Menanggapi eskalasi konflik kemanusiaan yang terus memanas di Jalur Gaza, Tentara Nasional Indonesia (TNI) kini tengah berada dalam fase kesiapan tertinggi untuk menerjunkan ribuan personel terbaiknya dalam misi perdamaian internasional. Berdasarkan laporan intensif dari berbagai media internasional, Pemerintah Indonesia diproyeksikan akan mengirimkan sekitar 8.000 prajurit gabungan yang terdiri dari matra Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU). Fokus utama dalam persiapan matra udara tertuju pada Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat), sebuah satuan elite yang dikenal dengan baret jingganya. Langkah strategis ini mencerminkan posisi diplomasi pertahanan Indonesia yang aktif di panggung global, di mana kesiapan pasukan khusus menjadi ujung tombak dalam menjalankan mandat kemanusiaan dan stabilitas di wilayah konflik tersebut. Meskipun jumlah pasti personel masih terus dikoordinasikan, komitmen Indonesia untuk mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ini menandai babak baru dalam kontribusi militer tanah air di Timur Tengah.
Kesiapan Kopasgat: Pasukan Elite Tri-Matra Tanpa Unsur Penerbang
Dalam rencana besar mobilisasi pasukan ke Gaza, TNI Angkatan Udara telah menunjuk Kopasgat sebagai representasi utama mereka. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan matang mengenai spesialisasi medan yang akan dihadapi. Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau), Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana, menegaskan bahwa untuk tahap awal misi ini, TNI AU tidak menyertakan unsur penerbang atau pilot dalam daftar pemberangkatan. Fokus utama pengiriman adalah pada unit-unit tempur darat dan pendukung teknis yang berada di bawah naungan Kopasgat. Hal ini menunjukkan bahwa misi di Gaza pada tahap ini lebih menitikberatkan pada pengamanan wilayah, bantuan kemanusiaan, dan stabilisasi darat ketimbang operasi supremasi udara. Penyiapan unsur non-penerbang ini juga didasarkan pada kebutuhan lapangan yang memerlukan fleksibilitas tinggi dalam menghadapi dinamika konflik perkotaan dan pengamanan objek vital di zona merah.
Kopasgat sendiri bukanlah pasukan biasa; mereka adalah unit komando yang memiliki kualifikasi tempur di tiga matra sekaligus, yakni udara, laut, dan darat. Setiap prajurit yang tergabung dalam korps ini diwajibkan memiliki kualifikasi minimal Para-Komando (Parako). Kualifikasi ini menjamin bahwa setiap individu mampu diterjunkan dari pesawat (airborne) dan segera melakukan operasi tempur begitu menyentuh tanah. Selain kemampuan dasar komando, prajurit Kopasgat juga dibekali dengan keahlian kematraudaraan yang spesifik, yang membuat mereka berbeda dari satuan khusus lainnya di Indonesia. Kemampuan ini mencakup infiltrasi melalui udara dengan teknik high altitude low opening (HALO) maupun high altitude high opening (HAHO), serta kemampuan bertahan hidup di berbagai medan ekstrem seperti hutan, rawa, sungai, hingga wilayah pesisir. Kehadiran mereka di Gaza diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi penyaluran bantuan logistik dan perlindungan terhadap warga sipil yang terdampak perang.
Operasi OP3U: Keunggulan Strategis Kopasgat di Medan Konflik
Salah satu alasan kuat mengapa Kopasgat menjadi pilihan utama dalam misi internasional ini adalah kemampuan khas mereka yang disebut Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara (OP3U). Tugas ini merupakan spesialisasi unik yang tidak dimiliki oleh satuan lain di lingkungan TNI. Dalam skenario konflik di Gaza, kemampuan OP3U menjadi krusial karena mencakup kemampuan untuk merebut, mengamankan, dan mengoperasikan kembali pangkalan udara atau landasan pacu yang telah dikuasai musuh atau mengalami kerusakan. Prajurit Kopasgat dilatih untuk menyiapkan pendaratan pesawat angkut logistik dan mengatur penerjunan pasukan dalam skala besar di wilayah yang belum sepenuhnya aman. Dengan kemampuan ini, Kopasgat dapat memastikan jalur suplai bantuan kemanusiaan melalui udara dapat berjalan lancar meskipun infrastruktur bandara di wilayah konflik sedang dalam kondisi darurat.
