Kehilangan sosok ibu sering kali dianggap sebagai duka yang lazim terjadi dalam siklus kehidupan, namun dalam film terbaru produksi SinemArt dan Citra Sinema bertajuk Rumah Tanpa Cahaya, kekosongan tersebut dimanifestasikan sebagai kegelapan total yang melumpuhkan seluruh sendi kehidupan sebuah keluarga. Disutradarai oleh sineas berpengalaman Ody C. Harahap dan diproduseri oleh aktor kawakan Deddy Mizwar, drama keluarga ini dijadwalkan menyapa penonton bioskop di seluruh Indonesia mulai 12 Februari 2026 dengan membawa narasi mendalam mengenai betapa krusialnya peran seorang perempuan yang selama ini sering kali dianggap “biasa” dalam rutinitas harian. Melalui potret keluarga Pak Qomar yang kehilangan arah pasca-kepergian sang istri secara mendadak, film ini tidak hanya menawarkan eksploitasi air mata, tetapi juga sebuah refleksi tajam tentang cinta, tanggung jawab, dan pencarian arah di tengah badai duka yang sunyi namun menghancurkan.
Narasi film ini berpusat pada dinamika keluarga Pak Qomar, yang diperankan dengan sangat apik oleh aktor watak Donny Damara. Pada awalnya, penonton disuguhi gambaran ideal tentang sebuah keluarga kelas menengah yang hangat dan harmonis. Pak Qomar hidup bahagia bersama istrinya, Nurul (Ira Wibowo), serta dua putra mereka yang telah dewasa, Samsul (Ridwan Ghany) dan Azizi (Lavicky Nicholas). Kehidupan mereka berputar pada usaha kuliner warung empal gentong, sebuah bisnis keluarga yang menjadi tumpuan ekonomi sekaligus simbol kebersamaan mereka. Nurul digambarkan sebagai sosok “cahaya” yang sesungguhnya; ia adalah manajer emosi, pengatur rumah tangga, sekaligus pemegang rahasia kelezatan masakan yang menghidupi mereka semua. Kehadirannya begitu menyatu dengan dinding-dinding rumah, sehingga anggota keluarga lainnya tidak menyadari betapa mereka sangat bergantung pada eksistensi Nurul sampai akhirnya takdir berkata lain.
Tragedi menghantam tanpa peringatan ketika Nurul mengembuskan napas terakhirnya tepat setelah menunaikan ibadah salat Subuh. Kejadian yang begitu tenang dan mendadak ini menjadi titik balik dramatis yang mengubah warna film dari hangat menjadi kelabu. Kematian Nurul bukan sekadar kehilangan nyawa, melainkan hilangnya poros gravitasi keluarga tersebut. Pak Qomar terjerembap dalam depresi yang mendalam, kehilangan semangat hidup, dan seolah-olah jiwanya ikut terkubur bersama sang istri. Sementara itu, kedua putranya, Samsul dan Azizi, yang seharusnya saling menguatkan, justru terjebak dalam konflik ego dan perbedaan cara pandang dalam menghadapi duka. Ketegangan di antara mereka semakin meruncing ketika realitas pahit menghantam bisnis keluarga: tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menguasai resep rahasia empal gentong warisan Nurul, membuat warung mereka terancam gulung tikar dan masa depan ekonomi mereka berada di ujung tanduk.
|
Movie Title |
Rumah Tanpa Cahaya |
|---|---|
|
Rating |
3/5 |
|
Country |
Indonesia |
|
Director |
Odi Harahap |
|
Producer |
Zairin Zain, Deddy Mizwar |
|
Writer |
Syaikhu Luthfi, Deddy Mizwar, Zairin Zain, Odi Harahap, Amiruddin Olland, Rafi Muhammad Zuhdi |
|
Age Rating |
R13 |
|
Genre |
Drama, family |
|
Duration (minute) |
102 |
|
Movie/Film Release Date |
12 Februari |
|
Movie/Film Release Year |
2026 |
|
Theme |
Family-centric Drama |
|
Production House |
Citra Sinema, Sinemart |
|
Where to Watch |
Bioskop |
|
Cast |
Ira Wibowo, Donny Damara, Lavicky Nicholas, Ridwan A. Ghany, Dea Annisa, Galabby Thahira, Ence Bagus |
|
Trailer Release Date |
– |
Eksplorasi Duka dan Rapuhnya Fondasi Patriarki
Salah satu aspek yang paling menonjol dalam Rumah Tanpa Cahaya adalah bagaimana film ini membedah kerapuhan laki-laki ketika kehilangan pilar wanitanya. Ody C. Harahap secara cerdas memperlihatkan bahwa tanpa sosok ibu, rumah tersebut kehilangan fungsi-fungsi dasarnya. Pak Qomar digambarkan sebagai figur ayah yang limbung; ia tidak tahu bagaimana cara melanjutkan hidup tanpa bimbingan emosional istrinya. Penampilan Donny Damara patut diacungi jempol karena mampu menyampaikan kesepian yang sunyi melalui tatapan mata dan gestur tubuh yang letih, tanpa perlu banyak dialog melodramatis. Ia merepresentasikan banyak laki-laki di dunia nyata yang sering kali menyerahkan seluruh urusan domestik dan emosional kepada istri, sehingga ketika sang istri tiada, mereka menjadi sosok yang benar-benar “cacat” secara fungsional.
Kekacauan ini semakin diperparah dengan kehadiran karakter-karakter pendukung seperti Dea Annisa, Galabby Thahira, Yurike Prastica, dan Ence Bagus yang memberikan warna tersendiri pada dinamika cerita. Konflik antara Samsul dan Azizi menjadi representasi dari bagaimana duka bisa memecah belah alih-alih menyatukan jika tidak dikelola dengan komunikasi yang baik. Samsul yang lebih pragmatis dan Azizi yang mungkin lebih emosional menciptakan friksi yang terasa sangat nyata dalam konteks keluarga Indonesia. Keputusasaan mereka dalam mempertahankan warung empal gentong membawa mereka pada pilihan-pilihan ekstrem, termasuk godaan untuk mengambil jalan pintas yang instan. Di sinilah film ini mencoba menyentil fenomena sosial tentang bagaimana orang-orang yang sedang terdesak sering kali kehilangan kompas moral demi mencari solusi cepat atas masalah mereka.

















