Di tengah dinamika politik nasional yang mulai menghangat pasca-rilis survei elektabilitas calon presiden untuk Pemilu 2029, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto memberikan pernyataan tegas di kawasan Senayan, Jakarta, pada Minggu, 15 Februari 2026. Hasto menekankan bahwa partainya enggan terjebak dalam euforia angka-angka elektoral yang dirilis oleh lembaga survei Indekstat, mengingat pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan tersebut masih sangat jauh secara garis waktu. Fokus utama PDIP saat ini adalah melakukan kerja-kerja nyata di akar rumput guna menjawab persoalan kemanusiaan dan ekonomi yang mendesak, ketimbang sekadar membedah kalkulasi politik mengenai siapa yang akan menduduki kursi kepemimpinan nasional di masa depan. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas masuknya nama Ganjar Pranowo dalam bursa sepuluh besar kandidat potensial, di mana Hasto mengingatkan bahwa esensi demokrasi seharusnya berorientasi pada kepentingan rakyat kecil (wong cilik) daripada sekadar kontestasi figuratif di atas kertas survei.
Lembaga survei Indekstat Konsultan Indonesia sebelumnya telah merilis hasil sigi terbaru yang memetakan persepsi publik terhadap kandidat calon presiden masa depan. Dalam rilis yang disampaikan oleh Head of Politics Indekstat, Saiful Muhjab, pada Kamis, 12 Februari 2026, tercatat sepuluh nama yang mendominasi pilihan responden jika pemilihan presiden dilakukan saat ini. Hasilnya menunjukkan dominasi kuat dari petahana dan tokoh-tokoh populer lainnya. Prabowo Subianto menempati posisi puncak dengan raihan elektabilitas yang sangat signifikan mencapai 47,2 persen. Di posisi kedua dan ketiga, terdapat persaingan ketat antara mantan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan 17,8 persen dan mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang mengantongi 11,2 persen. Munculnya nama-nama baru seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di posisi keempat dengan 4,9 persen dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di posisi kelima dengan 3,9 persen memberikan gambaran mengenai pergeseran preferensi publik yang mulai melirik teknokrat dan tokoh muda dalam radar kepemimpinan nasional mendatang.
Dinamika Elektabilitas Ganjar Pranowo dan Posisi Strategis PDIP
Nama Ganjar Pranowo, yang merupakan Ketua DPP PDIP sekaligus mantan Gubernur Jawa Tengah, tetap menunjukkan eksistensinya dalam kancah politik nasional dengan menempati urutan keenam. Berdasarkan data Indekstat, Ganjar meraih tingkat keterpilihan sebesar 3,7 persen, berada tepat di atas Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang memperoleh 1,0 persen. Di jajaran bawah sepuluh besar, terdapat nama-nama besar lainnya seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir yang keduanya berbagi angka 0,4 persen, serta mantan calon wakil presiden Mahfud Md yang mencatatkan angka 0,3 persen. Meskipun Ganjar tetap berada dalam lingkaran elite politik dengan elektabilitas yang stabil, PDIP secara institusional memilih untuk bersikap hati-hati. Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa partai tidak akan terburu-buru dalam mengambil langkah politik praktis. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ganjar Pranowo di kesempatan lain yang menyebutkan bahwa PDIP memiliki mekanisme internal yang matang dan tidak akan tergesa-gesa dalam menentukan arah dukungan atau pencalonan, meskipun partai lain seperti Gerindra mungkin sudah mulai mengonsolidasikan dukungan untuk figur tertentu.
Hasto Kristiyanto, saat ditemui usai mengikuti kegiatan Soekarno Run, memberikan perspektif yang lebih mendalam mengenai filosofi politik partai berlogo banteng moncong putih tersebut. Menurutnya, momentum saat ini seharusnya dimanfaatkan untuk mendiskusikan demokrasi substansial, bukan sekadar demokrasi elektoral yang hanya berkutat pada angka dan persentase kemenangan. Hasto menyoroti sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan, di mana terdapat laporan mengenai seorang pelajar yang nekat mengakhiri hidupnya hanya karena ketidakmampuan ekonomi untuk membeli pena dan buku sekolah. Peristiwa ini, menurut Hasto, merupakan tamparan keras bagi wajah kemanusiaan bangsa Indonesia dan seharusnya menjadi prioritas utama bagi para pemimpin dan partai politik untuk diselesaikan. Ia menegaskan bahwa energi bangsa tidak boleh habis terkuras hanya untuk membicarakan pemilihan yang masih bertahun-tahun lagi, sementara ada rakyat yang sedang berjuang di ambang batas keputusasaan ekonomi.