Sebagai Pasukan Pemukul NKRI, Kopasgat memiliki tanggung jawab untuk membina kekuatan dan kemampuan satuan agar selalu siap operasional dalam berbagai jenis operasi militer, baik Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Di Gaza, peran OMSP akan menjadi dominan, di mana mereka akan bertugas menjaga objek strategis, melakukan pertahanan udara titik, dan menjalankan operasi khusus sesuai dengan kebijakan Panglima TNI. Sejarah mencatat bahwa korps ini telah mengalami transformasi identitas yang signifikan. Sebelumnya dikenal sebagai Korps Pasukan Khas (Paskhas), perubahan nama kembali menjadi Kopasgat disahkan melalui Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/66/I/2022 pada Januari 2022. Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan upaya restrukturisasi organisasi untuk mengoptimalkan fungsi komando di bawah pimpinan perwira tinggi bintang tiga, yang saat itu dimulai dengan transisi jabatan dari Komandan Korpaskhas menjadi Komandan Kopasgat yang dijabat oleh Marsda TNI Eris Widodo Yuliastono.
Ringkasan Berita:
- Berdasarkan laporan media luar negeri, Indonesia berencana mengirim ribuan prajurit ke Gaza, termasuk dari TNI AD, AL, dan AU. Dari TNI AU, yang disiapkan adalah Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat), tanpa melibatkan penerbang untuk sementara.
- Pasukan elite TNI AU ini mampu menjalankan operasi udara, laut, dan darat, termasuk tugas khas Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara (OP3U).
TRIBUNJATIM.COM– Berdasarkan pemberitaan sejumlah media luar negeri, Indonesia akan mengirimkan 8.000 personel TNI ke Gaza, Palestina.
Pasukan yang dikirim itu adalah Kopasgat.
Meski jumlahnya masih simpang siur namun TNI dari berbagai matra Angkatan Darat, Laut, dan Udara tengah disiapkan.
Khusus dari TNI Angkatan Udara telah disiapkan pasukan khusus yakni Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat).
Dilansir dari Tribunnews, Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana mengatakan sementara ini TNI AU tidak menyiapkan pilot atau penerbangnya untuk diikutsertakan dalam rencana misi ke Gaza tersebut.
“Sementara tidak ada dari penerbang, hanya dari unsur-unsur yang lainnya saja termasuk Pasgat,” kata Nyoman saat dihubungi Tribunnews.com pada Kamis (12/2/2026).
Rekam Jejak Internasional dan Proyeksi Keberangkatan 2026
Kesiapan TNI untuk mengirimkan pasukan ke Gaza tidak muncul dari ruang hampa, melainkan didasarkan pada pengalaman panjang dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Wakil Panglima TNI, Tandyo Budi Revita, menjelaskan bahwa TNI memiliki modalitas kuat melalui penugasan di UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Indonesia merupakan salah satu kontributor pasukan terbesar bagi UNIFIL, yang bertugas memulihkan perdamaian di perbatasan Lebanon-Israel sejak tahun 1978. Pengalaman menghadapi dinamika geopolitik di Timur Tengah melalui misi UNIFIL inilah yang akan menjadi standar rekrutmen bagi personel yang akan dikirim ke Gaza. TNI berencana untuk memprioritaskan prajurit yang telah memiliki pengalaman penugasan luar negeri sebelumnya, sehingga mereka tidak lagi asing dengan prosedur operasi standar internasional di wilayah konflik yang kompleks.
Pemerintah Indonesia, melalui Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto, menyatakan bahwa keputusan final mengenai jumlah personel dan detail teknis pemberangkatan akan ditetapkan pada akhir Februari 2026. Saat ini, seluruh jajaran TNI di bawah instruksi Panglima TNI telah melakukan simulasi dan persiapan fisik serta mental. “Panglima TNI sudah menyiapkan prajurit kita untuk sewaktu-waktu diberangkatkan. Kita tinggal menunggu perintah dan koordinasi lebih lanjut,” ujar Donny dalam keterangannya di kompleks parlemen. Kesiapan ini mencakup aspek logistik, perlengkapan tempur, hingga dukungan medis yang memadai. Dengan pengalaman tempur di berbagai medan seperti hutan, kota, dan rawa, serta kualifikasi khusus kematraudaraan, Kopasgat dipastikan akan menjadi elemen kunci dalam menjaga marwah Indonesia sebagai negara yang berkomitmen penuh terhadap perdamaian abadi di tanah Palestina.
Secara historis, Kopasgat telah membuktikan loyalitas dan profesionalismenya dalam menjaga kedaulatan NKRI. Kini, tantangan baru menanti di Gaza, di mana kemampuan mereka dalam pertahanan objek strategis dan operasi khusus akan diuji dalam skala internasional. Dengan baret jingga yang melambangkan keberanian dan semangat pengabdian, prajurit Kopasgat tidak hanya membawa senjata, tetapi juga membawa misi kemanusiaan untuk meringankan beban penderitaan di Gaza. Sinergi antara TNI AD, AL, dan AU dalam misi ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan bagi stabilitas kawasan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan militer yang disegani dan dihormati dalam diplomasi perdamaian dunia.

















