Di tengah riuh rendah apresiasi dan kritik terhadap program prioritas nasional, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengambil langkah tak lazim dengan memerintahkan pengumpulan seluruh materi video yang dinilai menghina atau mengejek program andalannya, Makan Bergizi Gratis (MBG). Perintah ini ditujukan kepada Kepala Staf Kepresidenan (KSP), M. Qodari, dengan instruksi spesifik agar video-video tersebut dikumpulkan untuk ditonton setiap malam. Langkah ini memicu pertanyaan mendalam mengenai motivasi di baliknya, strategi komunikasi pemerintah, serta dampak psikologis dan politis dari penekanan pada narasi negatif terhadap sebuah program yang diklaim telah menjangkau jutaan penerima manfaat.
Strategi Psikologis di Balik Penekanan Narasi Negatif
Perintah Presiden Prabowo untuk mengumpulkan dan menonton video ejekan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) setiap malam mengindikasikan adanya strategi psikologis yang kompleks. Alih-alih mengabaikan kritik atau tanggapan negatif, Presiden justru memilih untuk menghadapinya secara langsung, bahkan menjadikannya bagian dari rutinitas harian. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk membangun ketahanan mental dan emosional, serta untuk terus mengingatkan diri sendiri dan tim mengenai tantangan serta persepsi publik yang harus dihadapi. Dengan secara konsisten terpapar pada narasi negatif, diharapkan dapat muncul pemahaman yang lebih mendalam mengenai akar permasalahan, serta memicu inovasi dan perbaikan yang lebih adaptif terhadap program MBG. Selain itu, tindakan ini juga bisa menjadi sinyal kepada para pendukung program bahwa Presiden tidak gentar menghadapi oposisi atau pandangan sinis, melainkan justru menjadikannya sebagai bahan evaluasi dan motivasi.
Dalam konteks ini, M. Qodari, selaku Kepala Staf Kepresidenan, memiliki peran krusial dalam mengidentifikasi, mengumpulkan, dan menyajikan materi-materi tersebut. Tugas ini bukan sekadar pengumpulan data pasif, melainkan memerlukan kejelian dalam menyaring konten yang relevan, memverifikasi sumbernya, dan mungkin juga menganalisis pola-pola ejekan yang muncul. Dengan demikian, KSP dapat memberikan laporan yang komprehensif kepada Presiden, tidak hanya berupa klip video, tetapi juga analisis mendalam mengenai sentimen publik dan kritik yang dilontarkan. Hal ini memungkinkan Presiden untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai persepsi masyarakat terhadap program MBG, baik yang bersifat konstruktif maupun destruktif.
Skala Impresif Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi sorotan ini bukanlah program sembarangan. Skala dan jangkauannya digambarkan dengan perbandingan yang sangat ambisius. Menurut pernyataan Presiden, jumlah penerima manfaat program ini setara dengan memberi makan seluruh penduduk Afrika Selatan setiap hari. Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret, angka ini juga disamakan dengan memberikan makan 10 kali jumlah penduduk Singapura setiap hari, atau dua kali lipat jumlah penduduk Malaysia setiap hari. Angka-angka perbandingan ini secara dramatis menyoroti besarnya skala operasional dan logistik yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG, serta potensi dampaknya terhadap kesehatan dan gizi masyarakat.
Lebih lanjut, target ambisius untuk tahun berjalan semakin mempertegas komitmen pemerintah terhadap program ini. Presiden menargetkan program MBG dapat menyasar 82,9 juta penerima manfaat setiap harinya pada tahun ini. Angka ini merupakan proyeksi yang sangat signifikan, menunjukkan upaya pemerintah untuk memperluas cakupan program dan memastikan bahwa manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak lagi individu, terutama mereka yang rentan terhadap masalah gizi dan stunting. Pencapaian target sebesar ini akan membutuhkan koordinasi yang luar biasa antar berbagai kementerian, lembaga, serta partisipasi aktif dari pemerintah daerah dan masyarakat.
Tantangan Stunting dan Peran MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam menekan angka stunting, sebuah tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Stunting, yang merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam periode 1.000 hari pertama kehidupan, memiliki dampak jangka panjang yang serius terhadap perkembangan fisik, kognitif, dan produktivitas individu di masa depan. Program MBG dirancang sebagai salah satu intervensi nyata pemerintah untuk mengatasi akar masalah stunting dengan memastikan ketersediaan makanan bergizi bagi kelompok sasaran.
Presiden Prabowo sendiri menyatakan keyakinannya bahwa program MBG berada di jalan yang benar. Keyakinan ini didasarkan pada pemahaman bahwa tujuan program ini adalah mulia dan baik, yaitu untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat, serta mencegah dan menurunkan angka stunting. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya program ini dalam kerangka besar pembangunan bangsa, di mana generasi muda yang sehat dan cerdas menjadi fondasi utama kemajuan. Dengan demikian, setiap ejekan atau pandangan sinis terhadap MBG dapat diartikan sebagai tantangan terhadap upaya fundamental untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.
Evaluasi dan Adaptasi Program
Meskipun Presiden Prabowo menginstruksikan pengumpulan video ejekan, hal ini tidak serta merta berarti bahwa program MBG akan dijalankan tanpa evaluasi yang objektif. Sebaliknya, permintaan untuk terus-menerus meninjau kritik dan pandangan negatif justru dapat menjadi katalisator untuk proses evaluasi yang lebih mendalam. Dengan memahami secara rinci apa saja yang menjadi objek ejekan, pemerintah dapat mengidentifikasi kelemahan program, baik dari segi implementasi, distribusi, kualitas makanan, maupun komunikasi publiknya. Analisis terhadap materi-materi tersebut dapat memberikan masukan berharga untuk melakukan penyesuaian dan perbaikan yang diperlukan.
Proses evaluasi yang berkelanjutan dan adaptif sangat krusial bagi keberhasilan program sebesar MBG. Mengingat skala penerima manfaat yang sangat besar, potensi masalah atau hambatan dalam pelaksanaannya juga akan beragam. Dengan adanya mekanisme umpan balik yang efektif, termasuk melalui analisis terhadap kritik yang muncul, pemerintah dapat merespons isu-isu yang timbul dengan cepat dan tepat. Hal ini akan membantu memastikan bahwa program MBG tetap relevan, efisien, dan efektif dalam mencapai tujuannya untuk meningkatkan gizi masyarakat dan menekan angka stunting, serta meminimalkan potensi kesalahpahaman atau ketidakpuasan publik.

















