Kekhawatiran akan masa depan pasca-studi sering menghantui benak generasi muda, namun sebuah optimisme kuat kini datang dari jajaran pemerintahan. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas menjamin bahwa peluang lapangan kerja akan melimpah ruah di bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang, menepis keraguan yang kerap dirasakan kaum milenial dan Gen Z. Pernyataan ini bukan tanpa dasar, melainkan ditopang oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi yang agresif, manajemen fiskal yang prudent, serta dukungan program nyata dari sektor lain. Bersama Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang menyoroti peran strategis Koperasi Desa Merah Putih, pemerintah memaparkan visi komprehensif untuk menciptakan jutaan pekerjaan baru, mendorong ekspansi ekonomi yang sehat hingga tahun 2033, dan memastikan stabilitas makroekonomi sebagai fondasi utama.
Visi Ekonomi Agresif: Pertumbuhan 6 Persen dan Ekspansi Jangka Panjang
Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Wisma Danantara, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ambisius. Ia secara spesifik menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen yang akan dimulai pada kuartal I 2026. Angka 6 persen ini bukan sekadar target nominal, melainkan sebuah indikator vital yang merefleksikan dinamika ekonomi yang kuat dan berpotensi besar dalam menyerap tenaga kerja. Untuk mencapai akselerasi ini, pemerintah merencanakan gelontoran belanja negara yang substansial. Berdasarkan data dan referensi tambahan, proyeksi belanja negara pada kuartal pertama saja diperkirakan mencapai Rp 809 triliun, sebuah angka yang jauh melampaui Rp 89 triliun yang mungkin merupakan kesalahan ketik dalam laporan awal. Anggaran sebesar ini akan menjadi motor penggerak berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, subsidi, hingga belanja sosial yang secara langsung maupun tidak langsung akan menciptakan efek domino positif terhadap perekonomian dan pasar kerja.
Optimisme Purbaya tidak berhenti pada target jangka pendek. Ia memaparkan visi jangka panjang yang lebih luas, memproyeksikan Indonesia akan memasuki masa ekspansi ekonomi yang sehat dan berkelanjutan hingga tahun 2033. “Kalau mau tahu 10 tahun ke depan, kita kelihatannya masuk masa ekspansi yang sehat. Kita bisa ekspansi sampai dengan 2033,” ujar Purbaya, seperti dikutip pada Sabtu (14/2). Pernyataan ini memberikan gambaran tentang perencanaan strategis pemerintah yang tidak hanya fokus pada pemulihan, tetapi juga pada pembangunan fondasi ekonomi yang kokoh untuk dekade mendatang. Ekspansi yang sehat berarti pertumbuhan yang didukung oleh produktivitas, inovasi, dan diversifikasi ekonomi, bukan sekadar konsumsi yang berlebihan. Ini adalah kabar baik bagi angkatan kerja muda, karena ekspansi semacam ini secara inheren akan menciptakan kebutuhan akan talenta baru di berbagai bidang.
