Dinamika pasar valuta asing di kawasan Asia menunjukkan tren penguatan yang signifikan pada pertengahan Februari 2026, dipicu oleh berlanjutnya tekanan terhadap indeks dolar Amerika Serikat (DXY) yang memberikan ruang napas bagi mata uang regional untuk melakukan penetrasi nilai tukar. Para pelaku pasar global kini tengah mencermati pergerakan nilai tukar utama seperti Yen Jepang, Won Korea Selatan, hingga Dolar Singapura yang mulai bangkit dari tekanan volatilitas yang sempat mendominasi pada awal tahun. Berdasarkan data ekonomi terbaru per 15 Februari 2026, pelemahan mata uang Paman Sam yang menyentuh level 96,9 telah menjadi katalisator utama bagi aliran modal masuk ke pasar berkembang Asia, meski ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan internasional tetap membayangi prospek pemulihan ekonomi di kawasan tersebut secara menyeluruh.
Melansir data komprehensif dari Trading Economics pada Minggu (15/2/2026) pukul 09.25 WIB, performa mata uang Asia memperlihatkan divergensi yang menarik di tengah koreksi indeks dolar AS sebesar 1,4% sejak awal tahun (Year-to-Date/Ytd). Pasangan mata uang USD/SGD, misalnya, mencatatkan penguatan stabil dengan penurunan sebesar 1,8% Ytd ke level 1,26, yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Singapura. Sementara itu, Yen Jepang (USD/JPY) menunjukkan performa paling impresif dengan apresiasi sebesar 2,6% ke angka 152,7, sebuah angka yang mencerminkan kembalinya kepercayaan investor terhadap aset safe haven di tengah gejolak global yang belum sepenuhnya mereda. Di sisi lain, Won Korea Selatan (USD/KRW) tampak bergerak lebih moderat dengan penurunan tipis 0,01% di level 1.440, mengindikasikan adanya tarik-menarik antara sentimen positif ekspor teknologi dan risiko makroekonomi yang masih mengintai di semenanjung Korea.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan analisis mendalam bahwa pelemahan DXY saat ini merupakan faktor fundamental yang mendukung potensi penguatan mata uang Asia dalam jangka menengah. Namun, ia juga mengingatkan bahwa sentimen regional dan global tetap menjadi penentu arah pergerakan dalam jangka pendek yang sangat dinamis. Salah satu sentimen positif yang cukup krusial datang dari kesepakatan tarif baru yang lebih rendah antara Amerika Serikat dan Taiwan, yang secara tidak langsung meredakan ketegangan dagang di kawasan Pasifik. Selain itu, India juga dikabarkan telah mencapai kesepakatan tarif dalam waktu dekat, sebuah langkah strategis yang turut memperbaiki persepsi risiko investor terhadap pasar negara berkembang di Asia Selatan dan Tenggara.
Dari perspektif politik domestik, perubahan kepemimpinan di Negeri Sakura menjadi salah satu pendorong utama bagi penguatan Yen. Kemenangan Sanae Takaichi sebagai Perdana Menteri Jepang membawa ekspektasi baru terkait perbaikan struktur ekonomi pasca-pemilu dan potensi normalisasi kebijakan moneter oleh Bank of Japan. Lukman Leong menekankan bahwa kemenangan Takaichi memberikan sentimen positif yang mendorong Yen menguat lebih lanjut, seiring dengan harapan akan adanya stabilitas fiskal yang lebih kuat. Di sisi lain, Dolar Singapura (SGD) terus mendapatkan dukungan dari aliran dana masuk (inflow) yang masif, mengingat statusnya sebagai instrumen lindung nilai yang stabil. Kebijakan moneter dari Monetary Authority of Singapore (MAS) yang diperkirakan akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga tinggi guna memerangi inflasi, menjadi pilar utama yang menyokong ketangguhan mata uang Negeri Singa tersebut di hadapan dolar AS.
Dinamika Sektor Teknologi dan Pengaruh AI Terhadap Won Korea
Pergerakan Won Korea Selatan (KRW) saat ini berada dalam posisi yang sangat unik karena sangat bergantung pada perkembangan industri teknologi global, khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Sebagai salah satu produsen semikonduktor terbesar di dunia, ekonomi Korea Selatan mendapatkan dampak langsung dari performa saham-saham berbasis AI di bursa global. Lukman Leong melihat bahwa kinerja sektor teknologi ini akan menjadi indikator krusial bagi arah pergerakan Won dalam beberapa bulan ke depan. Jika permintaan global terhadap cip memori dan perangkat keras AI tetap tinggi, maka Won memiliki peluang besar untuk menguat dan menembus level resistensi saat ini. Namun, volatilitas di sektor teknologi juga dapat menjadi pedang bermata dua yang meningkatkan risiko depresiasi jika terjadi aksi ambil untung masif di pasar saham Seoul.
Sementara itu, mata uang Baht Thailand (THB) juga menunjukkan resiliensi yang menarik berkat stabilitas politik domestik. Kemenangan partai Bhumjaithai Party dalam dinamika politik terbaru di Thailand telah meningkatkan optimisme pasar terhadap keberlanjutan kebijakan ekonomi dan proyek infrastruktur nasional. Optimisme ini memberikan sentimen positif bagi para investor asing untuk kembali masuk ke pasar modal Thailand, yang pada gilirannya memperkuat posisi Baht. Kendati demikian, Lukman menekankan bahwa faktor domestik ini harus bersaing dengan dinamika geopolitik global yang tetap menjadi katalis utama. Isu-isu sensitif di kawasan Timur Tengah, fluktuasi harga komoditas energi, hingga hubungan bilateral antara China dan Amerika Serikat tetap menjadi variabel yang sangat diperhatikan oleh para pelaku pasar valuta asing di seluruh dunia.
Proyeksi Kuartal I-2026 dan Dampak Kunjungan Diplomatik Global
Fokus pasar pada paruh pertama tahun 2026 juga tertuju pada agenda diplomatik besar, termasuk ekspektasi kunjungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke China yang dijadwalkan pada April mendatang. Pertemuan ini dianggap sangat vital karena dapat menentukan arah kebijakan perdagangan global untuk beberapa tahun ke depan. Sentimen risk-on dan risk-off di pasar valas Asia akan sangat dipengaruhi oleh retorika yang muncul dari pertemuan-pertemuan tingkat tinggi tersebut. Jika hubungan AS-China menunjukkan tanda-tanda rekonsiliasi atau setidaknya stabilitas, maka mata uang Asia berpeluang besar untuk melanjutkan tren penguatannya. Sebaliknya, jika ketegangan meningkat, maka dolar AS berpotensi kembali menjadi aset buruan utama, yang akan menekan kembali mata uang regional ke level terendahnya.

















