Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern Jakarta, sebuah tradisi spiritual yang telah berusia ribuan tahun kembali bersemi. Pada Selasa, 17 Februari 2026, umat Tionghoa di seluruh penjuru dunia, termasuk di jantung ibu kota Indonesia, merayakan Tahun Baru Imlek 2557 Kongzili. Momen sakral ini, yang menandai dimulainya Tahun Kuda Api, dipenuhi dengan harapan akan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, dan kemakmuran yang berlimpah. Di Klenteng Lupan, Tamansari, Jakarta Barat, suasana khusyuk dan penuh makna menyelimuti setiap sudut, saat para penganut berbagai usia—dari dewasa hingga generasi muda—berkumpul untuk menunaikan ibadah, memanjatkan doa, dan melestarikan warisan budaya yang kaya.

Makna Mendalam Tahun Kuda Api dan Tradisi Imlek
Tahun Baru Imlek 2557 Kongzili bukan sekadar pergantian kalender, melainkan sebuah perayaan yang sarat akan filosofi dan harapan. Tahun ini, Imlek jatuh pada shio Kuda Api, sebuah kombinasi elemen yang diyakini membawa energi dinamis, semangat petualangan, dan potensi besar untuk perubahan. Bagi komunitas Tionghoa, perayaan ini adalah waktu untuk bersyukur atas rezeki dan perjalanan hidup di tahun sebelumnya, sekaligus memanjatkan doa untuk keberuntungan dan kesejahteraan di tahun yang baru. Ucapan “Gong Xi Fa Cai”, yang secara harfiah berarti “selamat berbahagia dan kemakmuran”, menggema sebagai ekspresi universal dari harapan tersebut. Di balik setiap tradisi, mulai dari membersihkan rumah, mendekorasi dengan warna merah, hingga menyajikan hidangan khas, tersimpan makna mendalam sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur dan optimisme akan masa depan yang lebih baik.
Klenteng Lupan, yang berlokasi strategis di Tamansari, Jakarta Barat, menjadi salah satu pusat spiritual yang ramai dikunjungi pada hari istimewa ini. Sejak siang hari, sekitar pukul 13.30 WIB, lebih dari sepuluh umat terlihat silih berganti memasuki gerbang klenteng, membawa serta harapan dan doa pribadi maupun keluarga. Mereka datang dengan mengenakan pakaian bebas namun tetap rapi, mencerminkan kesederhanaan namun penuh hormat dalam beribadah. Kehadiran para umat ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan spiritual dan budaya yang terus dipegang teguh, bahkan di tengah arus modernisasi.
Ritual Suci dan Simbolisme dalam Ibadah
Prosesi ibadah di Klenteng Lupan berlangsung dengan khusyuk dan teratur, menunjukkan kekayaan ritual dalam tradisi Tionghoa. Setiap umat yang datang tampak mengambil hio, sebatang dupa aromatik, dan minyak yang telah disediakan oleh pihak pengurus klenteng. Hio, yang dibakar dan dipegang saat berdoa, melambangkan penghubung antara dunia manusia dan dewa, serta menjadi medium bagi doa-doa untuk naik ke langit. Asap wangi yang mengepul dari hio juga dipercaya dapat membersihkan energi negatif dan membawa keberuntungan. Minyak, di sisi lain, digunakan sebagai bahan bakar untuk menyalakan lilin, yang melambangkan cahaya, harapan, dan pencerahan spiritual. Nyala lilin yang tak pernah padam di dalam klenteng merupakan simbol dari doa yang terus menerus dipanjatkan dan harapan yang tak pernah pudar.
Selain hio dan lilin, keberadaan kotak amal juga menjadi bagian integral dari aktivitas di klenteng. Kotak ini disediakan bagi para umat yang ingin menyumbangkan dana secara sukarela, sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan operasional dan aktivitas beribadah di Klenteng Lupan. Sumbangan ini bukan hanya sekadar pemberian materi, melainkan juga wujud dari rasa kebersamaan dan tanggung jawab kolektif untuk melestarikan pusat spiritual tersebut.
