Flores Timur, Nusa Tenggara Timur – Sebuah kabar melegakan datang dari lereng Gunung Lewotobi Laki-laki, salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Pada Jumat, 20 Februari 2026, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi menurunkan status aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada). Keputusan krusial ini diambil setelah gunung yang berlokasi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, tersebut menunjukkan penurunan signifikan dalam aktivitas vulkaniknya dan tidak lagi mengalami erupsi selama lima bulan terakhir, terhitung sejak letusan terakhirnya pada September 2025. Penurunan status ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap data visual, instrumental, serta parameter kegempaan dan deformasi, yang secara kolektif mengindikasikan melandainya tekanan dari dalam perut bumi.
Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa evaluasi komprehensif telah dilakukan terhadap seluruh parameter yang dipantau. “Secara keseluruhan, parameter visual, seismik, dan deformasi menunjukkan Gunung Lewotobi Laki-laki selama Januari-Februari 2026 didominasi oleh dinamika fluida dangkal atau hidrotermal yang bersifat fluktuatif,” terang Lana dalam keterangannya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pergerakan fluida, baik air maupun gas di bawah permukaan dangkal, menjadi faktor utama aktivitas yang terekam, bukan pergerakan magma yang signifikan dari kedalaman. Penurunan aktivitas vulkanik yang signifikan ini telah diamati secara konsisten sejak awal tahun 2026, memperkuat keyakinan Badan Geologi untuk menyesuaikan tingkat kewaspadaan.
Analisis Kegempaan: Indikator Penurunan Aktivitas Vulkanik yang Mendasari
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Badan Geologi ESDM, mengumpulkan data kegempaan yang sangat detail sebagai dasar pengambilan keputusan. Pada periode pengamatan 12-19 Februari 2026, tercatat beberapa jenis gempa dengan frekuensi yang bervariasi: lima kali gempa guguran, 11 kali gempa embusan, 114 kali gempa tremor nonharmonik, sekali gempa tornillo, 90 kali gempa low frequency (LF), 22 kali gempa vulkanik dalam, tujuh kali gempa tektonik lokal, 28 kali gempa tektonik jauh, dan tiga kali getaran banjir lahar. Lana Saria menegaskan, “Periode pengamatan Januari hingga Februari 2026, aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki menunjukkan kecenderungan penurunan yang signifikan. Parameter kegempaan memperlihatkan tren penurunan secara bertahap dalam satu bulan terakhir.” Penurunan ini menjadi kunci utama dalam keputusan perubahan status.
Aktivitas kegempaan Gunung Lewotobi Laki-laki pada periode Januari hingga pertengahan Februari 2026 didominasi oleh gempa tremor nonharmonik dan gempa low frequency (LF) dengan jumlah harian yang fluktuatif. Gempa tremor nonharmonik umumnya dikaitkan dengan pergerakan fluida, seperti gas atau air, dalam sistem hidrotermal dangkal. Sementara itu, gempa low frequency sering kali mengindikasikan pergerakan fluida kental atau magma pada kedalaman yang relatif dangkal. Meskipun sempat terekam peningkatan LF pada beberapa stasiun pemantauan, bahkan mencapai amplitudo tinggi (overscale) pada beberapa kejadian, peningkatan ini tidak disertai dengan kenaikan gempa vulkanik dalam maupun vulkanik dangkal, serta tidak diikuti oleh inflasi deformasi (pengembangan tubuh gunung). Ketiadaan indikator-indikator ini sangat penting, karena gempa vulkanik dalam dan dangkal, serta inflasi, adalah tanda-tanda kuat pergerakan magma menuju permukaan.
Lana Saria lebih lanjut menjelaskan bahwa dengan kondisi hujan lebat yang terjadi dalam satu minggu terakhir, peningkatan gempa low frequency tersebut lebih konsisten dengan respons hidrotermal dangkal akibat infiltrasi air hujan ke dalam sistem gunung api. Air yang meresap dapat memicu pergerakan fluida di bawah permukaan, menghasilkan sinyal seismik LF tanpa melibatkan pergerakan magma yang signifikan. Selain itu, tercatat satu kejadian gempa tornillo pada 13 Februari 2026. Gempa tornillo adalah jenis gempa yang dihasilkan oleh resonansi fluida dalam saluran sempit di bawah gunung api, seringkali terkait dengan pergerakan gas atau uap air.
Secara lebih spesifik, gempa vulkanik dalam tercatat dalam jumlah yang rendah dan relatif stabil, tanpa menunjukkan tren peningkatan progresif. Kondisi ini merupakan indikasi kuat bahwa tekanan dari kedalaman, yang biasanya disebabkan oleh akumulasi atau pergerakan magma, tidak mengalami peningkatan signifikan. Lebih lanjut, yang menjadi poin krusial adalah tidak teramatinya gempa vulkanik dangkal. Gempa vulkanik dangkal adalah indikator utama adanya bukaan rekahan baru atau migrasi magma menuju zona dangkal, yang seringkali menjadi prekursor erupsi. Berdasarkan pola historis aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki, peningkatan signifikan gempa vulkanik dangkal umumnya berasosiasi dengan peningkatan aktivitas erupsi. “Nihilnya gempa vulkanik dangkal merupakan indikator bahwa sistem dangkal tidak berada dalam kondisi persiapan erupsi,” ucap Lana, memberikan kepastian mengenai stabilitas internal gunung saat ini.
Imbauan dan Kewaspadaan Berkelanjutan bagi Masyarakat
Meskipun status Gunung Lewotobi Laki-laki telah diturunkan ke Level II (Waspada) yang berarti risiko erupsi telah berkurang, Badan Geologi tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah. Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi. Batas aman ini ditetapkan untuk memastikan keselamatan warga dari potensi bahaya yang mungkin masih ada, meskipun kecil. Selain itu, warga di sekitar gunung tetap diminta untuk tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah setempat serta informasi resmi dari BPBD dan PVMBG. Kewaspadaan juga harus ditingkatkan terhadap potensi bahaya sekunder, khususnya banjir lahar. Masyarakat di sekitar wilayah rawan bencana, terutama yang tinggal di daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Lewotobi Laki-laki, seperti di Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen, diimbau untuk mewaspadai potensi banjir lahar apabila terjadi hujan lebat. Material vulkanik yang menumpuk di lereng gunung masih berpotensi terbawa air hujan dan membentuk aliran lahar dingin yang dapat mengancam permukiman di bawahnya. Penurunan status ini membawa angin segar, namun kewaspadaan adalah kunci untuk menjaga keselamatan dan mitigasi risiko di masa mendatang.
















