Persebaya Surabaya terpaksa menelan pil pahit saat ambisi mereka untuk terus mendominasi puncak klasemen BRI Super League 2025/2026 terganjal oleh performa klinis Bhayangkara Presisi Lampung FC dalam laga krusial yang menguji kedalaman skuat serta mentalitas bertanding tim berjuluk Bajul Ijo tersebut. Pertandingan yang berlangsung dengan intensitas tinggi ini menjadi panggung pembuktian bagi kedua tim, di mana strategi rotasi dan ketajaman lini serang menjadi pembeda utama di atas lapangan hijau. Bernardo Tavares, sang arsitek asal Portugal yang menahkodai Persebaya, harus menyaksikan anak asuhnya kesulitan membongkar pertahanan rapat lawan meski mendominasi penguasaan bola, sebuah realita pahit yang menghentikan tren positif panjang mereka di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim ini.
Sejak awal musim, Bernardo Tavares memang telah menanamkan filosofi mentalitas ‘Ngeyel’ yang menjadi identitas khas arek-arek Suroboyo. Karakter pantang menyerah ini sempat membawa Persebaya melaju impresif dengan catatan kemenangan beruntun yang membuat mereka menjadi salah satu kandidat kuat juara. Namun, dalam pertemuan melawan Bhayangkara FC, mentalitas saja terbukti tidak cukup. Tavares mengakui bahwa lawan yang dihadapi kali ini memiliki organisasi permainan yang sangat matang, terutama setelah mereka melakukan perombakan besar-besaran pada bursa transfer paruh musim. Kedatangan sejumlah pemain kunci baru ke kubu The Guardians memberikan dimensi permainan yang lebih dinamis dan sulit diprediksi, memaksa lini belakang Persebaya bekerja ekstra keras sepanjang sembilan puluh menit pertandingan berjalan.
Kewaspadaan yang sempat disuarakan Tavares sebelum laga dimulai ternyata menjadi kenyataan di lapangan. Bhayangkara Presisi Lampung tampil sebagai tim yang sangat berbahaya melalui skema serangan balik cepat dan efektivitas dalam memanfaatkan setiap peluang sekecil apa pun. Pelatih Persebaya tersebut secara jujur memberikan apresiasi kepada tim lawan yang mampu bermain lebih efektif di momen-momen krusial. Menurut pengamatan teknis di lapangan, meskipun Persebaya menguasai lini tengah, kegagalan dalam melakukan penyelesaian akhir yang tenang di depan gawang menjadi lubang besar yang berhasil dimanfaatkan oleh Bhayangkara untuk mencuri poin penuh. Efektivitas inilah yang menjadi pembeda mencolok, di mana tim tamu tidak membutuhkan banyak peluang untuk mencetak gol, berbanding terbalik dengan tekanan bertubi-tubi dari Persebaya yang seringkali kandas di sepertiga akhir pertahanan lawan.
Strategi Rotasi dan Tantangan Konsistensi di Tengah Jadwal Padat
Dalam upaya menjaga kebugaran pemain dan konsistensi performa di tengah jadwal kompetisi yang sangat padat, Bernardo Tavares sebenarnya telah menerapkan strategi rotasi pemain yang cukup berani. Ia mencoba memberikan jam terbang kepada beberapa pemain pelapis untuk menjaga ritme kolektif tim agar tetap stabil. Strategi ini diambil bukan tanpa alasan; Tavares sadar bahwa untuk mengarungi BRI Super League yang panjang, ia tidak bisa hanya bergantung pada sebelas pemain utama saja. Namun, rotasi ini tampaknya belum berjalan sesempurna yang diharapkan saat menghadapi tim dengan komposisi pemain sekelas Bhayangkara FC. Ada sedikit ketidaksinkronan dalam transisi dari menyerang ke bertahan yang membuat celah bagi lawan untuk melakukan penetrasi mematikan.
