Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengklaim bahwa genangan banjir yang sempat merendam ratusan Rukun Tetangga (RT) dan sejumlah ruas jalan utama di Ibu Kota pada Jumat, 20 Februari 2026, telah berhasil surut dalam waktu yang sangat singkat. Klaim ini muncul sebagai respons terhadap laporan adanya ratusan RT yang tergenang air akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pramono Anung menyatakan bahwa sebagian besar area yang tergenang, termasuk jalan-jalan protokol, telah kembali kering dalam kurun waktu kurang dari dua jam, bahkan ada yang hanya memakan waktu satu setengah jam. Penanganan cepat ini menjadi sorotan utama dalam upaya Pemprov DKI Jakarta dalam meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi yang kerap melanda ibu kota.
Pramono Anung secara spesifik menanggapi laporan mengenai 123 RT dan 9 ruas jalan yang terdampak genangan pada Jumat siang. Ia menegaskan bahwa tim Pemprov DKI Jakarta telah bergerak sigap sejak pagi hari untuk memantau dan menangani situasi banjir. “Dari tadi pagi saya mengurusi banjir. Tapi tidak begitu lama, tidak lebih dari satu setengah hingga dua jam, hampir semua jalan sudah kering,” ujar Pramono saat ditemui di Jakarta Selatan pada Jumat sore. Pernyataan ini menunjukkan tingkat kepercayaan diri Gubernur terhadap efektivitas sistem penanganan banjir yang telah disiapkan oleh pemerintah provinsi. Ia juga menekankan bahwa pemantauan dilakukan secara intensif, bahkan ia secara pribadi mengontrol langsung kondisi di lapangan, termasuk di beberapa titik krusial yang rawan terdampak banjir.
Evaluasi Dampak Banjir dan Respons Pemerintah
Sebelumnya, data yang dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta menunjukkan gambaran yang sedikit berbeda mengenai skala dan durasi banjir. Hingga pukul 09.00 WIB pada Jumat pagi, BPBD melaporkan sedikitnya 90 RT dan enam ruas jalan terendam banjir. Namun, jumlah ini dilaporkan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Pada siang hari, BPBD mencatat peningkatan signifikan menjadi 123 RT dan sembilan ruas jalan yang terdampak genangan. Puncak laporan BPBD terjadi pada pukul 18.00 WIB, di mana tercatat 127 RT dan enam ruas jalan masih mengalami dampak banjir. Salah satu titik yang dilaporkan masih terendam adalah Jalan Daan Mogot, tepatnya di area pabrik gelas, Kelurahan Rawa Buaya, Jakarta Barat, dengan ketinggian air mencapai 20 cm. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada klaim surut cepat, beberapa area masih memerlukan perhatian lebih lanjut.
Menanggapi laporan banjir di kawasan Kebon Pala yang disebut-sebut mencapai ketinggian 1,5 meter pada Jumat sore, 20 Februari 2026, Pramono Anung menyatakan telah berkomunikasi langsung dengan Kepala Dinas Sumber Daya Air. Hal ini mengindikasikan bahwa Pemprov DKI Jakarta berupaya untuk mendapatkan informasi terkini dan melakukan koordinasi lintas dinas untuk menangani titik-titik banjir yang paling parah. Ketinggian air yang signifikan di Kebon Pala tentu menjadi perhatian serius, mengingat potensi dampak yang lebih besar terhadap permukiman warga.
Faktor Pemicu dan Strategi Penanganan Banjir
Gubernur Pramono Anung menjelaskan bahwa penyebab utama terjadinya genangan banjir di Jakarta pada hari tersebut adalah tingginya curah hujan yang terjadi di wilayah hulu, khususnya di daerah Tangerang dan Tangerang Selatan. Air kiriman dari wilayah hulu inilah yang kemudian masuk ke Jakarta dan menyebabkan peningkatan debit air di sungai-sungai yang melintasi ibu kota. “Memang sekarang ini yang terjadi di Jakarta karena curah hujan tinggi di atas. Itu yang menyebabkan ada beberapa terjadi genangan,” ujar Pramono. Fenomena ini menegaskan bahwa banjir di Jakarta seringkali merupakan luapan dari sistem hidrologi yang lebih luas, yang berarti penanganan tidak hanya bisa dilakukan di tingkat kota, tetapi juga memerlukan sinergi dengan daerah penyangga.
Untuk mengantisipasi dan mempercepat proses surutnya genangan, pemerintah telah mengimplementasikan berbagai strategi. Salah satu yang paling krusial adalah penyiapan dan pengoperasian pompa air di sejumlah titik strategis. Pompa-pompa ini berfungsi untuk menyedot air yang menggenang dan mengalirkannya ke saluran pembuangan yang lebih besar atau langsung ke sungai. Pramono Anung juga mengungkapkan optimisme bahwa banjir tidak akan berlangsung lama, terutama karena kondisi laut saat itu tidak sedang mengalami pasang atau rob. Kondisi laut yang relatif surut ini sangat penting karena memungkinkan aliran air dari daratan ke laut berjalan lancar, sehingga debit air yang meningkat akibat kiriman dari hulu dapat segera tertangani dan dikeluarkan dari wilayah Jakarta.
Lebih lanjut, upaya penanganan banjir di Jakarta terus berkembang dan beradaptasi dengan tantangan yang ada. Meskipun klaim surut cepat menjadi sorotan, penting untuk dicatat bahwa efektivitas strategi penanganan banjir sangat bergantung pada berbagai faktor, termasuk intensitas hujan, kapasitas infrastruktur drainase, serta kesigapan tim penanganan bencana. Berbagai inovasi dan perbaikan infrastruktur, seperti normalisasi sungai dan pembangunan sistem polder, terus diupayakan untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap banjir. Namun, isu banjir di Jakarta tetap menjadi topik yang kompleks dan memerlukan solusi jangka panjang yang komprehensif, melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan perencanaan tata ruang yang matang.

















