Menjelang perayaan suci Idul Fitri 2026 yang dinanti-nanti, Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Solo Raya telah mengambil langkah proaktif yang signifikan untuk memastikan kelancaran transaksi dan ketersediaan uang tunai bagi masyarakat. Dengan alokasi dana segar mencapai Rp 4,59 triliun, BI Solo Raya siap memenuhi lonjakan kebutuhan uang layak edar (ULE) selama periode Ramadan dan Idul Fitri (RAFI) 2026. Langkah strategis ini, yang merupakan bagian integral dari program nasional Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026, mencakup pembukaan 60 titik layanan penukaran uang baru di seluruh wilayah eks-Karesidenan Surakarta, dimulai dari 23 Februari hingga 13 Maret 2026. Inisiatif ini bertujuan untuk mendukung aktivitas ekonomi yang meningkat, mobilitas masyarakat yang tinggi, serta konsumsi rumah tangga yang melonjak, sekaligus memfasilitasi kebutuhan sistem pembayaran tunai maupun nontunai secara efektif dan merata.
Kepala Kantor Perwakilan BI Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, secara khusus menyampaikan apresiasinya yang mendalam kepada seluruh perbankan dan mitra kerja di Solo Raya atas kolaborasi yang erat dalam menyukseskan program SERAMBI 2026. Sinergi yang kuat ini menjadi tulang punggung dalam memastikan distribusi uang rupiah berjalan dengan lancar, tepat sasaran, dan sesuai dengan ekspektasi serta kebutuhan riil masyarakat. Dwiyanto menegaskan bahwa jumlah uang layak edar yang disiapkan pada tahun ini menunjukkan peningkatan substansial dibandingkan periode sebelumnya, sebuah indikator positif yang sejalan dengan penguatan aktivitas ekonomi regional. Peningkatan ini tidak hanya mencerminkan pulihnya daya beli masyarakat, tetapi juga tingginya mobilitas penduduk yang kembali ke kampung halaman, serta peningkatan signifikan dalam konsumsi rumah tangga yang menjadi ciri khas bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri 2026.
Strategi Distribusi dan Mekanisme Penukaran Uang Rupiah
Untuk memudahkan akses masyarakat terhadap uang layak edar, BI Solo Raya telah merancang jadwal dan mekanisme penukaran yang terstruktur. Layanan penukaran uang rupiah dapat diakses di berbagai loket bank umum yang tersebar luas, serta di lokasi-lokasi strategis lainnya, selama periode krusial dari 23 Februari hingga 13 Maret 2026. Wilayah cakupan layanan ini sangat luas, meliputi Kota Solo, serta enam kabupaten penyangga di sekitarnya, yaitu Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten. Bahkan, untuk Kota Solo sendiri, BI telah menyiapkan setidaknya 10 lokasi spesifik untuk layanan penukaran uang, memberikan kemudahan akses yang lebih terfokus. Informasi detail mengenai jadwal operasional dan lokasi-lokasi penukaran ini dapat diakses secara transparan melalui berbagai kanal media sosial resmi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, memastikan masyarakat tidak ketinggalan informasi penting.
Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan kenyamanan, serta mengurangi potensi antrean panjang dan kepadatan di lokasi penukaran, BI mewajibkan masyarakat untuk melakukan pemesanan terlebih dahulu. Mekanisme pemesanan ini dilakukan melalui aplikasi berbasis web yang inovatif, yaitu PINTAR (Penukaran dan Tarik Uang Rupiah), yang dapat diakses dengan mudah melalui laman resmi pintar.bi.go.id. Sistem PINTAR ini dirancang untuk mengoptimalkan proses penukaran, memastikan distribusi uang rupiah yang lebih merata, dan memberikan pengalaman yang lebih terorganisir bagi masyarakat. Dengan demikian, setiap individu dapat merencanakan penukaran uang mereka dengan lebih baik, menghindari waktu tunggu yang tidak perlu, dan mendapatkan pelayanan yang efisien.
Memfasilitasi Transaksi Digital di Era Modern
Di samping penyediaan uang tunai, Bank Indonesia juga secara konsisten mendorong masyarakat untuk semakin memanfaatkan berbagai pilihan pembayaran digital yang modern dan efisien. Di tengah hiruk-pikuk peningkatan aktivitas ekonomi selama Ramadan dan Idul Fitri, pembayaran digital menawarkan solusi yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal. Dwiyanto Cahyo Sumirat secara khusus menyoroti penggunaan layanan mobile banking dan internet banking sebagai alternatif yang praktis. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya adopsi transfer dana melalui BI-FAST, sebuah infrastruktur sistem pembayaran ritel nasional yang memungkinkan transfer dana secara instan, aman, dan efisien 24/7. Selain itu, pembayaran berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) juga terus digalakkan sebagai metode pembayaran yang universal dan mudah digunakan di berbagai merchant, dari pedagang kaki lima hingga pusat perbelanjaan modern, memperkuat ekosistem pembayaran non-tunai di Indonesia.
Secara keseluruhan, komitmen Bank Indonesia bersama seluruh perbankan dalam memenuhi kebutuhan uang layak edar masyarakat selama periode Ramadan dan Idul Fitri tahun ini tercermin dari alokasi dana tunai yang sangat besar, mencapai Rp 185,6 triliun. Angka fantastis ini disalurkan melalui program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026, yang secara resmi dibuka oleh Deputi Gubernur BI, Ricky P. Gozali, bersama para pimpinan perbankan dan Asosiasi Perusahaan Jasa. Program nasional ini berlangsung hingga 15 Maret 2026, mencakup seluruh wilayah Indonesia. Dari total Rp 185,6 triliun tersebut, sebagian besar, yaitu sebesar Rp 177 triliun, dialokasikan secara spesifik untuk memenuhi kebutuhan likuiditas perbankan, termasuk penarikan tunai melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan layanan di kantor-kantor cabang bank. Sementara itu, sisa sebesar Rp 8,6 triliun disiapkan secara khusus untuk layanan penukaran uang langsung kepada masyarakat, dengan batas maksimal penukaran yang telah ditetapkan sebesar Rp 5,3 juta per paket per individu.
Ricky P. Gozali juga menambahkan bahwa secara nasional, layanan penukaran uang ini tersedia di 2.883 titik yang tersebar di seluruh Indonesia, mencakup total 8.755 layanan yang diselenggarakan secara sinergis oleh Bank Indonesia dan perbankan. Skala layanan yang masif ini menunjukkan keseriusan dan komitmen BI dalam memastikan setiap lapisan masyarakat di seluruh pelosok negeri dapat mengakses uang rupiah layak edar yang baru dan bersih menjelang perayaan Idul Fitri. Ini adalah upaya berkelanjutan BI untuk menjaga stabilitas sistem pembayaran, mendukung kelancaran transaksi ekonomi, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Indonesia.

















