Dalam sebuah langkah yang menunjukkan ketegasan sekaligus strategi komunikasi yang tak biasa, Presiden terpilih Prabowo Subianto secara terbuka merespons gelombang kritik dan cibiran yang menyasar program unggulannya, Makan Bergizi Gratis (MBG). Di tengah hiruk pikuk perdebatan publik, Prabowo memilih untuk tidak menepis atau mengabaikan, melainkan justru meminta jajaran terdekatnya untuk mengumpulkan setiap narasi negatif tersebut. Peristiwa ini terjadi saat ia meresmikan 1.079 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di Jakarta Barat, sebuah momen krusial yang seharusnya berfokus pada capaian, namun justru dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan kuat terkait komitmennya terhadap program yang menuai pro dan kontra ini. Intinya, Prabowo ingin mengubah setiap ramalan kegagalan dan hinaan menjadi bahan bakar evaluasi dan motivasi pribadi, menegaskan bahwa program ini adalah investasi vital bagi masa depan bangsa.
Merespons derasnya opini di media sosial yang kerap memandang sinis hingga menghina inisiatif MBG, Prabowo Subianto tidak tinggal diam. Ia secara spesifik menginstruksikan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), M Qodari, untuk melakukan kompilasi dan pengarsipan terhadap seluruh video yang berisi ramalan kegagalan maupun bentuk-bentuk hinaan terhadap program tersebut. Sebuah permintaan yang tidak lazim dari seorang kepala negara, di mana Prabowo bahkan menyatakan secara eksplisit keinginannya untuk menonton tayangan-tayangan itu setiap malam

















