Sebuah pengakuan akademik bergengsi telah dianugerahkan kepada Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, pada Rabu, 11 Februari 2026. Universitas Nasional (Unas) secara resmi mengukuhkan beliau sebagai Profesor Kehormatan dalam bidang Ilmu Politik dan Kebudayaan, sebuah penghargaan yang tidak hanya menggarisbawahi dedikasi panjangnya dalam dunia akademik dan kebudayaan, tetapi juga menandai komitmen Unas dalam menghargai kontribusi signifikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Acara sakral yang berlangsung di kampus Unas, Pejaten Timur, Jakarta Selatan, ini menjadi sorotan utama, mengingat peran strategis Fadli Zon dalam kancah politik dan budayawan nasional. Penganugerahan ini, yang disebut Fadli Zon sebagai bentuk kehormatan yang sebenarnya sudah dijadwalkan sejak tahun lalu, merupakan pengakuan objektif atas rekam jejak intelektual dan pengabdiannya yang tak henti di bidang kebudayaan dan politik.
Pengakuan Akademik dan Jejak Intelektual Fadli Zon
Dalam suasana khidmat di kampus Unas, Pejaten Timur, Jakarta Selatan, Fadli Zon menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya yang mendalam. “Bagi saya ini tentu satu penghargaan dan sangat mengapresiasi sebesar-besarnya kepada sivitas akademika Unas,” ujar Fadli, menyoroti pentingnya dukungan dan pengakuan dari komunitas akademik. Gelar Profesor Kehormatan ini, yang dalam istilah lain sering disebut sebagai Guru Besar Kehormatan atau Profesor Honoris Causa, merupakan penghargaan akademik tertinggi yang diberikan oleh sebuah institusi pendidikan kepada individu yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, tanpa harus melalui jalur akademik formal yang biasa. Rektor Unas, El Amry Benawi Putera, secara eksplisit menyatakan bahwa penganugerahan ini didasarkan pada karya intelektual, dedikasi, serta pengabdian Fadli Zon dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di ranah politik dan kebudayaan.
Jejak akademik Fadli Zon sendiri bukanlah hal baru. Ia mengungkapkan bahwa ia telah terdaftar sebagai pengajar di Universitas Nasional sejak tahun 2018, menunjukkan keterikatan yang cukup lama dengan institusi tersebut. Sebelum itu, pengalaman mengajar juga pernah ia jalani di salah satu universitas terkemuka di Indonesia, Universitas Indonesia (UI), selama lima tahun. Latar belakang ini memperkuat legitimasi pemberian gelar tersebut, mengingat Fadli Zon memang memiliki pengalaman langsung dalam dunia pengajaran dan transfer ilmu. Baginya, gelar profesor kehormatan ini bukan sekadar sebuah pencapaian puncak, melainkan justru menjadi pemicu dan motivasi yang lebih besar untuk terus berkontribusi secara signifikan, terutama dalam pengembangan pemikiran di bidang politik dan kebudayaan. Ini adalah dorongan untuk terus melahirkan gagasan-gagasan baru, melakukan penelitian, dan memperkaya diskursus intelektual nasional.
Mengurai Megadiversitas Budaya Indonesia sebagai Kekuatan Global
Momen penganugerahan gelar tersebut juga menjadi panggung bagi Fadli Zon untuk menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Megadiversitas Budaya Indonesia sebagai Pusat Peradaban Dunia”. Judul ini sendiri sudah mengindikasikan kedalaman pemikirannya mengenai potensi luar biasa yang dimiliki Indonesia. Dalam orasinya, Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia diberkahi dengan kekayaan budaya yang sangat besar dan unik, bahkan sampai pada titik di mana istilah ‘beragam’ saja tidak lagi cukup untuk menggambarkan kondisi tersebut. Ia menggunakan frasa “megadiversitas” untuk menyoroti skala dan kompleksitas keragaman ini, yang melampaui sekadar keberagaman permukaan.

















