- Sistem Penggerak: Menggunakan mesin COGAG (Combined Gas and Gas) yang mampu menghasilkan tenaga luar biasa, memungkinkan kapal melaju dengan kecepatan maksimal hingga 30 knot atau setara 56 kilometer per jam.
- Jangkauan Operasional: Memiliki kemampuan jelajah hingga 7.000 mil laut (sekitar 13.000 kilometer) pada kecepatan ekonomis, yang memungkinkan TNI AL melakukan patroli jarak jauh tanpa sering melakukan pengisian bahan ulang.
- Kapasitas Angkut: Dirancang untuk membawa berbagai jenis helikopter dan pesawat tempur berkemampuan STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing), yang sangat krusial untuk proyeksi kekuatan udara di laut dalam.
- Fungsi Multiguna: Selain sebagai kapal induk pesawat, kapal ini dilengkapi dengan fasilitas medis dan ruang logistik luas yang dapat dikonversi menjadi rumah sakit terapung atau pusat komando bencana.
Kehadiran kapal ini di jajaran armada TNI AL akan secara drastis mengubah doktrin pertahanan maritim Indonesia. Dengan kemampuan mobilitas yang tinggi, Giuseppe Garibaldi dapat berfungsi sebagai pusat komando bergerak yang mampu menjangkau titik-titik terluar zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia dalam waktu singkat. Hal ini sangat relevan mengingat dinamika keamanan di Laut Natuna Utara dan wilayah perairan strategis lainnya yang memerlukan kehadiran fisik armada laut yang kuat secara berkelanjutan.
Modernisasi dan Retrofit: Menuju Standar Kekuatan Maritim Modern
Meskipun Giuseppe Garibaldi telah dioperasikan oleh Angkatan Laut Italia sejak tahun 1985, proses hibah ini diikuti dengan rencana modernisasi besar-besaran. Kemhan RI menyadari bahwa teknologi militer telah berkembang pesat dalam empat dekade terakhir. Oleh karena itu, proses retrofit menjadi agenda prioritas sebelum kapal ini resmi mengibarkan bendera Merah Putih. Modernisasi ini mencakup pembaruan pada sistem radar pencari sasaran, sistem manajemen tempur (Combat Management System/CMS), serta penguatan sistem pertahanan diri (Self-Defense System) terhadap ancaman rudal anti-kapal dan torpedo. Langkah ini diambil agar Giuseppe Garibaldi memiliki siklus hidup (life cycle) yang panjang dan mampu beroperasi secara efektif setidaknya hingga dua dekade mendatang di bawah bendera Indonesia.
Selain aspek teknis, penyiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi tantangan sekaligus peluang bagi TNI AL. Mengoperasikan kapal induk memerlukan keahlian spesifik yang berbeda dari kapal perang konvensional seperti fregat atau korvet. Kemhan berencana mengirimkan sejumlah personel terbaik untuk menjalani pelatihan intensif di Italia guna mempelajari tata cara pengoperasian dek penerbangan, pemeliharaan mesin turbin gas, hingga manajemen logistik armada. Sinergi antara teknologi Italia dan profesionalisme prajurit TNI AL diharapkan dapat menciptakan efek gentar (deterrence effect) yang signifikan di kawasan regional, sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Peran Strategis dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP)
Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh Brigjen TNI Rico Ricardo adalah pemanfaatan Giuseppe Garibaldi untuk misi-misi kemanusiaan. Sebagai negara yang berada di jalur cincin api (Ring of Fire), Indonesia sangat rentan terhadap bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami. Dalam skenario bencana skala besar di mana infrastruktur darat hancur, kapal induk ini akan menjadi aset yang tak ternilai harganya. Kapal ini mampu membawa puluhan helikopter angkut logistik, tim medis, dan peralatan berat yang dapat segera diterjunkan ke lokasi bencana tanpa bergantung pada ketersediaan bandara di darat. Kemampuan memobilisasi logistik dalam volume besar menjadikannya instrumen utama dalam diplomasi kemanusiaan Indonesia di tingkat internasional.
Secara geopolitik, akuisisi ini juga mengirimkan pesan kuat kepada komunitas internasional mengenai keseriusan Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan. Dengan memiliki kapal induk, Indonesia menunjukkan kapasitasnya untuk memimpin operasi gabungan multinasional, baik dalam latihan militer bersama maupun dalam misi penjaga perdamaian di bawah mandat PBB. Giuseppe Garibaldi akan menjadi simbol kekuatan yang mengayomi, memastikan bahwa jalur perdagangan internasional yang melewati perairan Indonesia tetap aman dari ancaman pembajakan maupun gangguan keamanan lainnya. Integrasi kapal ini ke dalam armada TNI AL dipandang sebagai langkah visioner untuk mewujudkan visi Minimum Essential Force (MEF) yang kini bertransformasi menuju postur kekuatan pertahanan yang lebih modern dan disegani.
Dengan rampungnya negosiasi ini, publik kini menantikan kedatangan sang “Raksasa Italia” di perairan Nusantara. Proses transisi dan persiapan teknis diperkirakan akan memakan waktu beberapa bulan hingga setahun ke depan sebelum Giuseppe Garibaldi benar-benar siap menjalankan tugas operasionalnya. Langkah berani Kementerian Pertahanan ini membuktikan bahwa diplomasi pertahanan yang cerdas dapat menghasilkan keuntungan strategis yang besar bagi negara, memastikan bahwa kedaulatan Indonesia di laut tetap terjaga dengan armada yang tangguh dan modern.

















