Dalam sebuah pertarungan sengit yang penuh drama dan strategi, Persija Jakarta berhasil mengamankan kemenangan krusial 2-1 atas PSM Makassar pada pekan ke-22 BRI Super League 2025/2026. Laga yang dihelat di stadion megah Jakarta International Stadium (JIS) pada Jumat, 20 Februari 2026 malam WIB, menjadi saksi bisu kebangkitan ‘Macan Kemayoran’ yang mampu mengatasi badai cedera dan akumulasi kartu pemain kunci. Kemenangan ini tidak hanya mengukuhkan posisi Persija di papan atas, melainkan juga menempatkan mereka di peringkat kedua klasemen sementara, menempel ketat pemuncak liga, sekaligus memberikan respons tegas terhadap keraguan yang sempat muncul.
Pertandingan ini sejak awal sudah diprediksi akan berjalan ketat, mengingat kedua tim memiliki ambisi besar di liga. Bagi Persija, tiga poin di kandang adalah harga mati untuk menjaga asa juara dan terus memberikan tekanan kepada tim-tim di atasnya. Sementara itu, PSM Makassar datang dengan misi bangkit setelah menelan kekalahan beruntun, berupaya mencuri poin di markas lawan untuk memperbaiki posisi mereka di tabel klasemen. Atmosfer di JIS malam itu begitu membara, dengan ribuan suporter setia Persija yang tak henti-hentinya memberikan dukungan, menciptakan tekanan psikologis bagi tim tamu.
Menghadapi Badai Absensi: Ujian Kedalaman Skuad Mauricio Souza
Persija Jakarta memasuki laga krusial ini dengan tantangan serius di lini pertahanan. Dua pilar utama yang selama ini menjadi tembok kokoh di jantung pertahanan tim, Rizky Ridho dan Paulo Ricardo, dipastikan absen. Rizky Ridho, bek tangguh yang juga sering menjadi andalan tim nasional, harus menepi karena akumulasi kartu kuning. Kehilangan Ridho tentu meninggalkan lubang besar, mengingat kemampuannya dalam membaca permainan, tekel bersih, dan kepemimpinannya di lapangan. Absensinya memaksa pelatih untuk mencari alternatif yang sepadan untuk mengisi posisi vital tersebut.
Tak hanya Ridho, Persija juga harus kehilangan bek asing andalan mereka, Paulo Ricardo, yang didera cedera hamstring. Cedera ini datang di waktu yang kurang tepat, menambah daftar panjang masalah di lini belakang ‘Macan Kemayoran’. Ricardo dikenal dengan postur tubuhnya yang tinggi, keunggulan dalam duel udara, serta ketenangannya dalam mengawal pertahanan. Absennya duo “tembok tangguh” ini tentu saja menjadi perhatian utama bagi pelatih Mauricio Souza. Namun, Souza, dengan filosofi kepelatihannya yang tegas, menegaskan bahwa tidak ada jaminan tempat bagi siapa pun di timnya. Ia selalu percaya pada kedalaman skuad dan kemampuan setiap pemain untuk tampil maksimal, terlepas dari siapa yang absen. Pernyataan ini menjadi motivasi tersendiri bagi pemain pelapis untuk membuktikan kualitas mereka dan menjawab kepercayaan pelatih di hadapan publik Jakarta International Stadium.
Kepercayaan Souza pada kedalaman skuadnya terbukti bukan sekadar retorika. Ia harus melakukan penyesuaian taktik yang signifikan, mungkin dengan menggeser posisi pemain atau memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk unjuk gigi. Keputusan ini menunjukkan keberanian dan keyakinan Souza bahwa sistem permainan tim lebih penting daripada individu, dan bahwa setiap pemain dalam daftar skuad memiliki peran penting. Strategi ini menjadi kunci bagaimana Persija mampu tetap solid di lini belakang, meskipun tanpa dua bek inti mereka, dan mampu meredam gempuran serangan PSM Makassar.
Duo Brasil Penentu Kemenangan: Ketajaman Maxwell Souza dan Kreativitas Allano Lima
Di tengah absennya dua pilar pertahanan, kekuatan ofensif Persija justru tampil memukau dan menjadi kunci kemenangan. Sorotan utama tertuju pada duo Brasil yang menjadi motor serangan ‘Macan Kemayoran’: Maxwell Souza dan Allano Lima. Maxwell Souza, penyerang tajam yang telah membuktikan kualitasnya sepanjang musim, datang ke pertandingan ini dengan status top skor sementara liga, mengoleksi 12 gol. Kepercayaan dirinya sedang berada di puncak, dan ia siap untuk menambah pundi-pundi golnya serta membawa Persija mengamankan tiga poin di kandang. Insting golnya yang mematikan, kemampuan menempatkan diri, dan penyelesaian akhir yang klinis menjadikannya momok menakutkan bagi setiap lini pertahanan lawan.
