Jakarta, Indonesia – Pasar modal Indonesia menunjukkan vitalitas yang mengesankan pada pekan kedua Februari 2026, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melonjak signifikan di tengah dinamika aktivitas perdagangan yang menarik. Selama periode 9 hingga 13 Februari 2026, IHSG berhasil membukukan kenaikan substansial sebesar 3,49 persen, menutup pekan di level 8.212,271, jauh melampaui posisi 7.935,260 pada pekan sebelumnya. Kinerja positif ini tidak hanya mencerminkan sentimen pasar yang optimis, tetapi juga didukung oleh peningkatan kapitalisasi pasar dan volume transaksi yang solid, meskipun dibayangi oleh aksi jual bersih investor asing yang berkelanjutan. Data yang dirilis oleh BEI ini memberikan gambaran komprehensif tentang kesehatan pasar saham domestik, sekaligus menyoroti peran penting instrumen utang dalam melengkapi lanskap investasi.
Kenaikan IHSG sebesar 3,49 persen dalam sepekan ini merupakan indikator kuat pemulihan dan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Lonjakan indeks ke level 8.212,271 dari 7.935,260 menunjukkan bahwa pasar mampu menyerap tekanan dan merespons positif berbagai faktor pendorong, seperti potensi pertumbuhan ekonomi, stabilitas makroekonomi, atau kinerja korporasi yang menjanjikan. Peningkatan ini juga berkorelasi langsung dengan pertumbuhan kapitalisasi pasar BEI yang turut naik sebesar 3,83 persen, mencapai angka fantastis Rp 14.889 triliun dari Rp 14.341 triliun pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar, yang merepresentasikan total nilai seluruh saham yang tercatat di bursa, adalah cerminan langsung dari kekayaan yang tercipta di pasar saham dan menjadi barometer ukuran pasar secara keseluruhan. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa nilai perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI secara kolektif telah meningkat secara signifikan, menandakan periode yang menguntungkan bagi pemegang saham.
Namun, di balik euforia kenaikan IHSG dan kapitalisasi pasar, terdapat fenomena yang patut dicermati: aktivitas investor asing. Pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Februari 2026, investor asing tercatat membukukan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp 2,03 triliun. Angka ini menambah panjang daftar aksi jual bersih kumulatif sepanjang tahun 2026, yang kini mencapai total Rp 16,49 triliun. Aksi jual bersih ini, di mana total penjualan lebih besar dari total pembelian oleh investor asing, bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti strategi profit-taking setelah kenaikan signifikan, rebalancing portofolio global, atau kekhawatiran spesifik terhadap sektor tertentu. Meskipun demikian, pasar domestik tampak memiliki daya tahan yang kuat, terbukti dari kemampuan IHSG untuk tetap menguat meskipun ada tekanan jual dari investor asing. Hal ini bisa menjadi indikasi peningkatan partisipasi investor domestik atau kekuatan fundamental pasar yang mampu menopang tekanan tersebut.
Dinamika Aktivitas Perdagangan: Volume, Frekuensi, dan Nilai Transaksi
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, dalam keterangannya yang dikutip pada Sabtu, 14 Februari 2026, menegaskan bahwa data perdagangan saham di BEI selama periode 9–13 Februari 2026 memang mayoritas ditutup dengan tren positif. Kautsar secara spesifik menyoroti bahwa peningkatan tertinggi terjadi pada volume transaksi harian bursa. Rata-rata volume transaksi harian melonjak sebesar 4,73 persen, mencapai 45,24 miliar lembar saham dari 43,20 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya. Peningkatan volume ini menunjukkan partisipasi investor yang lebih aktif dan likuiditas pasar yang tinggi, di mana lebih banyak saham berpindah tangan, mencerminkan minat beli dan jual yang kuat di pasar.
Sejalan dengan peningkatan volume, rata-rata frekuensi transaksi harian juga turut menunjukkan peningkatan tipis sebesar 0,37 persen, mencapai 2,74 juta kali transaksi, naik dari 2,73 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya. Frekuensi transaksi yang meningkat mengindikasikan bahwa ada lebih banyak transaksi yang terjadi, yang bisa jadi didorong oleh aktivitas investor ritel atau perdagangan algoritmik yang cepat. Ini menunjukkan pasar yang lebih dinamis dan aktif, dengan banyak pelaku pasar yang terlibat dalam berbagai skala transaksi.

