Meskipun hasil akhir tidak berpihak pada timnya, Tavares menegaskan bahwa Persebaya tidak akan mengubah karakter permainan asli mereka. Gaya main agresif dengan pressing tinggi tetap akan menjadi pakem utama, namun dengan catatan evaluasi besar pada aspek konsentrasi. Sang pelatih menekankan bahwa setiap pemain harus memiliki tanggung jawab kolektif dalam menjaga kedalaman skuat. Persebaya Surabaya kini berada dalam posisi yang menuntut mereka untuk segera bangkit dan tidak terlarut dalam kekecewaan. Kekalahan ini justru dianggap sebagai momentum penting untuk melakukan kalibrasi ulang terhadap sistem permainan, terutama dalam menghadapi tim-tim yang cenderung bermain pragmatis dan mengandalkan pertahanan gerendel.
Menariknya, usai pertandingan yang menguras emosi tersebut, Bernardo Tavares menunjukkan sikap ksatria dengan tidak mencari-cari alasan atau menyalahkan faktor eksternal seperti kepemimpinan wasit maupun kondisi lapangan. Ia secara terbuka mengakui keunggulan strategi lawan dan memilih untuk fokus pada internal tim. Sikap profesional ini diharapkan dapat menular kepada para pemain agar mereka lebih mawas diri dan bekerja lebih keras di sesi latihan. Tavares percaya bahwa kekalahan adalah bagian dari proses pertumbuhan sebuah tim besar, dan bagaimana mereka merespons kekalahan inilah yang akan menentukan apakah Persebaya layak menyandang gelar juara di akhir musim nanti.
Menatap Masa Depan: Pekerjaan Rumah Menuju Jalur Kemenangan
Persaingan di BRI Super League musim ini memang berjalan sangat ketat, di mana jarak poin antar tim di papan atas sangatlah tipis. Setiap kesalahan kecil bisa berakibat fatal pada posisi klasemen. Kekalahan dari Bhayangkara FC menjadi pengingat keras bagi seluruh elemen di Persebaya bahwa tidak ada tim yang boleh diremehkan, terutama tim yang baru saja memperkuat komposisinya di jendela transfer. Konsistensi permainan menjadi harga mati yang harus dijaga jika ingin tetap berada di jalur perebutan trofi. Tavares kini memiliki tumpukan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan sebelum laga berikutnya, mulai dari pembenahan koordinasi lini belakang hingga peningkatan ketajaman para penyerang dalam mengeksekusi peluang di dalam kotak penalti.
Ketenangan dalam penyelesaian akhir menjadi poin yang paling disoroti oleh tim pelatih. Seringkali, para pemain depan Persebaya terjebak dalam situasi terburu-buru yang mengakibatkan hilangnya momentum emas. Selain itu, efektivitas di depan gawang akan menjadi fokus utama dalam menu latihan mendatang agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Dukungan dari para pendukung setia, Bonek dan Bonita, juga diharapkan tetap mengalir deras untuk membangkitkan moral bertanding para pemain. Dengan mentalitas ‘Ngeyel’ yang sudah mendarah daging, Persebaya Surabaya diyakini memiliki kapasitas untuk segera kembali ke jalur kemenangan dan membuktikan bahwa kekalahan ini hanyalah sebuah batu sandungan kecil dalam perjalanan panjang mereka menuju puncak kejayaan.
Secara keseluruhan, kekalahan ini menjadi pengingat bahwa persaingan BRI Super League musim ini berjalan sangat ketat dan kompetitif. Konsistensi dalam menjaga level permainan, ketenangan dalam menghadapi tekanan lawan, dan efektivitas yang tinggi di depan gawang akan menjadi pekerjaan rumah utama bagi Persebaya Surabaya. Jika Bernardo Tavares mampu meramu kembali strategi yang tepat dan memotivasi pemainnya untuk belajar dari kesalahan ini, maka bukan tidak mungkin Bajul Ijo akan kembali tampil lebih kuat dan lebih mematikan di pertandingan-pertandingan selanjutnya guna mengamankan posisi mereka di kasta tertinggi sepak bola nasional.

















