coklat pekat dan mengindikasikan ancaman serius bagi keselamatan dan properti warga.
Puarman, sebagai garda terdepan dalam pemantauan kondisi sungai, secara lugas mengumumkan bahwa TMA Cileungsi telah mencapai 410 sentimeter pada pukul 19.25 WIB, sebuah angka yang menempatkannya pada kategori Siaga 1. Status ini, yang dalam sistem peringatan dini banjir di Indonesia berarti kondisi kritis dan potensi banjir yang sangat tinggi, menandakan bahwa sungai telah mencapai “top level” atau batas maksimal kapasitasnya. Angka ini sedikit lebih tinggi dari laporan awal yang menyebutkan 380 sentimeter pada pukul 18.45 WIB, menunjukkan peningkatan yang sangat cepat dan drastis dalam waktu singkat. KP2C, sebuah organisasi komunitas yang berdedikasi pada pemantauan dan pelestarian sungai, memainkan peran krusial dalam menyediakan data real-time dan peringatan dini kepada masyarakat serta pihak berwenang, menjadi sumber informasi yang vital dalam situasi darurat seperti ini.
Kondisi visual sungai turut memperkuat indikasi bahaya yang membayangi. Dari rekaman kamera pengawas (CCTV) milik KP2C yang memantau pengukuran TMA di hulu Cileungsi, terlihat jelas bahwa warna air sungai telah berubah menjadi coklat pekat. Perubahan warna ini bukan sekadar estetika, melainkan penanda kuat adanya peningkatan volume air yang membawa serta material tanah dan lumpur akibat erosi di daerah hulu yang diguyur hujan deras. Fenomena ini terjadi setelah kawasan hulu Sungai Cileungsi diguyur hujan intensif dalam beberapa jam sebelumnya. Data laporan TMA menunjukkan bahwa debit Sungai Cileungsi mulai menunjukkan kenaikan perlahan namun pasti sejak pukul 18.55 WIB, dan hanya dalam waktu lima menit, tepatnya pada pukul 19.00 WIB, TMA telah melampaui angka 400 sentimeter, sebelum akhirnya mencapai puncak 410 sentimeter pada pukul 19.25 WIB. Kecepatan kenaikan ini menggarisbawahi urgensi peringatan yang dikeluarkan.
Peringatan Dini Banjir dan Wilayah Terdampak
Merespons situasi kritis ini, KP2C segera mengeluarkan peringatan dini banjir yang ditujukan kepada warga yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Cileungsi. Peringatan ini secara spesifik mencakup warga di Gunungputri, Kabupaten Bogor, serta wilayah Jatiasih dan sekitarnya di Kota Bekasi. Puarman menjelaskan bahwa berdasarkan kenaikan TMA Cileungsi yang mencapai Siaga 1 pada pukul 18.45 WIB, potensi banjir diperkirakan akan terjadi sekitar pukul 22.15 WIB atau dalam rentang 3-4 jam setelah status siaga ditetapkan. Ini memberikan jendela waktu yang terbatas bagi warga untuk melakukan persiapan.
Peringatan tersebut mencakup daftar wilayah permukiman padat penduduk yang secara historis memang rentan terhadap dampak luapan Sungai Cileungsi. Wilayah-wilayah tersebut antara lain:
- Vila Nusa Indah 5: Sebuah kompleks perumahan besar yang sering menjadi langganan banjir kiriman.
- Bumi Mutiara: Kawasan residensial lain yang terletak di dekat bantaran sungai.
- Vila Nusa Indah 2 dan Vila Nusa Indah 1: Perumahan yang juga memiliki riwayat terdampak banjir.
- Pangkalan 1A: Area yang berdekatan dengan titik pertemuan sungai.
- Vila Jatirasa: Salah satu permukiman yang berisiko tinggi.
- Pondok Gede Permai: Dikenal sebagai salah satu wilayah yang paling parah terdampak banjir kiriman.
- Kemang Ifi Graha / AL: Kawasan perumahan yang juga perlu waspada.
- PPA: Wilayah yang kerap terancam genangan air.
- Pondok Mitra Lestari: Perumahan yang sering terendam saat debit air tinggi.
- Pekayon Jaya: Salah satu kelurahan di Bekasi yang dilintasi aliran Cileungsi.
- Kemang Pratama: Kawasan elit yang juga tidak luput dari ancaman banjir.
- Delta Pekayon: Wilayah lain di Pekayon yang perlu siaga.
Selain daftar tersebut, Puarman juga menekankan pentingnya kewaspadaan bagi seluruh wilayah yang berada di hilir Bendung Bekasi. Beberapa referensi tambahan bahkan menyebutkan potensi dampak yang lebih luas, seperti di Bojongkulur, Rawalumbu, hingga Bekasi Utara, terutama jika TMA di Pos Pantau Cileungsi (P2C) mencapai angka ekstrem seperti 660 sentimeter yang pernah dilaporkan dalam kejadian serupa. Kondisi ini mengindikasikan bahwa ancaman banjir kiriman dari Bogor dapat mengancam sebagian besar wilayah Kota Bekasi yang dilintasi oleh aliran sungai.
Langkah Kesiapsiagaan dan Mitigasi Mandiri
Dalam menghadapi potensi ancaman banjir ini, KP2C tidak hanya mengeluarkan peringatan, tetapi juga memberikan panduan konkret mengenai langkah-langkah kesiapsiagaan yang harus dilakukan oleh warga. Sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanggulangan bencana, warga diimbau untuk segera melakukan langkah-langkah evakuasi mandiri. Ini mencakup:
- Menaikkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi di dalam rumah untuk mencegah kerusakan akibat genangan air.
- Memindahkan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, ke lokasi yang lebih aman dan tidak terjangkau banjir.
- Mengungsi ke tempat yang aman, seperti rumah kerabat, posko pengungsian yang telah disiapkan, atau fasilitas umum yang lebih tinggi. Penting untuk mengidentifikasi rute evakuasi dan tempat berkumpul sebelumnya.
Puarman juga menambahkan imbauan penting untuk tetap tenang dan tidak panik. “Tidak perlu panik, lakukan dengan tenang sambil memantau pergerakan TMA,” ujarnya. Ketegangan dapat menghambat proses evakuasi yang efektif dan teratur. Oleh karena itu, koordinasi antarwarga dan komunikasi yang baik sangat diperlukan. Pemantauan berkelanjutan terhadap Tinggi Muka Air menjadi kunci, karena kondisi sungai bisa berubah dengan cepat tergantung pada intensitas hujan di hulu. Sirine peringatan banjir, jika tersedia di beberapa titik, juga akan dibunyikan untuk memperkuat informasi kepada masyarakat. Kesiapsiagaan kolektif dan respons cepat dari setiap individu adalah elemen krusial dalam meminimalkan dampak bencana banjir kiriman yang kerap melanda wilayah ini.

















