Aroma dupa yang khas dan menenangkan telah semerbak menyambut, bahkan sebelum langkah kaki benar-benar menjejakkan diri di halaman Vihara Gayatri. Dari area parkir yang mulai padat, kepulan asap tipis membumbung perlahan ke angkasa, membawa serta wangi rempah dan kayu cendana yang menenangkan jiwa. Pada Selasa pagi, 17 Februari 2026, ribuan warga, baik dari komunitas Tionghoa maupun masyarakat umum dari berbagai latar belakang, memadati kompleks Vihara Gayatri yang berlokasi di kawasan Sumur 7, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos, Depok. Mereka berkumpul untuk merayakan Tahun Baru Imlek, sebuah momen sakral yang dipenuhi dengan doa, pengharapan baru, dan sebuah tradisi unik yang telah menjadi magnet: ritual mandi di tujuh sumur keramat yang dipercaya membawa berkah.
Di pelataran depan vihara, suasana khidmat terpancar kuat. Jemaat berdiri berderet rapi, menggenggam batang-batang dupa yang menyala, simbol penghormatan dan permohonan. Mereka bergerak perlahan namun pasti, dari satu altar persembahan ke altar lainnya, mengikuti alur ritual yang telah turun-temurun. Beberapa terlihat memejamkan mata dalam-dalam, larut dalam meditasi dan doa yang panjang, seolah-olah berkomunikasi langsung dengan para dewa dan leluhur. Yang lain menundukkan kepala sejenak, memberikan penghormatan singkat sebelum melanjutkan perjalanan spiritual mereka. Kontras yang mencolok antara keramaian jumlah pengunjung dan keheningan yang menyelimuti area ibadah menciptakan atmosfer yang mendalam dan penuh makna, sebuah perpaduan antara keriuhan perayaan dan kesakralan spiritual.
Memasuki aula bagian dalam, pemandangan semakin memukau. Cahaya hangat dari lilin-lilin merah raksasa yang menyala di banyak sudut memantulkan warna keemasan ke wajah-wajah yang khusyuk. Api yang bergoyang kecil seolah menari, menambah kesan magis pada perayaan. Di tengah bisik-bisik doa yang tak terputus, suara langkah kaki yang pelan, dan denting halus perlengkapan ibadah, sebuah irama perayaan yang sakral terbentuk, memenuhi setiap sudut ruangan. Lilin-lilin ini, yang ukurannya bervariasi dari yang bisa digenggam hingga setinggi tubuh orang dewasa dan dihitung berdasarkan satuan kati, bukan sekadar penerang fisik; ia adalah simbol penerang perjalanan hidup ke depan, penanda harapan agar tahun mendatang lebih terang dan penuh keberuntungan dari sebelumnya. Puncak penyalaan lilin-lilin besar ini biasanya berlangsung pada malam sebelum Imlek, menjadi momen krusial bagi jemaat untuk memanjatkan harapan tertinggi mereka.
Tradisi Unik Tujuh Sumur: Pembersihan Diri dan Magnet Komunitas
Namun, semakin masuk ke dalam kompleks vihara, keramaian bergeser ke sebuah area yang menjadi daya tarik utama dan paling khas: tujuh sumur yang menjadi asal nama lokasi ini, sering disebut pula sebagai Sumur Tujuh Beringin. Di sinilah tradisi unik yang membedakan perayaan Imlek di Vihara Gayatri dari tempat lain terwujud. Beberapa jemaat tampak menyiram tubuh mereka dengan gayung, membasuh kepala, tangan, dan wajah dengan air dari sumur-sumur tersebut. Air dari masing-masing sumur dipercaya membawa makna dan khasiat spiritual yang berbeda-beda, mulai dari pencerahan batin, kesehatan fisik, kelancaran rezeki, kemudahan dalam menemukan jodoh, hingga perlindungan dari mara bahaya dan tolak bala. Ritual ini, yang dikenal sebagai pembersihan diri, dijalankan dengan penuh khidmat oleh sebagian orang, sementara yang lain melakukannya sambil tersenyum, seolah menjalankan tradisi keluarga yang sudah akrab dan mendarah daging sejak lama. Menariknya, ritual mandi di tujuh sumur ini, meskipun terkait dengan perayaan Imlek, seringkali dianggap sebagai tradisi terpisah dari sembahyang inti Imlek yang berfokus pada dewa-dewi dan leluhur. Namun, di Vihara Gayatri, tradisi ini telah menyatu erat dan menjadi magnet yang menarik umat dari berbagai wilayah Jabodetabek, bahkan luar kota, dan yang terpenting, terbuka bagi masyarakat umum tanpa memandang latar belakang agama, menunjukkan semangat inklusivitas yang tinggi.