Kritik Terhadap Penggunaan Survei sebagai Instrumen Kekuasaan
Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal PDIP ini memberikan kritik tajam terhadap fenomena penggunaan hasil survei di panggung politik modern. Walaupun ia mengakui bahwa survei dapat berfungsi sebagai alat ukur persepsi masyarakat, Hasto memperingatkan adanya bahaya ketika survei dijadikan sebagai alat “dogmatisme kekuasaan”. Ia berpendapat bahwa validitas sebuah survei sebagai rujukan demokrasi hanya bisa diakui jika sebuah negara memiliki iklim kebebasan berbicara yang sehat serta sistem checks and balances yang berfungsi dengan baik. Tanpa adanya pengawasan dan kebebasan, survei berisiko hanya menjadi instrumen untuk menciptakan bandwagon effect—sebuah kondisi di mana publik digiring untuk mengikuti arus mayoritas yang diciptakan melalui angka-angka, sehingga menutup ruang bagi pemikiran kritis dan evaluasi objektif terhadap kualitas kepemimpinan seorang calon.
PDI Perjuangan secara tegas menyatakan tidak akan menggunakan hasil survei sebagai basis utama dalam membangun opini publik atau memaksakan dukungan terhadap figur tertentu. Strategi pemenangan yang dianut oleh partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini lebih menekankan pada kerja-kerja organik dan turun langsung ke lapangan untuk menyentuh hati rakyat. Hasto menjelaskan bahwa kesadaran politik rakyat harus dibangun melalui bukti kerja nyata, sehingga masyarakat dapat secara mandiri menentukan partai mana yang benar-benar konsisten memperjuangkan hak-hak mereka. Dalam konteks internal, PDIP juga dikabarkan terus melakukan evaluasi terhadap strategi pemenangan secara menyeluruh. Pengalaman dari kontestasi politik sebelumnya menjadi bahan refleksi penting bagi DPP PDIP untuk merumuskan langkah yang lebih efektif, namun tetap berpegang teguh pada ideologi partai dan arahan dari Ketua Umum.
Kriteria Kepemimpinan dan Eksistensi Partai di Masa Depan
Analisis mengenai langkah PDIP ke depan juga tidak lepas dari peran sentral Megawati Soekarnoputri dalam menentukan figur yang akan diusung. Sejumlah pengamat politik memprediksi bahwa dalam menentukan calon presiden maupun wakil presiden di masa mendatang, Megawati akan sangat selektif dalam memilih figur yang tidak hanya memiliki elektabilitas tinggi, tetapi juga memiliki loyalitas mutlak terhadap partai. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa eksistensi dan garis perjuangan PDI-P tetap terjaga dan tidak terancam oleh figur yang mungkin memiliki agenda personal di luar kepentingan organisasi. Oleh karena itu, meskipun nama Ganjar Pranowo terus muncul dalam berbagai survei nasional, keputusan final akan tetap bergantung pada kalkulasi politik yang lebih luas, mencakup aspek ideologis, loyalitas, dan kesiapan mesin partai di seluruh tingkatan.
Sebagai penutup, Hasto Kristiyanto mengajak seluruh elemen bangsa, terutama para pelaku politik, untuk kembali pada khitah perjuangan demokrasi yang memanusiakan manusia. Baginya, hasil survei Indekstat hanyalah potret sesaat yang tidak boleh mengalihkan perhatian dari tanggung jawab sosial partai politik. Dengan waktu yang masih tersisa sekitar tiga tahun menuju 2029, PDIP memilih untuk memperkuat basis massa dan menyelesaikan persoalan-persoalan fundamental di masyarakat. Sikap tenang dan tidak terburu-buru ini menjadi sinyal bahwa PDIP lebih mengutamakan soliditas internal dan keberlanjutan program kerakyatan dibandingkan harus terjun dalam keriuhan bursa capres prematur yang belum tentu relevan dengan kebutuhan mendesak rakyat Indonesia saat ini.
Pilihan editor: Aturan WFA bagi Pekerja Swasta saat Nyepi dan Idul Fitri
















