Dalam sebuah peringatan keras yang menggema di panggung global, Kanselir Jerman Friedrich Merz telah menyatakan bahwa tatanan dunia berbasis aturan yang selama ini menjadi pilar stabilitas internasional telah runtuh, menyoroti kebutuhan mendesak bagi Eropa untuk meningkatkan kemandirian dan mempersenjatai diri. Pernyataan ini, yang dilontarkan di hadapan para pemimpin dunia di Konferensi Keamanan Munich, menandai pergeseran paradigma geopolitik yang signifikan, di mana kepemimpinan Amerika Serikat tidak lagi dapat diandalkan sepenuhnya. Merz secara gamblang mengemukakan bahwa klaim kepemimpinan AS kini tengah ditantang, bahkan mungkin telah hilang, membuka era baru yang ditandai oleh persaingan kekuatan besar di mana kebebasan tidak lagi terjamin, melainkan terancam. Pertanyaan krusial yang muncul adalah: Bagaimana Eropa akan menavigasi lanskap global yang baru ini, dan apa implikasinya bagi keamanan dan kemakmuran benua tersebut?
Kanselir Jerman Friedrich Merz tidak ragu-ragu dalam menyampaikan analisisnya yang tajam mengenai kondisi dunia saat ini. Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich, sebuah forum bergengsi yang mempertemukan para pembuat kebijakan, diplomat, dan pakar keamanan dari seluruh dunia, Merz menyatakan bahwa tatanan internasional yang selama ini dibangun di atas fondasi hak dan aturan, kini telah mengalami keruntuhan. Ia berpendapat bahwa sistem global seperti yang kita kenal sebelumnya, yang memberikan kerangka kerja untuk kerja sama dan prediktabilitas, tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Penilaian ini mencerminkan kekhawatiran yang mendalam di Berlin mengenai ketidakpastian yang semakin meningkat dalam hubungan internasional, yang dipicu oleh dinamika kekuatan besar yang kian intensif.
Eropa Menghadapi Realitas Baru: Kemandirian dan Persenjataan
Dalam konteks runtuhnya tatanan dunia berbasis aturan, Merz menekankan bahwa Eropa harus segera mengambil langkah-langkah konkret untuk memastikan kelangsungan hidup dan kemakmurannya. Salah satu poin krusial yang diangkat adalah pentingnya kemandirian, baik dalam hal ekonomi maupun pertahanan. Merz secara eksplisit menyatakan bahwa Eropa harus mempersenjatai diri mereka, sebuah seruan yang mengindikasikan bahwa benua tersebut tidak dapat lagi sepenuhnya bergantung pada aliansi atau kekuatan eksternal untuk menjamin keamanannya. Ia mengingatkan bahwa di era persaingan kekuatan besar yang semakin sengit, kebebasan Eropa tidak lagi dapat dianggap sebagai sesuatu yang terjamin secara otomatis; sebaliknya, kebebasan tersebut kini menghadapi ancaman nyata.
Pandangan Merz ini bukan sekadar retorika kosong, melainkan sebuah kesadaran mendalam akan pergeseran kekuatan global. Ia merujuk pada pengalaman historis Jerman sendiri, dengan menyatakan, “Kita orang Jerman tahu bahwa dunia di mana kekuatan menentukan kebenaran akan menjadi tempat yang gelap.” Pengalaman pahit Jerman di abad ke-20, yang berujung pada konflik global yang mengerikan, menjadi pengingat abadi akan bahaya dominasi kekuatan tanpa aturan. Oleh karena itu, dorongan untuk kemandirian Eropa juga merupakan upaya untuk mencegah terulangnya sejarah kelam tersebut.
Bayang-bayang Kepemimpinan Amerika yang Memudar
Salah satu elemen kunci dari peringatan Merz adalah penilaiannya terhadap peran kepemimpinan Amerika Serikat. Ia secara gamblang menyatakan bahwa klaim kepemimpinan AS sedang ditantang, dan bahkan mungkin telah hilang. Pernyataan ini sangat signifikan mengingat peran sentral AS dalam membentuk tatanan internasional pasca-Perang Dunia II. Pergeseran ini, jika benar terjadi, akan memiliki implikasi yang luas bagi seluruh dunia, termasuk Eropa. Merz menggarisbawahi bahwa di era yang ditandai oleh persaingan kekuatan besar, ketergantungan pada AS untuk menjamin keamanan dan stabilitas global menjadi semakin riskan.
Menariknya, pesan Merz ini bergema dengan pernyataan yang disampaikan oleh Wakil Menteri Pertahanan AS Elbridge Colby di forum yang sama. Colby menyerukan “NATO 3.0,” sebuah visi yang menghendaki para sekutu Eropa untuk memikul beban pertahanan yang jauh lebih besar, sementara Washington memprioritaskan wilayah lain. Colby menegaskan bahwa Amerika Serikat menginginkan sekutu Eropa yang tangguh, cakap, dan lebih mandiri, mengakui bahwa AS telah lama memikul beban yang tidak proporsional. Hal ini menunjukkan adanya keselarasan pandangan antara Berlin dan Washington mengenai perlunya distribusi tanggung jawab keamanan yang lebih merata di antara sekutu NATO.
Merz sendiri mengisyaratkan bahwa Berlin telah secara aktif mempersiapkan skenario yang melibatkan jejak kehadiran Amerika yang lebih kecil di Eropa. Ia mengakui bahwa terkadang terdapat perbedaan pendapat antara Jerman dan Amerika Serikat. “Kami orang Eropa mengambil tindakan pencegahan. Dengan melakukan itu, kami sampai pada kesimpulan yang berbeda dari pemerintahan di Washington,” ujar Merz, yang menyiratkan bahwa Jerman sedang mengembangkan strategi independen untuk menghadapi tantangan keamanan yang ada. Bahkan, Merz juga membenarkan adanya diskusi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenai kemungkinan pengembangan penangkal nuklir Eropa, sebuah langkah yang menunjukkan keseriusan Eropa dalam membangun kapasitas pertahanan mandiri.
Penting untuk dicatat bahwa pandangan Merz ini bukan tanpa dukungan dari pihak AS. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, saat berangkat ke Munich, mengakui bahwa “dunia lama telah lenyap” dan bahwa “kita hidup di era baru dalam geopolitik.” Ia menekankan perlunya meninjau kembali peran masing-masing negara dan menegaskan kembali pentingnya Eropa bagi AS. Rubio juga menyoroti bahwa AS menginginkan kejujuran dan kejelasan mengenai arah kebijakan luar negeri dan peran yang ingin dimainkan bersama sekutu-sekutunya.

