Allano Lima, dengan enam golnya, melengkapi duet maut ini. Ia dikenal dengan kecepatan, dribel lincah, serta visi bermain yang apik dalam menciptakan peluang. Lima bukan hanya seorang pencetak gol, tetapi juga seorang kreator serangan yang mampu membuka ruang dan memberikan umpan-umpan terukur. Duet Maxwell dan Allano menjadi ancaman utama yang harus diwaspadai oleh PSM Makassar, bahkan beberapa referensi menyebutkan bahwa PSM “wajib waspadai duo Brasil” ini. Kombinasi ketajaman Maxwell dan kreativitas Allano menciptakan dinamika serangan yang sulit diprediksi, memaksa pertahanan lawan untuk bekerja ekstra keras. Keduanya menunjukkan performa yang konsisten dan menjadi andalan utama Mauricio Souza dalam merobek jala lawan.
Jalannya Pertandingan dan Gol Dramatis Penentu
Pertandingan di JIS berlangsung intens sejak peluit kick-off dibunyikan. Babak pertama berjalan sangat ketat, dengan kedua tim saling melancarkan serangan dan menunjukkan pertahanan yang solid. Persija berhasil memecah kebuntuan lebih dulu melalui gol yang dicetak oleh Alaeddine Ajaraie pada menit ke-30. Gol ini memicu euforia di tribun JIS, namun keunggulan tersebut tidak bertahan lama. PSM Makassar berhasil menyamakan kedudukan, dan skor 1-1 bertahan hingga turun minum, menggambarkan betapa berimbang dan sengitnya paruh pertama pertandingan.
Memasuki babak kedua, Persija meningkatkan intensitas serangan mereka, mencari celah di pertahanan PSM. Kerja keras ‘Macan Kemayoran’ akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-67. Maxwell Souza, sang top skor, kembali menunjukkan magisnya dengan mencetak gol penentu kemenangan. Gol ini bukan sekadar gol biasa, melainkan sebuah “gol dramatis” yang mengubah arah pertandingan dan memberikan keunggulan 2-1 bagi Persija. Gol tersebut menjadi bukti nyata betapa pentingnya peran Maxwell Souza dalam tim, terutama di momen-momen krusial. Keunggulan ini berhasil dipertahankan Persija hingga peluit panjang dibunyikan, memastikan tiga poin penting tetap berada di Jakarta.
Implikasi Kemenangan dan Proyeksi Masa Depan
Kemenangan 2-1 atas PSM Makassar ini memiliki implikasi besar bagi Persija Jakarta. Selain mengamankan tiga poin di kandang, hasil ini juga mengangkat posisi ‘Macan Kemayoran’ ke peringkat kedua klasemen sementara BRI Super League 2025/2026. Mereka kini menempel ketat pemuncak klasemen, menjaga asa untuk merebut gelar juara di akhir musim. Kemenangan ini juga menjadi bukti nyata keberhasilan strategi Mauricio Souza dalam mengatasi krisis pemain kunci, menunjukkan bahwa kedalaman skuad dan kepercayaan pada setiap individu adalah fondasi utama kesuksesan tim.
Di sisi lain, bagi PSM Makassar, kekalahan ini menjadi pukulan telak. Ini adalah kekalahan kedua beruntun mereka di Super League, yang tentu saja akan mempengaruhi moral dan posisi mereka di klasemen. Pelatih Tomas Trucha kini memiliki tugas berat untuk membangkitkan semangat pasukannya dan mencari solusi untuk kembali ke jalur kemenangan. Kemenangan Persija ini tidak hanya sekadar hasil pertandingan, melainkan sebuah pernyataan kuat tentang ketahanan, strategi yang matang, dan kualitas individu pemain yang mampu bersinar di bawah tekanan. ‘Macan Kemayoran’ telah menunjukkan bahwa mereka adalah salah satu kekuatan yang patut diperhitungkan dalam perburuan gelar juara musim ini.

















