Di tengah bayang-bayang eksekusi mati yang menghantui koridor hukum Indonesia, pengacara kondang Hotman Paris Hutapea secara resmi menyatakan kesiapannya untuk terjun langsung membela Fandi Ramadhan, seorang Anak Buah Kapal (ABK) yang terjerat dalam skandal penyelundupan narkotika berskala internasional. Kasus yang mengguncang publik ini bermula dari penangkapan kapal Sea Dragon di perairan Karimun pada Mei 2025, di mana aparat berhasil mengamankan barang bukti berupa sabu seberat 1.995.130 gram atau hampir mencapai dua ton. Fandi, yang kini menghadapi tuntutan pidana mati di Pengadilan Negeri Batam, menjadi sorotan utama setelah pihak keluarga mengklaim adanya ketidaktahuan total dari sang pemuda mengenai muatan haram yang dibawanya, memicu perdebatan hukum mengenai batasan tanggung jawab seorang pekerja kasar di atas kapal dalam sindikat peredaran gelap narkotika.
Suasana mencekam dan penuh haru menyelimuti ruang sidang Pengadilan Negeri Batam pada tanggal 5 Februari 2026, saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan tuntutan maksimal bagi enam terdakwa yang terlibat dalam kasus ini. Keenam terdakwa tersebut terdiri dari empat warga negara Indonesia, termasuk Fandi Ramadhan, serta dua warga negara asal Thailand yang diduga menjadi bagian dari jaringan distribusi narkoba lintas negara. Penuntutan hukuman mati ini didasarkan pada besarnya volume narkotika yang diselundupkan, yang dinilai dapat merusak jutaan generasi muda Indonesia. Namun, di balik angka-angka statistik barang bukti tersebut, terdapat isak tangis Nirwana, ibunda Fandi, yang memecah keheningan ruang sidang. Ia bersikeras bahwa putranya hanyalah korban keadaan yang terjebak dalam situasi yang tidak ia pahami demi mencari nafkah halal bagi keluarga di Medan, Sumatera Utara.
Kronologi penangkapan yang terjadi pada Mei 2025 menunjukkan betapa rapinya operasi penyelundupan ini dilakukan, namun sekaligus mengungkap posisi rentan para ABK. Kapal Sea Dragon yang dicegat oleh pihak berwenang di perairan strategis Karimun membawa muatan sabu dalam jumlah yang sangat fantastis, yakni hampir dua ton. Fandi Ramadhan sendiri diketahui baru bekerja selama beberapa hari di atas kapal tersebut sebelum penyergapan terjadi. Berdasarkan keterangan keluarga, Fandi menerima pekerjaan tersebut dengan niat murni untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga yang sedang terpuruk serta membiayai pendidikan adik-adiknya yang masih sekolah. Fakta bahwa ia baru bergabung dalam hitungan hari menjadi poin krusial yang akan digunakan tim hukum untuk membuktikan bahwa Fandi tidak memiliki mens rea atau niat jahat, serta tidak memiliki pengetahuan mengenai isi tersembunyi di dalam palka kapal.
Intervensi Hotman Paris: Membedah Keadilan di Tengah Ancaman Hukuman Mati
Keterlibatan Hotman Paris Hutapea dalam kasus ini memberikan babak baru yang penuh tekanan bagi jalannya persidangan. Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat, 20 Februari 2026, Hotman secara terbuka memaparkan alasannya bersedia mendampingi Fandi Ramadhan. Awalnya, advokat senior ini mengaku sempat ragu dan bahkan menolak permintaan netizen untuk ikut campur karena kasus ini berkaitan dengan narkotika, sebuah isu yang sangat sensitif dan biasanya dihindari oleh Hotman kecuali jika ada indikasi ketidakadilan yang nyata. Namun, setelah bertemu langsung dengan Nirwana dan mendengar kesaksian mendalam mengenai latar belakang Fandi, nurani hukum Hotman terusik. Ia menilai bahwa menuntut hukuman mati kepada seorang ABK yang baru bekerja beberapa hari tanpa bukti keterlibatan dalam perencanaan adalah sebuah langkah hukum yang perlu diuji kembali secara kritis.
