Guncangan di Jagat Mode: Tuduhan Pelecehan Seksual Menyelimuti Nama Mohan Hazian, Pendiri Thanksinsomnia
Industri mode Indonesia diguncang oleh serangkaian tuduhan serius yang menargetkan salah satu figur paling dikenal di kancah streetwear lokal, Mohan Hazian. Sebagai pemilik merek kenamaan Thanksinsomnia, pria kelahiran Lampung tahun 1990 ini kini menghadapi sorotan tajam setelah beberapa wanita secara terbuka melayangkan pengakuan dugaan pelecehan seksual melalui platform media sosial X. Tuduhan ini mencuat ke publik dengan pola kejadian yang dinilai serupa, di mana Mohan diduga memanfaatkan posisi dan pengaruhnya untuk melakukan perbuatan tidak pantas, mulai dari ajakan sesi pemotretan pribadi, bujukan untuk minum alkohol, hingga tawaran menginap. Sementara korban mulai berani bersuara, Mohan Hazian sendiri telah mengeluarkan klarifikasi yang membantah tuduhan pemerkosaan, meskipun mengakui adanya “kekhilafan” di masa lalu. Kasus ini, yang belum diiringi laporan resmi ke pihak kepolisian, memicu perdebatan luas mengenai isu kekerasan seksual, dinamika kekuasaan, dan peran media sosial dalam mengungkap kebenaran.
Mohan Hazian, yang dikenal luas sebagai pengusaha mode, penulis, dan kreator konten, telah membangun Thanksinsomnia menjadi salah satu merek streetwear paling berpengaruh di Indonesia. Reputasinya sebagai visioner di balik tren fesyen urban kini berada di bawah bayang-bayang isu sensitif yang pertama kali viral melalui unggahan akun @aarummanis di media sosial X. Akun tersebut menceritakan pengalaman pahit yang dialami pada suatu insiden yang terjadi beberapa waktu lalu, saat ia menjalani sesi pemotretan untuk merek milik Mohan. Dalam narasi yang dibagikan, korban menjelaskan bagaimana situasi profesional tiba-tiba berubah menjadi tidak nyaman dan mengancam. “Dia ajak aku foto hasil tato pakai polaroid di ruangan tato dia itu. Temenku dan S ini masih di luar, ga jauh dari ruangan tato itu. Pintu ruangan pun juga masih kebuka lebar dan gak dikunci. Setelah itu dia tarik tangan aku dengan paksa. Dia dorong aku ke sofa,” demikian pengakuan yang menggambar situasi yang mencekam, di mana korban merasa terintimidasi meskipun pintu ruangan tidak terkunci dan ada orang lain di dekat lokasi.

Modus Operandi yang Terkuak: Pola Perilaku yang Terulang
Seiring dengan viralnya pengakuan @aarummanis, berbagai sumber dan pengakuan korban lain mulai bermunculan, mengindikasikan adanya pola perilaku yang serupa dalam dugaan pelecehan yang dilakukan oleh Mohan Hazian. Referensi tambahan dari berbagai media, seperti Genvoice.id dan MSN, mengonfirmasi bahwa modus operandi yang digunakan Mohan kerap dimulai dengan ajakan profesional yang kemudian bergeser ke ranah pribadi yang tidak pantas. Awalnya, korban tidak menemukan kejanggalan selama proses pemotretan dan pengambilan video promosi, di mana seluruh rangkaian kegiatan berjalan normal sebagaimana kerja profesional pada umumnya. Namun, seiring waktu, modus ini berkembang menjadi serangkaian bujukan yang bertujuan menciptakan situasi privat dan rentan bagi para korban.
Salah satu pola yang paling sering disebut adalah insistensi Mohan untuk mengadakan sesi foto “berdua saja”. Dalam percakapan yang dibagikan oleh korban lain, terlihat bagaimana Mohan menolak kehadiran orang ketiga atau pendamping, dengan dalih bahwa sesi tersebut lebih baik dilakukan secara privat. “Gak berdua aja?” tanyanya, diikuti dengan penolakan terhadap tawaran korban untuk membawa teman: “Gapapa han biar gue bareng juga.” Namun, Mohan tetap bersikukuh, “Berdua aja dong nin.” Tekanan untuk menciptakan situasi eksklusif ini menjadi pintu masuk bagi dugaan perlakuan tidak senonoh. Selain itu, modus lain yang terungkap adalah ajakan untuk mengonsumsi alkohol bersama, yang berpotensi dimanfaatkan untuk menurunkan kewaspadaan korban. Kasus yang menimpa seorang model asal Malaysia menjadi contoh nyata, di mana Mohan secara eksplisit mengajukan tawaran yang mengarah pada situasi yang lebih intim. “We should to open another room for rest? (kita harus buka kamar untuk istirahat?),” tulis Mohan, yang kemudian dibalas dengan kebingungan oleh model tersebut, “What do you mean? open room for? (Apa maksudmu? Bukan kamar untuk apa?).” Pola-pola ini, yang melibatkan bujukan, tekanan untuk privasi, dan tawaran yang mengarah pada situasi rentan, menunjukkan adanya “siasat” atau strategi yang terstruktur dalam dugaan perbuatannya, sebagaimana diungkapkan oleh beberapa sumber berita.

Klarifikasi Mohan Hazian: Penyangkalan dan Pengakuan Kekhilafan
Menghadapi gelombang tuduhan yang begitu masif, Mohan Hazian akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi. Dalam pernyataannya, ia dengan tegas membantah tuduhan pemerkosaan, sebuah klaim yang menjadi inti dari beberapa narasi yang beredar. “Yang harus saya garis bawahi saya tidak seperti yang dituduhkan, saya bukan seorang pemerkosa dan saya tidak pernah memperkosa siapapun,” tegas Mohan, berupaya membersihkan namanya dari tuduhan paling berat. Ia juga menyerukan kepada publik untuk melihat persoalan ini secara lebih jernih dan adil, tidak hanya berdasarkan informasi yang belum terverifikasi sepenuhnya. Mohan berharap masyarakat tidak langsung menghakimi, mengingat tidak semua informasi yang beredar di media sosial menggambarkan kenyataan secara utuh.
Namun, di balik penyangkalannya terhadap tuduhan pemerkosaan, Mohan Hazian juga mengakui adanya “kekhilafan” di masa lalu. Pengakuan ini menjadi poin krusial dalam responsnya, di mana ia menyatakan, “Semua kesalahan yang terjadi di masa lalu adalah murni kekhilafan saya dengan wanita lain. Namun, kejadian tersebut sudah memberikan impact kepada istri dan anak saya. Itu murni kesalahan yang saya lakukan dan tidak dapat dibenarkan dengan cara apapun, bagaimanapun.” Pernyataan ini, yang juga dikutip oleh VIVA, mengindikasikan bahwa Mohan mengakui adanya perilaku yang tidak etis atau tidak pantas dalam interaksinya dengan wanita lain di masa lalu, namun ia mengategorikannya sebagai “kekhilafan” dan bukan sebagai tindakan pelecehan atau pemerkosaan. Pengakuan ini, meski tidak secara langsung mengakui tuduhan spesifik yang dilayangkan para korban, menunjukkan adanya kesadaran akan dampak dari perbuatannya terhadap kehidupan pribadi dan keluarganya, terutama sang istri dan anak-anak.

Respons Kepolisian dan Implikasi Sosial

















