Sebuah insiden tak terduga mengusik ketenangan malam salat Tarawih perdana di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pada Rabu (18/2) malam. Sekitar pukul 20.40 WIB, kepulan asap pekat mulai menyelimuti ruang server masjid bersejarah ini, memicu alarm kebakaran dan respons cepat dari petugas pemadam. Meskipun api berhasil dikendalikan dalam hitungan menit, kejadian ini menimbulkan kekhawatiran sekaligus pertanyaan mengenai keamanan infrastruktur vital di salah satu ikon keagamaan terbesar di Indonesia. Bagaimana insiden ini terjadi, apa dampaknya terhadap operasional masjid, dan langkah apa yang diambil untuk memastikan keamanan jamaah dan sistem?
Peristiwa kebakaran di ruang server Masjid Istiqlal terjadi tepat di momen krusial pelaksanaan ibadah salat Tarawih, sebuah tradisi yang dinanti-nantikan oleh ribuan jamaah. Laporan awal diterima oleh Pos Pemadam Kebakaran Unit Istiqlal, yang kemudian segera mengerahkan personel dan peralatan. Menurut keterangan Muhammad Ramdan, seorang petugas pemadam yang berada di lokasi, setibanya tim di tempat kejadian, ruangan server sudah dipenuhi oleh asap yang sangat pekat. Meskipun demikian, masih terdeteksi adanya satu titik api yang menyala di bagian bawah ruangan.
“Pihak security dari Masjid Istiqlal datang ke pos kita menginformasikan bahwa ada terjadi kebakaran di ruang server. Nah, ketika kita datang, sudah dipenuhi dengan asap. Namun masih ada satu titik api di bawah masih menyala, dan kita padamkan dengan APAR,” ujar Ramdan kepada awak media yang meliput di lokasi kejadian. Keterangan ini mengindikasikan bahwa respons awal dari pihak internal masjid dan tim pemadam kebakaran berjalan dengan sigap. Penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) menjadi langkah pertama yang krusial dalam upaya penanganan awal sebelum api berpotensi membesar dan menimbulkan kerugian yang lebih signifikan.
Kondisi asap yang begitu pekat memaksa petugas pemadam kebakaran untuk menggunakan perlengkapan pelindung diri yang memadai, termasuk Self Contained Breathing Apparatus (SCBA). Alat ini sangat penting untuk memastikan pasokan oksigen yang cukup bagi petugas saat bertugas di lingkungan yang minim udara bersih. “Titik api sekitar setengah meter ini nyala di bawah, kita padamkan dengan APAR. Asap pekat sekali memang, enggak bisa kita masuk tanpa alat pernapasan,” jelas Ramdan lebih lanjut, menggambarkan tingkat keparahan asap yang menyelimuti ruangan tersebut. Bau asap yang menyengat juga dilaporkan tercium hingga ke area lobi masjid, menandakan intensitas asap yang cukup tinggi.
Pantauan langsung di lokasi menunjukkan kehadiran berbagai unsur, termasuk manajemen Masjid Istiqlal, petugas pemadam kebakaran, aparat kepolisian, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kehadiran tim INAFIS (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System) pada sekitar pukul 21.25 WIB mengindikasikan adanya investigasi lebih lanjut untuk menentukan penyebab pasti kebakaran. Sementara itu, Agus, seorang petugas dari Dinas Gulkarmat (Gugus Tugas Kebakaran dan Penyelamatan) Jakarta Pusat, memberikan keterangan awal mengenai dugaan sumber api. Menurutnya, objek yang terbakar diduga berasal dari bagian bawah panel listrik dan baterai Uninterruptible Power Supply (UPS).
“Yang terbakar sepertinya karena itu di bawah kayaknya sudah lelehan dari panel di atas. Baterai UPS. UPS itu buat backup kalau terjadi drop listrik,” ungkap Agus. UPS merupakan perangkat krusial yang berfungsi sebagai cadangan daya listrik ketika terjadi pemadaman atau penurunan tegangan listrik mendadak. Perangkat ini sangat vital untuk menjaga kelangsungan operasional sistem elektronik, termasuk server, agar tidak mati secara tiba-tiba yang dapat menyebabkan kerusakan data atau perangkat keras. Namun, Agus juga menegaskan bahwa penyebab pasti kebakaran masih dalam tahap penyelidikan dan belum dapat dipastikan.
Meskipun demikian, terdapat kabar baik mengenai dampak kebakaran. Agus memastikan bahwa api tidak merembet ke ruangan lain di dalam kompleks Masjid Istiqlal. “Enggak, itu aman. Hanya di server, ruang server. CCTV aman, enggak ada yang terbakar sama sekali,” tegasnya. Pernyataan ini sangat melegakan, mengingat pentingnya sistem CCTV dalam menjaga keamanan dan ketertiban di area masjid yang luas. Laporan resmi mengenai kebakaran diterima pada pukul 20.40 WIB, dan hanya dalam kurun waktu lima menit, tepatnya pukul 20.45 WIB, api dilaporkan berhasil dipadamkan. Kecepatan respons ini sangat terbantu oleh lokasi pos pemadam kebakaran yang strategis, yaitu berada di dalam lingkungan Masjid Istiqlal.
Kondisi saat ini dinyatakan aman, dan seluruh asap telah berhasil dikeluarkan dari ruangan server. “Sudah enggak ada [asap], sudah aman semuanya. Response time kita cepat karena pos kita dekat di sini, ada di lingkup Istiqlal juga,” pungkas Agus. Insiden ini, meskipun sempat menimbulkan kekhawatiran, tidak sampai mengganggu jalannya ibadah salat Tarawih bagi para jamaah. Hal ini menunjukkan ketangguhan sistem manajemen krisis di Masjid Istiqlal dan koordinasi yang baik antarlembaga terkait. Keamanan dan kenyamanan jamaah tetap menjadi prioritas utama, bahkan di tengah situasi darurat seperti ini. Pihak pengelola masjid diharapkan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan dan infrastruktur di ruang server untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

