Hotman Paris menekankan bahwa dalam hukum pidana, seseorang tidak dapat dipidana hanya karena keberadaannya di lokasi kejadian, melainkan harus dibuktikan adanya kesengajaan dan pengetahuan (knowledge) terhadap tindak pidana tersebut. “Saya mendapat banyak pesan agar kasus ini diviralkan, tetapi awalnya saya tidak mau karena terkait narkoba, sampai saya mendengar cerita ibunya,” tegas Hotman di hadapan awak media. Ia menyoroti pola-pola sindikat narkoba yang seringkali memanfaatkan masyarakat ekonomi rendah sebagai “perisai” atau pekerja yang tidak tahu apa-apa untuk membawa barang haram tersebut. Hotman berencana menggunakan pengaruhnya untuk memastikan bahwa fakta-fakta kunci, seperti durasi kerja Fandi dan instruksi yang diterimanya dari sang kapten atau pemilik kapal, benar-benar dipertimbangkan oleh majelis hakim sebelum vonis dijatuhkan.
Upaya Diplomasi Hukum dan Permohonan Kepada Presiden
Selain melakukan pembelaan di ruang sidang, Hotman Paris juga mengambil langkah strategis dengan meminta perhatian dari Presiden Prabowo Subianto terkait kasus yang menimpa Fandi Ramadhan. Langkah ini diambil mengingat ancaman hukuman mati adalah bentuk hukuman paling ekstrem yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi dalam pembuktiannya. Hotman berargumen bahwa negara harus mampu membedakan antara bandar besar, pengendali jaringan, dengan pekerja rendahan yang hanya menjalankan perintah tanpa mengetahui risiko hukum yang mengintai. Melalui gerakan di media sosial dan koordinasi tim hukum, Hotman berupaya membangun opini publik yang sehat agar proses hukum berjalan transparan dan tidak hanya sekadar mengejar target penuntutan maksimal tanpa melihat sisi kemanusiaan dan keadilan substansial.
Tim kuasa hukum Fandi kini tengah mempersiapkan nota pembelaan atau pledoi yang sangat komprehensif untuk menyanggah tuntutan jaksa. Mereka akan menghadirkan saksi-saksi yang dapat memperkuat alibi bahwa Fandi sedang berada dalam tekanan ekonomi dan tidak memiliki rekam jejak kriminal sebelumnya, apalagi keterlibatan dalam jaringan narkoba internasional. Nirwana, sang ibu, terus memanjatkan doa dan berharap agar majelis hakim memiliki keberanian untuk melihat kebenaran di balik tumpukan barang bukti sabu tersebut. “Saya mohon kepada hakim, jaksa, dan pemerintah agar anak saya dibebaskan karena dia tidak tahu barang itu apa,” ujarnya dengan suara bergetar, merujuk pada harapan agar putranya diberikan kesempatan kedua untuk kembali ke tengah keluarga dan melanjutkan perannya sebagai tulang punggung ekonomi.
Pertarungan hukum di Pengadilan Negeri Batam ini diprediksi akan menjadi preseden penting bagi kasus-kasus serupa di masa depan, terutama yang melibatkan pekerja di sektor maritim yang seringkali berada dalam posisi tawar yang lemah. Dengan dukungan penuh dari Hotman Paris, publik kini menantikan apakah keadilan akan berpihak pada fakta-fakta kemanusiaan atau tetap teguh pada tuntutan kaku hukum positif. Sidang pembacaan pledoi yang dijadwalkan dalam waktu dekat akan menjadi penentu nasib Fandi Ramadhan, apakah ia akan berakhir di depan regu tembak atau mendapatkan kebebasannya kembali setelah melewati badai hukum yang hampir merenggut nyawanya.

