Tak jauh dari area sumur, di sela-sela kerumunan orang dewasa yang sibuk beribadah, anak-anak berlarian riang. Mereka menunggu momen yang tak kalah penting dari doa dan ritual: pembagian angpao. Tawa mereka pecah setiap kali melihat jemaat dewasa keluar dari ruang sembahyang sambil membawa amplop-amplop merah yang berisi rezeki. Momen ini menambah keceriaan dan kehangatan pada perayaan Imlek, menunjukkan bahwa Imlek bukan hanya tentang spiritualitas, tetapi juga tentang kebersamaan keluarga dan kegembiraan berbagi.
Mariana, seorang jemaat berusia 27 tahun, datang bersama keluarganya. Ini adalah kali ketiga ia merayakan Imlek di Vihara Gayatri. Baginya, kunjungan ke vihara bukan sekadar ritual tahunan yang wajib, melainkan sebuah ruang sakral untuk merawat dan menumbuhkan harapan. Selain berdoa dengan khusyuk di altar, ia dan keluarganya selalu menyempatkan diri untuk mandi di area sumur. Harapannya sederhana namun mendalam: agar keluarga tetap sehat, bisa sering berkumpul, dan tahun yang baru membawa kemakmuran serta keberuntungan. “Bukan cuma ketemu setahun sekali,” ujarnya, menegaskan pentingnya kebersamaan yang tak hanya terbatas pada momen Imlek.
Pengurus vihara, Parman, mengamati bahwa pola perayaan Imlek tidak banyak berubah dari tahun ke tahun, tetap fokus pada sembahyang, doa bersama, dan penyalaan lilin sebagai simbol penerang perjalanan hidup. Namun, satu hal yang terasa terus bertambah adalah jumlah pengunjung. Banyak yang datang bukan hanya dari Depok, melainkan juga dari berbagai wilayah Jabodetabek, bahkan hingga luar kota, membuktikan daya tarik Vihara Gayatri dan tradisi Sumur 7 yang semakin meluas.
Sinergi Pengamanan dan Semangat Toleransi
Perayaan Imlek di Vihara Gayatri berlangsung di bawah pengamanan ketat dari aparat gabungan. Ratusan personel dari kepolisian dan TNI berjaga di sejumlah titik strategis di rumah ibadah tersebut. Kehadiran mereka nyaris tak terasa mengganggu jalannya ritual; sebaliknya, mereka berfungsi seperti pagar sunyi yang memastikan semua orang bisa berdoa dan merayakan dengan tenang dan aman. Sinergi antara masyarakat dan aparat ini menciptakan rasa nyaman dan aman bagi seluruh jemaat.
Di lokasi yang sama, Kapolres Metro Depok Komisaris Besar Abdul Waras menyatakan bahwa pihaknya bersama Kodim 0508/Depok melaksanakan pengamanan maksimal selama Perayaan Imlek 2026. “Alhamdulillah sejauh ini sesuai dengan pantauan kami dari beberapa klenteng yang kami cek, baik itu dari segi pengamanannya sudah dilakukan dengan baik dan juga dari segi perayaan, saudara-saudara kami yang melaksanakan ibadah Imlek berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan semua masyarakat,” kata Abdul Waras dengan nada syukur. Ia melanjutkan, keberhasilan perayaan Imlek yang berjalan lancar ini merupakan wujud nyata dari toleransi yang tumbuh subur di masyarakat, sekaligus bukti bahwa negara hadir untuk melindungi segenap warganya dalam melaksanakan peribadatan sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. “Dan ini kita harapkan toleransi itu juga tumbuh, berkembang di semua lapisan masyarakat,” ucap Kapolres, menggarisbawahi pentingnya menjaga dan memupuk nilai-nilai kebersamaan dan saling menghormati di tengah keberagaman.
















