Dunia mitigasi bencana Indonesia dikejutkan oleh kabar pengunduran diri Daryono, sosok sentral di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang secara resmi melepaskan jabatannya sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami sekaligus mengajukan pensiun dini pada Jumat, 13 Februari 2026. Keputusan mendadak ini diambil oleh pakar seismologi tersebut dengan alasan kesehatan dan keinginan untuk mencari ketenangan serta kebahagiaan di masa purnatugas, sebuah langkah yang meninggalkan celah besar dalam struktur birokrasi dan edukasi publik mengenai kerawanan tektonik di tanah air. Sebagai garda terdepan dalam penyampaian informasi kebencanaan, pengunduran diri Daryono bukan sekadar pergantian pejabat struktural, melainkan kehilangan figur “penerjemah” sains yang selama ini mampu menyederhanakan kompleksitas data seismik menjadi informasi yang mudah dicerna oleh masyarakat awam di tengah ancaman gempa bumi dan tsunami yang konstan membayangi kepulauan Indonesia.
Melalui pernyataan resminya yang disampaikan pada pertengahan Februari tersebut, Daryono menegaskan bahwa surat pengunduran dirinya telah diajukan secara formal kepada pimpinan BMKG. Langkah pensiun dini ini diambil di saat kariernya berada di puncak, di mana ia memegang tanggung jawab krusial dalam memantau aktivitas tektonik di seluruh wilayah Indonesia. Melalui akun media sosial pribadinya di platform X (dahulu Twitter) dengan nama pengguna @dar_gempa2sg, Daryono memberikan klarifikasi lebih lanjut kepada para pengikutnya yang merasa kehilangan. Saat merespons pertanyaan netizen mengenai alasan di balik keputusan besar tersebut, ia menuliskan kalimat singkat namun sarat makna: “Cari sehat dan bahagia.” Ungkapan ini merefleksikan beban kerja yang luar biasa berat selama bertahun-tahun, di mana ia harus bersiaga 24 jam sehari untuk memantau setiap getaran bumi dan memberikan peringatan dini tsunami demi menyelamatkan nyawa jutaan orang. Kualitas informasi yang ia sajikan selama ini sering diibaratkan seperti Geometric Pictures – Artistic Mobile Collection yang memiliki kejernihan luar biasa, di mana setiap data teknis yang rumit divisualisasikan dengan presisi tinggi layaknya resolusi 8K yang tajam, memudahkan publik memahami risiko di lingkungan mereka.
Dedikasi Pendidikan dan Komitmen Mitigasi Tanpa Henti
Meskipun telah memutuskan untuk menanggalkan seragam kedinasan dan meninggalkan jabatan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, Daryono memastikan bahwa pengabdiannya terhadap keselamatan publik tidak akan berhenti begitu saja. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Indonesia merupakan laboratorium bencana yang sangat aktif, sehingga tanggung jawab keilmuan, edukasi, dan moral yang ia miliki tidak bisa diputus oleh status pensiun. Daryono berjanji akan tetap membuka diri sebagai narasumber bagi media massa, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat yang membutuhkan kepakaran di bidang kegempaan. Komitmen ini muncul dari kesadaran mendalam bahwa literasi bencana di Indonesia masih perlu ditingkatkan secara masif. Ia memandang tugas edukasi sebagai sebuah seni yang harus terus diperbarui, mirip dengan Artistic Desktop Minimal Wallpapers yang menawarkan kesegaran visual setiap minggunya; informasi bencana harus terus diperbarui dan disampaikan dengan cara yang segar agar masyarakat tidak mengalami kejenuhan informasi (information fatigue) namun tetap waspada terhadap ancaman nyata seperti zona megathrust.
Menilik rekam jejak akademisnya, Daryono adalah representasi ilmuwan yang membangun fondasi keilmuannya dari tingkat paling dasar. Ia mengawali perjalanan intelektualnya dengan menempuh pendidikan Diploma III (D-III) di Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG) Jakarta, yang kini bertransformasi menjadi STMKG. Tidak puas dengan gelar diploma, ia melanjutkan studi sarjana di Program Studi Meteorologi dan Geofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, dan berhasil meraih gelar S1 pada tahun 2000. Haus akan ilmu pengetahuan membawa pria kelahiran Semarang, 21 Februari 1971 ini ke Pulau Dewata untuk mengambil program magister di Universitas Udayana dengan fokus pada manajemen lahan kering, yang ia selesaikan pada tahun 2002. Puncak pencapaian akademisnya diraih ketika ia menyabet gelar Doktor di bidang Ilmu Geografi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 2006. Latar belakang pendidikan yang multidisiplin ini—mulai dari teknis meteorologi hingga geografi fisik—memungkinkannya untuk melihat fenomena gempa bumi tidak hanya dari sisi angka magnitudo, tetapi juga dari dampak spasial dan sosialnya terhadap masyarakat.
