Menteri Perdagangan Budi Santoso secara resmi menegaskan bahwa implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi inisiatif strategis pemerintah pusat tidak memberikan tekanan negatif terhadap stabilitas harga daging ayam di tingkat konsumen. Alih-alih memicu inflasi pangan, program berskala nasional ini justru dipandang sebagai katalisator positif yang memberikan kepastian pasar serta jaminan permintaan (demand certainty) bagi para peternak ayam ras di seluruh Indonesia. Dalam keterangannya di kompleks Kementerian Perdagangan, Jakarta, pada Rabu, 18 Februari 2026, Budi Santoso menjelaskan bahwa skema MBG menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih terukur, di mana para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor peternakan kini memiliki motivasi lebih kuat untuk menggenjot kapasitas produksi mereka guna memenuhi kebutuhan gizi masyarakat yang terstruktur dan berkelanjutan.
Fenomena ekonomi yang terjadi saat ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari pasar yang fluktuatif menuju pasar yang lebih terprediksi. Menurut Budi Santoso, sebelum adanya program Makan Bergizi Gratis, para peternak sering kali terjebak dalam ketidakpastian serapan pasar yang menyebabkan fluktuasi harga yang tajam dan risiko kerugian yang tinggi. Dengan adanya komitmen pemerintah melalui MBG, volume permintaan menjadi lebih stabil dan konsisten, sehingga memicu para peternak untuk melakukan ekspansi usaha secara linier. Peningkatan produksi ini dianggap sebagai kunci utama mengapa harga daging ayam tetap terkendali meskipun volume konsumsi nasional meningkat secara signifikan. Logika ekonomi yang dikedepankan adalah ketika pasokan bertambah seiring dengan kenaikan permintaan, maka titik keseimbangan harga baru akan terbentuk tanpa harus mengorbankan daya beli masyarakat luas.
Transformasi Sektor Peternakan UMKM dan Stabilitas Harga Nasional
Kementerian Perdagangan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) terus melakukan pengawasan ketat terhadap pergerakan harga komoditas pangan di seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan data terbaru per 13 Februari 2027, harga rata-rata nasional untuk daging ayam ras tercatat berada di angka Rp 40.259 per kilogram. Angka ini memang sedikit melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp 40.000 per kilogram. Namun, Mendag Budi Santoso memberikan catatan penting bahwa angka tersebut merupakan rata-rata nasional yang dipengaruhi oleh tingginya harga di beberapa titik distribusi tertentu, sementara di banyak daerah lainnya, harga justru masih bertahan di bawah harga acuan. Hal ini menunjukkan bahwa secara fundamental, ketersediaan stok daging ayam di pasar domestik masih sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan rutin maupun kebutuhan tambahan dari program MBG.
Lebih lanjut, Budi Santoso menguraikan bahwa kenaikan harga yang terjadi di beberapa wilayah bukan disebabkan oleh program Makan Bergizi Gratis, melainkan lebih dipengaruhi oleh faktor musiman dan kendala distribusi logistik. Dalam analisis mendalam kementerian, terdapat dua variabel utama yang biasanya memicu lonjakan harga: kelangkaan pasokan atau lonjakan permintaan yang bersifat mendadak. Dalam konteks saat ini, para pelaku usaha dan asosiasi peternak telah mengonfirmasi bahwa tidak ada kendala berarti pada sisi hulu atau produksi. Justru, kenaikan harga yang terpantau saat ini lebih condong dipicu oleh persiapan pasar menghadapi hari besar keagamaan nasional seperti Lebaran, di mana pola konsumsi masyarakat secara historis selalu mengalami anomali peningkatan yang tajam. Oleh karena itu, pemerintah meminta seluruh pemangku kepentingan untuk tetap waspada dan melakukan langkah antisipasi agar stabilitas harga tetap terjaga di tengah momentum hari raya maupun pelaksanaan program sosial pemerintah.
Sinergi Lintas Kementerian dan Instruksi Presiden Prabowo Subianto
Upaya menjaga ketersediaan pangan ini sejalan dengan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang memerintahkan percepatan produksi daging ayam dan telur nasional. Presiden menekankan bahwa keberhasilan program Makan Bergizi Gratis sangat bergantung pada kemandirian pangan dan kekuatan produksi dalam negeri. Menanggapi arahan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga telah bergerak cepat untuk mengonsolidasikan para peternak agar meningkatkan produktivitas mereka. Fokus pemerintah saat ini adalah memastikan bahwa setiap butir telur dan setiap kilogram daging ayam yang dikonsumsi dalam program MBG berasal dari peternak lokal, terutama UMKM, sehingga roda ekonomi kerakyatan dapat berputar lebih kencang. Kepastian serapan dari program pemerintah ini menjadi jaminan bagi perbankan dan investor untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor peternakan, yang pada akhirnya akan memperkuat struktur pangan nasional.
Strategi pengawasan harga yang dilakukan Kementerian Perdagangan juga melibatkan koordinasi lintas sektoral yang melibatkan pemerintah daerah dan kementerian lembaga terkait. Budi Santoso menegaskan bahwa jika ditemukan wilayah dengan harga pangan yang melonjak tidak wajar, pihaknya akan segera melakukan intervensi melalui pembenahan aspek distribusi dan pelaksanaan pasar murah jika diperlukan. Kerja sama dengan Satgas Pangan juga terus ditingkatkan untuk memantau rantai pasok dari produsen hingga ke tangan konsumen akhir. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi apakah kenaikan harga disebabkan oleh masalah teknis distribusi atau adanya praktik spekulasi di pasar. Dengan pemantauan yang komprehensif ini, pemerintah optimis bahwa program Makan Bergizi Gratis tidak akan menjadi beban bagi inflasi, melainkan menjadi motor penggerak kesejahteraan bagi peternak dan pemenuhan gizi bagi generasi mendatang.
Sebagai langkah jangka panjang, Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk terus menyelaraskan kebijakan perdagangan dalam negeri dengan program-program prioritas nasional. Keberadaan program MBG dipandang sebagai peluang emas untuk menata ulang ekosistem pangan Indonesia menjadi lebih modern dan efisien. Dengan adanya permintaan yang pasti, pemerintah mendorong para peternak untuk mulai mengadopsi teknologi peternakan yang lebih mutakhir guna meningkatkan efisiensi biaya produksi. Jika efisiensi ini tercapai, maka harga daging ayam di masa depan diprediksi akan jauh lebih kompetitif, yang tidak hanya menguntungkan program MBG tetapi juga meningkatkan keterjangkauan protein hewani bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

