Farah (47), salah seorang umat yang beribadah bersama keluarganya, memberikan gambaran lebih dekat tentang rangkaian doa yang dilakukan. Mulanya, Farah memanjatkan doa di hadapan rupang Konco Lupan, yang dikenal sebagai tuan rumah atau dewa penjaga utama Klenteng Lupan, memohon perlindungan dan restu. Kemudian, ia melanjutkan ibadahnya di depan rupang Dewi Kwan Im, dewi welas asih yang sangat dihormati, serta Konco Kwan Kong, dewa perang yang melambangkan kesetiaan dan keadilan. Puncak dari rangkaian doanya adalah saat Farah berlutut di hadapan rupang Dewa Bumi, memohon kemakmuran dan keberkahan bagi kehidupan di dunia. Setiap rupang memiliki makna dan permohonan spesifik yang mencerminkan beragam aspek kehidupan yang menjadi harapan umat.
Mewariskan Tradisi dan Harapan Generasi Baru
Kehadiran anak-anak muda di Klenteng Lupan pada perayaan Imlek 2026 menjadi pemandangan yang mengharukan dan penuh harapan. Ini menunjukkan bahwa tradisi dan nilai-nilai luhur Imlek tidak hanya dipegang teguh oleh generasi tua, tetapi juga telah berhasil diwariskan dan dihayati oleh generasi penerus. Mereka belajar tentang ritual, makna di balik setiap persembahan, dan pentingnya menjaga warisan budaya Tionghoa. Beberapa umat datang seorang diri, mencari momen refleksi pribadi, sementara sebagian lainnya memilih untuk datang bersama keluarga, memperkuat ikatan kekeluargaan dalam bingkai spiritual. Momen ini menjadi ajang bagi keluarga untuk berkumpul, berbagi cerita, dan bersama-sama memanjatkan doa, mengukuhkan nilai kebersamaan yang menjadi inti dari perayaan Imlek.
Farah juga berbagi cerita tentang perjalanannya. “Kebetulan posisinya, rutenya itu tadi yang terdekat di sini (Klenteng Lupan). Jadi kita setelah dari rumah orang tua, yang terdekat ya di Klenteng Lupan,” ungkapnya. Pernyataan ini menyoroti bagaimana perayaan Imlek seringkali diawali dengan kunjungan ke rumah orang tua atau sanak saudara, sebuah tradisi yang menekankan pentingnya ikatan keluarga dan penghormatan terhadap leluhur. Klenteng kemudian menjadi destinasi berikutnya, melengkapi dimensi spiritual dari perayaan tersebut. Harapan Farah untuk tahun ini—kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, dan kemakmuran—adalah cerminan dari doa universal yang dipanjatkan oleh jutaan umat Tionghoa di seluruh dunia. “Ya biar tahun ini kita semua yang terutama dikasih kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, dan kemakmuran,” ucap Farah dengan senyum merekah, menggambarkan optimisme yang membuncah di awal tahun baru.
Selain ibadah di klenteng, perayaan Imlek juga mencakup berbagai tradisi lain yang tak kalah penting, seperti makan malam reuni keluarga, pemberian angpau, dan menghindari beberapa pantangan untuk menarik keberuntungan di Tahun Kuda Api. Misalnya, ada kepercayaan untuk tidak menyapu rumah pada hari pertama Imlek agar rezeki tidak ikut tersapu keluar, atau menghindari memotong rambut pada hari yang sama. Seluruh tradisi ini, baik yang bersifat spiritual maupun sosial, berpadu membentuk mozaik perayaan yang kaya makna, menegaskan kembali pentingnya harmoni, syukur, dan harapan baru. Perayaan Imlek 2026 di Klenteng Lupan adalah bukti nyata dari semangat abadi ini, sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam untaian doa dan harapan.
