Manajemen Fiskal Prudent: Kunci Stabilitas dan Penciptaan Lapangan Kerja
Inti dari keyakinan Menkeu Purbaya terletak pada manajemen fiskal yang baik dan prudent. Ia menegaskan bahwa seluruh program ekonomi dan target pertumbuhan akan dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga. Salah satu indikator utama dari manajemen fiskal yang prudent adalah komitmen untuk menjaga defisit anggaran tidak melebihi 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Batasan defisit ini merupakan pilar penting dalam menjaga kepercayaan investor dan kredibilitas fiskal negara. Dengan menjaga defisit dalam batas aman, pemerintah menunjukkan disiplin anggaran yang memungkinkan ruang gerak fiskal tetap fleksibel untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Selain defisit, rasio utang negara juga menjadi perhatian utama. Purbaya memastikan bahwa rasio utang Indonesia akan tetap berada dalam posisi yang terkendali, bahkan dengan prospek untuk menurun. “Kita belanjakan dengan maksimal, tapi tidak melanggar 3 persen rasio defisit PDB, dan utang kita dijaga di level stabil, mungkin akan turun,” tegasnya. Mekanisme penurunan utang ini dijelaskan secara gamblang: ketika ekonomi tumbuh lebih baik, penerimaan negara dari sektor pajak dan bea cukai akan meningkat signifikan. Peningkatan pendapatan ini kemudian dapat digunakan untuk menekan rasio utang secara perlahan, menciptakan lingkaran positif antara pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan negara, dan pengurangan beban utang. Stabilitas fiskal semacam ini adalah magnet bagi investasi, baik domestik maupun asing, yang pada gilirannya akan menjadi mesin utama penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Purbaya secara eksplisit menyuarakan pesan optimisme kepada generasi muda. “Artinya tidak usah khawatir, apalagi kalangan muda yang takut cari kerja setelah lulus, bulan-bulan dan tahun-tahun ke depan akan lebih banyak lapangan kerja tercipta. Itu semua dijalankan dengan manajemen fiskal yang baik, yang prudent,” ungkapnya. Pernyataan ini merespons kekhawatiran yang jamak dirasakan oleh lulusan baru, memberikan jaminan bahwa kebijakan ekonomi pemerintah dirancang untuk membuka lebih banyak pintu kesempatan. Keyakinan ini didukung oleh proyeksi belanja negara yang besar dan berkelanjutan, yang akan menstimulasi berbagai sektor ekonomi untuk berekspansi dan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja.
Sinergi Program Pemerintah: Peran Koperasi Desa dalam Penciptaan Kerja
Optimisme mengenai ketersediaan lapangan kerja juga diperkuat oleh kontribusi dari sektor lain, khususnya melalui program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menyoroti peran krusial program Koperasi Desa Merah Putih dalam menyerap tenaga kerja. Program ini bukan sekadar inisiatif biasa, melainkan sebuah ekosistem ekonomi yang dirancang untuk menjadi “offtaker” atau pembeli hasil usaha rakyat, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di pedesaan.
Skala program ini sangat masif. Zulhas melaporkan bahwa hingga Januari 2026, sebanyak 30.000 unit Koperasi Desa Merah Putih telah berhasil dibangun di seluruh Indonesia. “Kopdes, offtaker usaha rakyat, tahun ini sampai Januari dibangun 30.000 (unit) dan menyerap 600.000 tenaga kerja,” katanya. Angka 600.000 tenaga kerja yang terserap ini menunjukkan dampak langsung dan signifikan dari program ini terhadap penciptaan lapangan kerja di tingkat akar rumput. Koperasi-koperasi ini berfungsi sebagai jembatan antara produsen kecil di desa dengan pasar yang lebih luas, memberikan kepastian pasar bagi produk-produk lokal dan sekaligus menciptakan pekerjaan baru di sektor pengelolaan, distribusi, dan pemasaran.
Program Koperasi Desa ini juga merupakan bagian integral dari upaya pemerintah untuk melampaui target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar 5,4 persen. Zulhas meyakini bahwa dengan berbagai program unggulan pemerintah, termasuk inisiatif koperasi ini, Indonesia sangat mungkin mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen. Sinergi antara kebijakan makroekonomi yang prudent dari Kementerian Keuangan dan program pemberdayaan ekonomi mikro seperti Koperasi Desa Merah Putih menciptakan strategi dua arah yang kuat: pertumbuhan dari atas ke bawah melalui investasi dan belanja negara, serta pertumbuhan dari bawah ke atas melalui penguatan ekonomi lokal dan UMKM. Kombinasi ini diharapkan dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan merata, memastikan bahwa manfaat pertumbuhan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk para pencari kerja muda.
Secara keseluruhan, pesan yang disampaikan oleh kedua menteri ini adalah tentang sebuah era baru optimisme bagi pasar tenaga kerja Indonesia. Dengan fondasi fiskal yang kuat, target pertumbuhan ekonomi yang ambisius namun realistis, dan program-program pemberdayaan yang konkret, pemerintah berupaya keras untuk memastikan bahwa setiap lulusan muda memiliki kesempatan yang luas untuk berkarya dan berkontribusi pada pembangunan bangsa.

















