Dalam sebuah pernyataan yang menggugah, Sumardji, sosok penting di balik layar Tim Nasional Indonesia, menyamakan perannya dengan seorang “orang tua yang harus mengamankan dan melindungi anak-anaknya.” Pernyataan ini muncul di tengah ancaman sanksi berat dari badan sepak bola dunia, FIFA, yang berpotensi membatasi kehadirannya dalam mendampingi skuad Garuda. Meskipun menghadapi larangan mendampingi tim secara langsung di pinggir lapangan, Sumardji mengisyaratkan strategi cerdik untuk tetap memberikan dukungan moral dan kontribusi strategis bagi timnas. Pertanyaannya, bagaimana Sumardji akan menavigasi aturan FIFA yang ketat, dan apa implikasinya bagi Timnas Indonesia yang akan segera berlaga di FIFA Series 2026? Artikel ini akan mengupas tuntas upaya Sumardji dalam menghadapi sanksi FIFA, menelusuri akar masalah yang memicu hukuman tersebut, serta dampaknya terhadap persiapan tim nasional di kancah internasional.
“Saya mengibaratkan diri sebagai orang tua yang harus mengamankan dan melindungi anak-anaknya,” demikian ujar Sumardji, Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, dalam sebuah kesempatan, menggambarkan posisinya yang krusial dalam ekosistem timnas. Pernyataan ini bukan sekadar metafora, melainkan mencerminkan tekadnya untuk tetap berperan aktif meskipun dihadapkan pada konsekuensi berat dari badan sepak bola dunia, FIFA. Sanksi yang dijatuhkan oleh FIFA, yang terbukti melalui berbagai laporan media, tidaklah ringan. Sumardji dijatuhi hukuman larangan mendampingi tim nasional dalam 20 pertandingan serta denda finansial yang signifikan. Keputusan ini merupakan buntut dari insiden yang terjadi pada laga krusial antara Timnas Indonesia melawan Irak dalam putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, yang berlangsung pada tanggal 11 Oktober 2025. Dalam momen panas pasca pertandingan tersebut, Sumardji dilaporkan terlibat dalam insiden yang berujung pada tindakan mendorong wasit pertandingan, Ma Ning. Tindakan ini dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap etika dan integritas pertandingan, yang berujung pada intervensi FIFA melalui Komite Disiplinnya.
Akar Masalah: Insiden Kontroversial dan Sanksi FIFA
Insiden yang memicu sanksi terhadap Sumardji terjadi dalam pertandingan yang sarat emosi antara Timnas Indonesia dan Irak. Laga yang merupakan bagian dari ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 ini berlangsung pada 11 Oktober 2025 dan diwarnai dengan tensi tinggi. Pasca pertandingan, sebuah peristiwa kontroversial melibatkan Sumardji yang dilaporkan mendorong wasit pertandingan, Ma Ning. Tindakan ini, yang terekam dan menjadi sorotan, dinilai oleh FIFA sebagai pelanggaran serius terhadap ofisial pertandingan dan integritas sepak bola. Sebagai respons, FIFA melalui Komite Disiplinnya (Komdis) resmi menjatuhkan sanksi berat kepada Sumardji. Hukuman tersebut mencakup larangan mendampingi tim nasional dalam 20 pertandingan resmi. Selain sanksi administratif berupa larangan mendampingi, FIFA juga menjatuhkan sanksi finansial berupa denda sebesar 15.000 Swiss Franc, yang jika dikonversikan ke dalam mata uang lokal setara dengan sekitar Rp324 juta. Denda ini diwajibkan untuk dibayarkan dalam kurun waktu 30 hari sejak tanggal keputusan sanksi diumumkan. Upaya banding yang diajukan oleh Sumardji, sebagaimana dilaporkan oleh beberapa sumber, ternyata tidak membuahkan hasil. Banding tersebut ditolak oleh FIFA, menegaskan bahwa sanksi yang telah ditetapkan tetap berlaku.
Strategi Sumardji: Mengakali Skorsing demi Dukungan Timnas
Meskipun mengakui bobot sanksi yang diberikan oleh FIFA sangat berat, Sumardji menunjukkan keteguhan hati dan kreativitas dalam menyikapi larangan tersebut. Ia tidak tinggal diam dan berupaya mencari celah agar tetap dapat memberikan dukungan kepada Timnas Indonesia. “Tidak ada masalah bagi saya, yang penting saya masih bisa memberi dukungan dan kontribusi untuk Timnas Senior,” tegasnya, menunjukkan fokus utamanya adalah kesejahteraan tim. Sumardji mengemukakan sebuah “trik” atau strategi agar tetap dapat mendampingi tim, meskipun tidak berada di area teknis seperti bangku cadangan. Ia berencana untuk tetap hadir di luar stadion, memberikan dukungan moral dari tempat yang tidak melanggar regulasi FIFA. “Saya memang tidak boleh di bench, tapi tetap bisa mendampingi di hotel dan berangkat ke stadion, selama tidak masuk ruang ganti,” jelasnya lebih lanjut. Strategi ini menunjukkan pemahamannya terhadap batasan-batasan yang ditetapkan oleh FIFA, namun tetap mencari cara untuk memaksimalkan perannya. Dengan demikian, meskipun secara fisik terpisah dari tim di lapangan, Sumardji berupaya menjaga ikatan emosional dan memberikan dorongan semangat kepada para pemain dan staf pelatih.
Agenda terdekat yang akan dihadapi oleh Timnas Indonesia adalah partisipasi dalam FIFA Series 2026. Turnamen internasional ini dijadwalkan akan berlangsung di Jakarta pada rentang waktu 23 hingga 31 Maret mendatang. Keikutsertaan dalam FIFA Series ini menjadi momentum penting bagi skuad Garuda untuk menguji kekuatan dan strategi mereka menjelang kompetisi yang lebih besar. Kehadiran Sumardji, meskipun dengan keterbatasan, diharapkan tetap dapat memberikan kontribusi positif bagi mentalitas tim. Dengan pengalamannya dan pemahamannya yang mendalam tentang dinamika timnas, kehadirannya di lingkungan tim, bahkan jika hanya di luar stadion atau di hotel, bisa menjadi sumber motivasi yang berarti. Tekad Sumardji untuk tetap mendampingi tim, meski dengan cara yang berbeda, mencerminkan dedikasinya yang luar biasa terhadap kemajuan sepak bola Indonesia. Ia berupaya untuk tidak membiarkan sanksi FIFA menjadi penghalang mutlak dalam memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh timnas di momen-momen krusial seperti FIFA Series 2026.

















