Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, telah menimbulkan dampak signifikan, merendam permukiman warga dan lahan pertanian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang mencatat bahwa 12 kecamatan di wilayah tersebut kini berada dalam status terdampak bencana alam ini.
Menurut data terkini yang dirilis oleh BPBD Karawang per Senin (19/1) pukul 08.00 WIB, intensitas banjir telah meluas hingga mencakup 26 desa di 12 kecamatan. Angka ini menunjukkan skala bencana yang cukup besar dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang, Ferry Muharam, menjelaskan bahwa penyebab utama banjir kali ini adalah tingginya curah hujan yang terjadi secara intensif dalam beberapa waktu terakhir. Curah hujan ekstrem ini telah menyebabkan meluapnya dua sungai besar yang melintasi wilayah Karawang, yaitu Sungai Citarum dan Sungai Cibeet. Selain itu, banjir rob atau genangan air laut pasang juga dilaporkan terjadi di wilayah pesisir Karawang, menambah kompleksitas situasi kebencanaan.
Dampak Luas Terhadap Ribuan Warga dan Infrastruktur
Dampak banjir ini tidak hanya dirasakan oleh infrastruktur, tetapi juga secara langsung memengaruhi kehidupan ribuan warga. Data BPBD mencatat bahwa sebanyak 13.304 orang dewasa, 374 balita, dan 86 bayi menjadi korban langsung dari bencana ini. Total, sebanyak 4.304 keluarga terdampak, di mana 2.413 di antaranya terpaksa mengungsi dari rumah mereka yang terendam banjir. Ironisnya, sebanyak 3.163 rumah warga dilaporkan terendam air, menunjukkan tingkat keparahan banjir yang melanda.
Tingkat ketinggian air di 12 kecamatan yang terdampak banjir menunjukkan variasi yang cukup signifikan, mulai dari 10 sentimeter hingga mencapai 200 sentimeter. Kondisi paling parah dilaporkan terjadi di Desa Karangligar, di mana ketinggian air mencapai dua meter, membuat aktivitas warga lumpuh total dan memerlukan upaya evakuasi yang intensif. Dalam menghadapi situasi darurat ini, petugas BPBD telah meningkatkan kesiagaan mereka menjadi 24 jam penuh. Fokus utama mereka saat ini adalah melakukan evakuasi terhadap korban yang terjebak dan mendistribusikan bantuan logistik berupa kebutuhan pokok kepada warga yang terdampak. Bantuan tersebut mencakup makanan siap saji, air minum, selimut hangat, dan terpal untuk perlindungan sementara.
Sektor Pertanian Terpukul, Ribuan Hektare Sawah Terendam
Selain merendam permukiman warga, banjir yang terjadi di Karawang juga memberikan pukulan telak bagi sektor pertanian. Data terbaru menunjukkan bahwa lahan pertanian seluas 1.948 hektare terendam banjir. Luasan ini mencakup area persawahan yang menjadi sumber mata pencaharian utama bagi banyak petani di Karawang.
Mahmud, Kepala Bidang Sarana Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DPKPP) Karawang, merinci lebih lanjut mengenai dampak pada lahan pertanian. Dari total 1.948 hektare sawah yang terdampak, mayoritas atau sekitar 1.928 hektare berada pada fase kritis yaitu Hari Setelah Tanam (HST). Sementara itu, seluas 20 hektare lainnya berada pada fase Hari Setelah Semai (HSS). Kerusakan pada fase-fase awal pertumbuhan tanaman padi ini berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi para petani.
Meskipun demikian, DPKPP Karawang telah mengambil langkah-langkah mitigasi untuk membantu para petani yang terdampak. Pihaknya memastikan bahwa para petani yang lahannya terendam banjir akan mendapatkan klaim dari program asuransi pertanian yang telah mereka ikuti. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir kerugian finansial yang dialami oleh petani. Lebih lanjut, DPKPP akan melakukan sinkronisasi data antara kelompok tani yang terdaftar dalam program Asuransi Usaha Tani dengan Bidang Prasarana. Bagi kelompok tani yang baru saja melakukan penanaman dan belum tercover oleh asuransi, DPKPP berjanji akan mengusulkan fasilitasi bantuan berupa benih padi baru untuk membantu mereka memulai kembali usaha taninya.


















