Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melontarkan pernyataan tajam yang menyasar kalangan akademisi dan kelompok terdidik yang selama ini bersikap skeptis terhadap program unggulannya, Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam sebuah pidato yang penuh penekanan saat meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, pada Jumat, 13 Februari 2026, Kepala Negara mengungkapkan kekecewaannya terhadap sejumlah tokoh bergelar profesor yang secara terbuka mengejek dan menghina inisiatif tersebut. Prabowo menegaskan bahwa kritik yang datang dari para pakar ternama itu bukan sekadar masukan konstruktif, melainkan sebuah bentuk serangan yang meramalkan kegagalan total program MBG dengan tudingan utama berupa penghambur-hamburan anggaran negara. Padahal, program ini dirancang sebagai instrumen strategis untuk memutus rantai kemiskinan dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo Subianto secara spesifik menyinggung adanya kampanye negatif yang terstruktur untuk menjatuhkan kredibilitas program Makan Bergizi Gratis. Ia mengaku heran melihat fenomena di mana orang-orang dengan latar belakang pendidikan tinggi justru menjadi pihak yang paling gencar melayangkan cemoohan. Meski tidak menyebutkan nama secara eksplisit, Prabowo menggarisbawahi bahwa para kritikus tersebut memiliki pengaruh besar di ruang publik. Sambil menyisipkan tawa kecil yang menyiratkan ironi, ia menduga bahwa narasi buruk yang dibangun oleh para profesor tersebut kemungkinan besar didasari oleh perasaan dendam dan dengki pribadi, ketimbang analisis objektif atas kebutuhan rakyat. Baginya, menyerang sebuah kebijakan yang sangat krusial bagi masyarakat kelas bawah adalah tindakan yang sangat menyedihkan dan menunjukkan kurangnya empati dari kelompok elit terpelajar terhadap realitas ekonomi rakyat kecil.
Respon Keras Presiden Terhadap Kritik Akademisi dan Tuduhan Pemborosan Anggaran
Menanggapi tuduhan bahwa program MBG hanya akan menghambur-hamburkan uang negara, Presiden Prabowo memberikan pembelaan yang kuat dengan menyatakan bahwa pendanaan program ini merupakan hasil dari penghematan dan efisiensi birokrasi yang ketat. Ia menolak mentah-mentah anggapan bahwa investasi pada gizi anak adalah sebuah pemborosan. Sebaliknya, ia memandang bahwa kegagalan negara dalam memberikan asupan gizi yang layak justru akan menjadi beban finansial yang jauh lebih besar di masa depan akibat rendahnya produktivitas nasional. Prabowo menekankan bahwa program yang telah berjalan selama lebih dari satu tahun ini sudah berada di jalur yang benar (on the right track). Ia melihat adanya urgensi untuk melindungi kelompok ekonomi lemah yang selama ini tidak memiliki akses terhadap makanan berkualitas, sehingga intervensi pemerintah melalui MBG menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar lagi oleh retorika politik manapun.
Lebih lanjut, Prabowo memaparkan landasan filosofis dan biologis di balik kegigihannya mempertahankan program ini. Ia menjelaskan bahwa masalah utama yang dihadapi bangsa saat ini adalah stunting, yang ia definisikan bukan sekadar masalah fisik, melainkan kegagalan perkembangan sel-sel vital dalam tubuh manusia akibat kekurangan gizi kronis. Presiden secara mendalam menguraikan bahwa kekurangan gizi mengakibatkan sel tulang tidak berkembang dengan baik yang menyebabkan tubuh pendek, namun yang lebih mengkhawatirkan adalah tidak berkembangnya sel-sel otak secara optimal. Hal ini, menurutnya, akan menciptakan generasi yang kalah bersaing di tingkat global. Prabowo bahkan berani menyebut fenomena stunting massal di Indonesia sebagai hasil dari sebuah “proyek pemiskinan rakyat” yang telah berlangsung lama, dan program Makan Bergizi Gratis adalah senjata utama untuk menghentikan proyek sistematis yang merugikan masa depan bangsa tersebut.
Urgensi Medis dan Komparasi Global: Mengapa Makan Bergizi Gratis Menjadi Harga Mati
Dalam upaya memperkuat argumentasinya, Ketua Umum Partai Gerindra ini membawa perspektif internasional ke dalam diskusinya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan studi mendalam terhadap kebijakan bangsa-bangsa lain di dunia. Berdasarkan temuannya, terdapat lebih dari 75 negara yang telah mengimplementasikan program serupa dengan Makan Bergizi Gratis sebagai kebijakan nasional mereka. Prabowo memberikan contoh konkret pada negara India, yang memiliki pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita hanya setengah dari Indonesia, namun memiliki keberanian politik untuk memberikan makan gratis kepada 800 juta rakyatnya. Perbandingan ini digunakan untuk mematahkan argumen para kritikus yang menganggap Indonesia belum mampu secara finansial. Jika negara dengan kapasitas ekonomi di bawah Indonesia mampu melakukannya, maka menurut Prabowo, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak melaksanakan hal serupa demi kesejahteraan rakyatnya.
Presiden juga menyoroti bahwa di banyak negara maju, program pemberian makan bergizi telah masuk ke dalam regulasi nasional yang bersifat mengikat. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan gizi adalah tanggung jawab fundamental negara terhadap warganya. Oleh karena itu, ia berkomitmen untuk terus menghadapi segala bentuk kampanye negatif dan ejekan dari para profesor tersebut dengan aksi nyata di lapangan. Peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) oleh Polri ini menjadi salah satu bukti bahwa institusi negara, termasuk aparat penegak hukum, dikerahkan untuk memastikan distribusi gizi sampai ke tangan anak-anak, ibu hamil, serta lansia yang tak berdaya. Prabowo menegaskan bahwa satu-satunya jalan untuk mencetak generasi emas adalah dengan memastikan perut rakyat tidak lapar dan otak mereka mendapatkan nutrisi yang cukup untuk berpikir dan berinovasi.
Sebagai penutup dari rangkaian penjelasannya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa dirinya tidak akan surut selangkah pun meski dihujani kritik tajam. Baginya, keberhasilan program MBG bukan sekadar pencapaian politik, melainkan pemenuhan janji kemanusiaan kepada rakyat yang ekonominya belum kuat. Ia mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk para akademisi yang sebelumnya berseberangan, untuk melihat program ini dari kacamata kepentingan nasional jangka panjang. Dengan dukungan institusi seperti Polri dan pengawasan anggaran yang ketat, ia optimis bahwa program Makan Bergizi Gratis akan menjadi fondasi utama dalam membangun kekuatan bangsa yang sehat, cerdas, dan bermartabat di mata dunia, sekaligus membuktikan bahwa ramalan kegagalan dari para profesor tersebut adalah keliru.

