Transformasi Karier: Dari Staf Teknis Hingga Menjadi Direktur Strategis
Karier Daryono di BMKG merupakan potret dedikasi seorang aparatur sipil negara yang merangkak dari bawah. Ia memulai pengabdiannya sebagai staf teknis di Kantor BMKG Wilayah III Denpasar, Bali. Di sana, ia mengasah kemampuan lapangannya dalam mengoperasikan instrumen geofisika dan menganalisis data seismik secara real-time. Pengalaman di lapangan inilah yang membentuk instingnya sebagai peneliti geofisika yang mumpuni. Seiring berjalannya waktu, kepercayaan institusi terhadap kemampuannya semakin besar, yang membawanya menduduki berbagai posisi strategis. Ia pernah dipercaya sebagai Kepala Subbagian Administrasi Akademik dan Ketarunaan di STMKG, tempat ia ikut membentuk karakter calon-calon ilmuwan muda BMKG. Kariernya terus menanjak saat ia menjabat sebagai Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, di mana ia bertanggung jawab menyusun strategi pengurangan risiko bencana sebelum akhirnya menjadi Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami. Puncaknya, ia dilantik sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, sebuah posisi yang menuntut ketenangan luar biasa saat menghadapi krisis bencana nasional.
Kontribusi Ilmiah dan Pengaruh di Kancah Internasional
Sebagai seorang ilmuwan, Daryono sangat produktif dalam membagikan hasil risetnya kepada komunitas sains global. Tercatat, ia telah menulis lebih dari 81 publikasi ilmiah yang terindeks secara internasional dan 17 publikasi ilmiah nasional. Karya-karyanya sering menjadi rujukan dalam studi seismotektonik di kawasan Asia Tenggara. Kejelasan dan kedalaman analisisnya dalam setiap jurnal sering disandingkan dengan analogi Amazing Full HD Minimal Designs, di mana keindahan sebuah karya ilmiah terletak pada kesederhanaan penyampaian tanpa mengurangi esensi datanya yang kompleks. Selain aktif menulis, ia juga merupakan representasi Indonesia dalam forum-forum bergengsi, seperti Sub-Committee on Meteorology and Geophysics ASEAN. Perannya di tingkat regional sangat krusial dalam mengoordinasikan sistem peringatan dini tsunami lintas negara di kawasan Asia Tenggara. Di tingkat nasional, kontribusinya juga terlihat dari keterlibatannya sebagai anggota kelompok kerja seismologi di Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) serta Dewan Pakar di Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI).
Salah satu warisan terbesar Daryono adalah keberhasilannya membawa sains ke ruang publik melalui media sosial. Di tengah maraknya hoaks terkait gempa bumi dan prediksi kiamat yang sering meresahkan masyarakat, Daryono hadir sebagai penawar dengan data teknis yang akurat namun disampaikan dengan gaya bahasa yang santun dan mudah dimengerti. Ia sering mengunggah visualisasi gempa dengan gradasi warna yang informatif, mirip dengan estetika Premium Gradient Background – Mobile yang memberikan kenyamanan visual sekaligus kejelasan informasi. Melalui interaksi langsung dengan netizen, ia berhasil mengubah persepsi masyarakat terhadap BMKG dari sekadar lembaga birokrasi menjadi institusi yang responsif dan humanis. Kepergiannya dari jabatan Direktur tentu menyisakan tantangan bagi BMKG untuk menemukan sosok pengganti yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual setara, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi publik yang karismatik seperti dirinya. Pensiun dini Daryono adalah sebuah pengingat bahwa di balik dedikasi luar biasa seorang penjaga keselamatan bangsa, terdapat aspek kemanusiaan dan kesehatan yang tetap harus diprioritaskan.
Kini, dengan status barunya sebagai purnatugas, Daryono diharapkan dapat menikmati waktu luangnya dengan kualitas hidup yang lebih baik, sebagaimana harapannya untuk “cari sehat dan bahagia”. Namun, publik tetap menantikan sumbangsih pemikirannya di masa depan, mengingat ancaman geologi di Indonesia tidak pernah mengenal kata pensiun. Keahliannya dalam membedah fenomena alam, mulai dari gempa swarm hingga potensi tsunami akibat longsoran bawah laut, akan tetap menjadi referensi utama bagi para pemangku kepentingan. Pengunduran diri ini menandai akhir dari satu babak penting dalam sejarah kepemimpinan di BMKG, namun sekaligus membuka babak baru bagi Daryono sebagai seorang begawan mitigasi bencana yang akan terus menginspirasi generasi muda geofisika di Indonesia untuk terus mengejar kesempurnaan dalam sains dan pengabdian.

















