Sebuah tragedi memilukan mengguncang Kota Tual, Maluku, pada Kamis pagi, 19 Februari. Arianto Tawakal, seorang pelajar Madrasah Aliyah berusia 14 tahun, meregang nyawa secara tragis setelah diduga kuat menjadi korban pemukulan brutal menggunakan helm oleh seorang oknum anggota Brimob. Insiden fatal ini terjadi di ruas jalan menurun kawasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Maren, memicu gelombang kemarahan dan duka mendalam di kalangan keluarga serta masyarakat. Peristiwa nahas ini tidak hanya menyoroti dugaan pelanggaran prosedur penegakan hukum, tetapi juga memicu seruan lantang untuk keadilan dan akuntabilitas aparat kepolisian.
Kronologi kejadian yang terekam dalam ingatan Nasri Karim (15), kakak kandung korban yang turut berada di lokasi, menggambarkan detik-detik mengerikan tersebut. Pagi itu, Arianto dan Nasri sedang berboncengan melintasi jalan menurun usai berputar arah dari sekitar area RSUD Maren. Menurut kesaksian Nasri, mereka melaju dengan kecepatan yang wajar, dipengaruhi oleh kontur jalan yang menurun. Namun, di waktu yang bersamaan, muncul dugaan adanya rombongan kendaraan lain yang melintas kencang dan disinyalir terlibat dalam aktivitas balap liar. Nasri dengan tegas membantah keterlibatan mereka dalam balap liar tersebut, menekankan bahwa laju motor mereka semata-mata karena kondisi geografis jalan.
“Kami jalan sendiri. Dari arah rumah sakit Maren kami putar balik. Memang posisi turunan jadi motor agak laju. Adik sudah bilang ada polisi di depan,” ujar Nasri, mengulang kembali percakapan terakhirnya dengan sang adik. Perkataan Arianto itu menjadi firasat buruk yang segera terbukti. Sesaat sebelum mereka tiba di titik turunan yang curam, seorang anggota Brimob yang kemudian teridentifikasi sebagai Bripda Masias Siahaya, terlihat memantau situasi dari pinggir jalan. Tanpa peringatan atau upaya penghentian yang sesuai prosedur, Bripda Siahaya tiba-tiba melompat dari balik sebuah pohon. Dalam gerakan cepat dan penuh kekerasan, ia langsung mengayunkan helm yang dikenakannya. Ayunan helm itu menghantam tepat di wajah Arianto Tawakal, seketika mengubah jalannya peristiwa menjadi tragedi.

















